!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Thursday, August 20, 2015

Obama akan bertemu Putin, setelah pencaplokan Krimea

Obama akan bertemu Putin, setelah pencaplokan Krimea


VOA - Presiden Rusia Vladimir Putin bersedia bertemu dengan Presiden Amerika Barack Obama ketika pemimpin Rusia itu mengunjungi Amerika untuk menghadiri sidang umum PBB bulan depan, kata Menteri Luar Negeri Rusia hari Rabu.

Berbicara kepada wartawan di Sevastopol, Krimea, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan bahwa Presiden Putin akan menghadiri sidang ke-70 Majelis Umum PBB, yang dibuka di New York pada 15 September.

Sergei Lavrov mengatakan Presiden Putin bisa bertemu dengan Presiden Obama jika pihak Amerika memberikan isyarat ingin mengadakan pertemuan.

Menurut daftar sementara yang dirilis PBB, Presiden Putin akan berbicara di muka Majelis Umum tanggal 28 September, pada hari-hari pertama perdebatan umum.

Hari Rabu adalah hari kedua kunjungan oleh Presiden Putin dan pejabat tinggi Rusia lainnya ke Krimea, Semenanjung Laut Hitam yang dianeksasi Rusia dari Ukraina tahun lalu.

Berbicara di Sevastopol, markas armada Laut Hitam Rusia, Presiden Putin mengatakan " kekuatan-kekuatan asing" mengancam akan mengacau situasi di semenanjung itu.

Awal pekan ini, Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyebut kunjungan Presiden Putin dan pejabat tinggi Rusia lainnya ke Krimea suatu "tantangan bagi dunia beradab”.

Meski ada perselisihan, Rusia dan AS bisa mencari solusi atas masalah-masalah internasional yang paling sulit dan menghadapi tantangan-tantangan global secara bersama.



Pin It


Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, hubungan antara Moskow dan Washington masih merupakan faktor sangat penting dalam memastikan kestabilan dan keamanan dunia.

Dalam ucapan selamatnya kepada Presiden AS Barack Obama pada Hari Kemerdekaan AS, Sabtu (4/7), Putin mengatakan bahwa meski ada perselisihan, Rusia dan AS bisa mencari solusi atas masalah-masalah internasional yang paling sulit dan menghadapi tantangan-tantangan global secara bersama jika kedua negara terlibat dalam dialog yang didasarkan pada kesetaraan dan sikap saling menghormati kepentingan pihak lain.

Kepada pemerintahan Obama, Putin juga menawarkan kerjasama untuk memerangi ancaman terorisme kelompok militan Negara Islam (ISIS). Menurut Kremlin, Putin telah menugaskan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov untuk mendiskusikan strategi bersama anti-terorisme dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry.

Hubungan AS-Rusia telah mencapai titik terendah sejak era pasca Perang Dingin karena konflik di Ukraina timur dan aneksasi Rusia terhadap Semenanjung Krimea pada 2014.

Rusia semakin menunjukkan sikap bermusuhan dalam pernyataan-pernyataannya mengenai Amerika sejak menuding bahwa sanksi-sanksi Barat yang diberlakukan terhadap Moskow adalah akibat tekanan Amerika terhadap negara-negara Uni Eropa.

Barat menuding Rusia mendukung pemberontakan di Ukraina timur, sebuah pernyataan yang dibantah Rusia. Rusia mengatakan, orang-orang Rusia yang membantu separatis di kawasan Donbas berperang atas kehendak sendiri.

Kepala Staff Militer Gabungan AS mengatakan militer Amerika perlu lebih ulet, inovatif dan terintegrasi serta tetap berdialog dengan negara-negara lain.

Perwira tertinggi militer AS mengatakan bahwa sekalipun angkatan bersenjata Amerika Serikat masih yang terkuat di dunia, negara-negara lain sudah mulai menutup kesenjangan itu.

Saat mengumumkan Strategi Militer Nasional 2015 hari Rabu (1/7), Kepala Staff Militer Gabungan AS, Jenderal Martin Dempsey mengatakan negara-negara lain menanam modal sangat besar untuk kemampuan militer mereka.

