!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Wednesday, June 17, 2015

Berkah bulan Ramadhan (Puasa)

Perjalanan yang belum selesai (295)

(Bagian ke dua ratus sembilan puluh lima, Depok, Jawa Barat, Indonesia, 15 juni 2015, 16.50 WIB)

Berkah bulan Ramadhan (Puasa)

Mulai Kamis , 18 Juni 2015 ini umat Islam sedunia mulai menyambut awal bulan Ramadhan (bulan Puasa), yang kata Allah adalah bulan yang penuh berkah.
Karena kata Nabi Muhammad , pada bulan inilah turunnya ayat-ayat Al Quran, dan pada bulan inilah seluruh dosa orang yang berpuasa diampuni Allah, dan pada bulan ini juga Allah menakdirkan turunnya malam Lailatulqadar.
Allah dalam firmannya di surah Al Qadr: 1). Sesungguhnya kami telah menurunkan (Al Quran) pada malam kemuliaan. 2). Dan tahukah kamu malam kemuliaan itu. 3). Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan 4). Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan 5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
Agar manusia memperoleh Rahmat dan Hidayah Allah agar bisa masuk surga, Allah menetapkan tiga takdir:
Takdir pertama, takdir umum yang ditulis Allah dalam kitab :
"Lauh Mahfuzh" .

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan semua takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”. (HR. Muslim no. 2653).

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Hadid : 22).
 Dalam kitab ini semua nasib mahluk Allah termasuk daun yang jatuh dari dahannya sudah ditetapkan Allah, termasuk kapan manusia mati, terkena ujian berupa musibah sakit, penderitaan dan berupa ujian diberikan rezeki melimpah.

Kemudian Allah menentukan takdir seumur hidup yang ditulis melalui malaikatnya sejak ruh dihembuskan Allah pada usia janin manusia usia 4 bulan sepuluh hari.

