!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Friday, February 20, 2015

Takdir, sesuai Fitrah manusia (freedom of will)

Perjalanan yang belum selesai (216)

(Bagian ke dua ratus enam belas, Depok,Jawa Barat, Indonesia, 20 Februari 2015, 15.54 WIB)





Takdir, sesuai Fitrah manusia (freedom of will)

Semua takdir Allah termasuk rezeki, kematian, dan jodoh manusia, dan gerak semua mahluk sudah ditentukan Allah dalam kitab:"Lauh Mahfuzh" .

Termasuk daun yang jatuh dari dahannya sudah ditetapkan dalam kitab itu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan semua takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”. (HR. Muslim no. 2653).

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Hadid : 22).

Namun seiring dengan Takdir itu Allah menyertakan Takdir itu sesuai dengan fitrah manusia (Feedom of will) yang diberikan pada manusia.

Fitrah manusia adalah butuh makan dan minum agar dia bisa bertahan hidup, kalau dizaman Batu (Era Nabi Adam) manusia tinggal mencari makanan yang memang sudah atas kehendak Allah tumbuh di hutan, kini di zaman modern bila kita memerlukan beras, gandum, singkong, kita harus tanam dulu di sawah/ladang.

Atau kalau kita sebagai buruh/karyawan kita tunggu dulu gajian baru bisa membeli makanan itu. Besarnya gaji tentu saja seberapa besar ke professional anda dihargai.

Banyak firman Allah dan Hadist yang mewajibkan agar setiap muslim untuk bekerja dan belajar secara professional, agar mereka bisa mensyukuri nikmat Allah, agar berbahagia dunia akherat.

Namun kadang ketika rezeki sudah melimpah di kantong kita, kita lupa bersyukur, malah sombong seakan 99 persen rezeki yang dia peroleh adalah semata dari hasil kerja keras dia sendiri, satu persen berasal dari doa. Padahal rezeki 100 persen sudah ditentukan Allah.
Setelah kita jatuh bangkrut dan melarat baru kita menyadari bahwa semua itu sudah ditentukan Allah, namun kesadaran yang telat ini lebih baik, sebelum nyawa di tenggorokan kita diberi kesempatan Allah untuk bertaubat.

Dulu ada seorang bertanya pada Nabi Muhammad bahwa dia sampai usia 60 tahun selalu berbuat maksiat.

Jawab Nabi, kalau kalian Taubat dan iklas menjalankan sisa umur dengan Taubat, beribadah mendekati pada Allah, maka Allah akan mengampuni seluruh dosa-dosa semua.

Sebaliknya bila pada usia itu kamu tetap melanjutkan berbuat maksiat, tidak bertaubat, maka Allah akan mengazab kita bila masuk neraka.

Jangan sampai kita mengulangi sifat sombong dan angkuh Raja Namrud Firaun, karena sangat kaya dan berkuasa hingga mengangkat dirinya sebagai Tuhan.

Raja Namrud Firaun baru menyadari dirinya bukanlah Tuhan, setelah nyawanya sudah sampai di tenggorokan, yang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk Taubat,

Raja Namrud Firaun tewas ditenggelamkan Allah setelah Nabi Musa melalui Malaikat Jibril diperintahkan untuk memukul tongkatnya di tepi laut mati, agar dia bersama pengikutnya menyeberang laut itu, Setelah Nabi Musa dan pengikutnya sampai di tepi pantai seberang, dan Raja Namrud Firaun bersama bala tentaranya baru sampai di tengah laut, dipukul kembali  Tongkat Nabi Musa, sehingga dengan seijin Allah laut menenggelamkan Namrud Firaun dan Pengikutnya di tengah laut mati.

Para peneliti kemudian menemukan mumi Namrud Firaun di salah satu Piramid di mesir.

Setelah di otopsi, para ahli menyimpulkan Namrud tewas akibat tenggelam. Mayatnya pada masa kerajaan Firaun (Raja Ramses) ditemukan rakyat tengah tergeletak di tepi pantai laut Mati.

Kemudian setelah dibawa pada Raja Firaun (Ramses) berikutnya, maka diputuskan mayat Namrud dimumi dan ditaruh di Piramid. Jadi apa yang telah diabadikan Allah di Al Quran, sama persis dengan hasil penelitian para ahli pada abad ke-20 ini, agar menjadi pelajaran bagi manusia yang masih hidup.

Nabi Musa sebelum mengandalkan muzizat Allah, melakukan ikhtiarnya sebagai manusia, yaitu mencoba lari menghindar dari pedangnya Raja Namrud. Jadi Takdir itu dilakukan sesuai fitrah manusia (Freedom of will) yang dikaruniai Allah pada manusia.Tidak bisa kita berdoa, lalu turun makanan di depan mata kita, tanpa adanya ikhtiar usaha kita sendiri untuk mempersiapkan makanan itu.




No comments:

Post a Comment