Jenderal itu mengatakan bahwa sejak Departemen Pertahanan atau Pentagon menerbitkan strategi militernya yang terakhir tahun 2011, kekacauan di dunia telah meningkat dan sebagian dari kelebihan Amerika atas negara-negara lain telah mulai terkikis. Dempsey mengatakan militer Amerika perlu lebih ulet, inovatif dan terpadu serta tetap berdialog dengan negara-negara lain.

Strategi 2015 menunjukkan bahwa Rusia telah “berkali-kali menunjukkan bahwa negara itu tidak menghormati kedaulatan tetangganya” dan bersedia menggunakan kekuatan militer untuk mencapai sasarannya.

Strategi itu menyatakan “tindakan militer Rusia merongrong keamanan kawasan dengan langsung dan melalui pasukan lain yang diperalatnya,” yang mengacu pada bantuan Rusia bagi separatis di Ukraina timur.

Dokumen itu juga mengatakan program nuklir Iran mengkhawatirkan sekutu-sekutu Amerika di Timur Tengah dan bahwa Iran dengan giat mensponsori kelompok-kelompok teroris di Irak, Lebanon, Suriah dan Yaman.

Strategi itu menyebut Korea Utara “negara yang tidak menghormati hukum” yang mempunyai senjata nuklir dan sedang membuat rudal yang mampu mencapai Amerika Serikat.

Tetapi strategi itu mengatakan China berada di “tingkat yang berbeda” dan mendorong China untuk “menjadi mitra bagi keamanan internasional yang lebih besar.”

Namun, lebih lanjut strategi itu mengemukakan bahwa China dapat menjadi ancaman terhadap Amerika Serikat dan bahwa tindakannya di Laut China Selatan – tempat China memamerkan kekuatan militernya dalam sengketa wilayah dengan negara-negara tetangganya -- adalah “mengkhawatirkan.”
Menhan AS: Tak Ada Keinginan Kembali ke Perang Dingin
Carter mengatakan bahwa meskipun Barat tidak mencari musuh dengan Rusia, Barat akan mempertahankan diri kalau perlu.
Menteri Pertahanan Amerika Ashton Carter mengatakan tidak ada keinginan AS untuk kembali ke Perang Dingin dan melakukan konflik baru dengan Rusia, dan bahwa sanksi ekonomi sudah mulai memberi hasil dalam melawan agresi Rusia di Ukraina.

Ia mengatakan hal tersebut dalam forum di Berlin sebelum pergi hari Selasa (23/6) ke Estonia untuk bertemu dengan para menteri pertahanan Estonia, Latvia dan Lithuania, yang dulu dipaksa masuk Uni Soviet.

Selanjutnya, Menhan Ashton Carter mengatakan, Amerika akan mengandalkan kombinasi sarana militer dan non militer dalam menghadapi agresi Rusia di Ukraina.

Carter mengatakan, Amerika akan menyumbang Pasukan Operasi Khusus, intelijen dan perlengkapan militer ke dalam Pasukan Reaksi Cepat yang baru dibentuk NATO, sebagian untuk membantu Eropa menghadapi tiap agresi Rusia.

Carter akan bertemu dengan para menteri pertahanan NATO hari Rabu dan Kamis di Brussels untuk membicarakan rencana menghadapi Rusia setelah pencaplokan Semenanjung Krimea Ukraina oleh Rusia dan dukungan militernya pada separatis Ukraina.

Carter bermaksud membicarakan usul Amerika untuk mengirim cukup tank dan perlengkapan militer lain untuk memperlengkapi satu brigade untuk latihan dan program latihan lain di Eropa timur.

Pemimpin pertahanan Amerika belum dengan resmi menyetujui gagasan tersebut dan para pejabat belum mengatakan kemana perlengkapan itu akan dikirim, tetapi ada indikasi bahwa Polandia, yang berbatasan dengan Rusia, mungkin satu lokasi.

Carter mengatakan hari Senin bahwa meskipun Barat tidak mencari musuh dengan Rusia, Barat akan mempertahankan diri kalau perlu.

“Ukraina hanyalah satu bagian dari keprihatinan kami yang lebih besar sekarang ini mengenai Rusia. Sebagai tanggapan, kami akan mengambil pendekatan strategis yang kuat tetapi berimbang, pendekatan yang berusaha memastikan Rusia tidak dapat memaksa siapapun untuk kembali ke masa lalu, sementara menyambut dan mendorong Rusia untuk beralih ke masa depan,” kata Carter.



No comments:

Post a Comment