Kemudian Allah menetapkan takdir tahunan yang disebut Malam Lailatul Qadr.
Beberapa hadist (sunnah/al-hikmah)Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Buchori-Muslim menyebutkan kalau malam lailatul qadr itu terjadi pada malam, sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan (Puasa).
Pada malam ini betapa Allah menunjukkan pada Manusia bahwa Allahlah satu-satunya yang memberi rahmat bagi manusia.
Bayangkan saja bila kita beribadah pada malam itu Allah akan beri pahala setara 1000 bulan (82 tahun), padahal usia ummat Muhammad sampai kini rata-rata jarang ada yang lebih 80 tahun.
Pada masa ummat Nabi Nuh ketika malam Lailatul Qadr belum diturunkan, tetapi usia kaum nabi nuh bisa mencapai ribuan tahun.
Itulah anugrah dan karunia yang besar dari Allah untuk ummat Nabi Muhammad, walaupun usia rata-rata ummat Nabi Muhammad jauh lebih pendek (tidak lebih dari rata-rata 80 tahun) tetapi diberikan Allah Rahmat yang luas dan besar.
Tentu saja agar kita memperoleh rahmat Allah agar bisa menemui malam Lailatul Qadr, kita terus berdoa, agar dipertemukan Allah pada malam itu, secara konsisten melaksanakan perintah Allah melalui Al Quran dan Hadist rukun Islam.
Setelah berikrar mengucapkan ;Laillahailaulah Muhammad Rasul Allah (Tiada Tuhan yang wajib disembah, kecuali Allah, dan Muhammad Rasul Allah), kita melaksanakan kewajiban kita sholat lima waktu, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, naik Haji/Umroh bila mampu.
Bila semua itu kita jalankan, dan setiap usai sholat kita melakukan zikir pagi dan petang, selain istighfar kita juga membaca surah Al-Ikhlas 10 kali.
Nabi Muhammad dala sabdanya dia dalam zikirnya usai sholat paling tidak membaca Istighfar 100 kali sehari.
Sedangkan zikir yang selalu diucapkan adalah zikir: Subhanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulilah (Segala puji bagi Allah), Laillahaillaulah (Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah), Allahu Akbar (Allah Maha Besar), Walakhauwalakauwataillabillah (Tiada kekuatan selain Allah yang bisa menolong manusia).
Istighfar (Astagfirullahi allazim) (Ya Allah ampuni lah segala dosa hamba).
Juga dianjurkan membaca salawat Nabi Muhammad: Allahsoliala Muhammad Waalaalisyaidina Muhammad.
Dalam suatu Hadist dijelaskan, kalaulah kalimat Laillahaillaulah (Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah) bila kita taruh pada sebuah timbangan di sebelah kanan, dan seluruh isi tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi ditaruh di timbangan sebelah kiri, maka berat Timbangan sebelah kanan jauh melebihi berat timbangan sebelah kiri.
Dalam Hadist sahih juga dijelaskan kalimat Laillahaillaulah adalah kunci untuk membuka pintu surga.
Namun seperti kunci pada umumnya, setiap kunci memerlukan gerigi agar pintu surga bisa dibuka dengan mudah.
Gerigi kunci itu adalah kita melaksanakan perintah Allah seperti yang ada di dalam Al Quran dan Sunnah, sesuai yang telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad, seperti dijelaskan hadist, sabda nabi Muhammad yang sahih.
Perintah Allah itu seperti melaksanakan rukun Islam, dan cabang-cabang amal saleh yang banyak dijelaskan Allah dan Rasulnya.
Semoga kita termasuk hamba Allah yang mendapat hidayah dan rahmatnya, yang selalu bersyukur ketika diuji Allah dengan limpahan rezeki Allah, dan bersabar ketika Allah mengujinya dengan berbagai musibah (penderitaan kemiskinan, sakit. Dan musibah lain).
Karena kata Allah, Allah bersama orang-orang yang sabar, dan akan memberi pahala tanpa batas kepada orang yang sabar, ketika diuji Allah dengan Musibah sakit.
Sebaliknya Allah akan mencintai orang yang ketika diuji Allah dengan rezeki Allah (seperti harta. Kenikmatan lain) dengan bersyukur kepada Allah, dengan mengeluarkan seluruh hartanya dijalan Allah (untuk nafkah anak istri, untuk membayar zakat, sadakoh anak yatim dan janda miskin, membangun Masjid, sekolah , rumah sakit, dan menyantuni kedua orang tua, dan saudara-saudara yang lagi mengalami ujian berupa musibah kemiskinan, sakit dan musibah lain).
Pada bulan Ramadhan kita dianjurkan banyak melakukan berbagai ibadah, karena ibadah pada bulan Ramadhan Allah lipat gandakan pahalanya, seperti ibadah Umroh bila dilakukan pada bulan Ramadhan pahalanya setara berhaji, kalau sholat di Masjidil Haram pahalanya setara 100.000 kali lipat dibandingkan sholat di tempain pada hari biasa , maka dilipatgandakan pada bulan Ramadhan, begitu juga pahala membaca Al Quran, kalau dihari biasa pahala membaca Al Quran terbata-bata saja dapat dua pahala per satu hurufnya, kalau lancar (mengerti artinya) Malaikat bersama orang yang membacanya, maka pada bulan Ramadhan dilipatgandakan pahalanya.
Jaga baik-baik ibadah puasa Anda, perbanyak ibadah, jauhi berbuat maksiat yang bisa membatalkan puasa dan mendatangkan dosa besar. Tegakkan Rukun Islam, seperti Sholat lima waktu,sholat hukumnya wajib, pahalanya setara 50 rakaat sehari (ingat perintah sholat dalam peristiwa Isra Mirad)



BULAN RAMADHAN ANUGRAH TERAGUNG

Oleh
Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin hafizhahumallâh


Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepada para hamba-Nya nikmat yang sangat banyak dan tidak terhitung. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allâh, kamu tidak akan dapat menghitungnya [Ibrahim/14:34]

Nikmat-nikmat itu ada yang bersifat mutlak dan ada pula yang bersifat muqayyad (terikat); ada yang bersifat keagamaan dan ada pula yang bersifat keduniaan. Allâh Azza wa Jalla menunjukkan para hamba-Nya kepada kenikmatan- kenikmatan tersebut lalu Allâh Azza wa Jalla juga membimbing mereka untuk meraih kenikmatan tersebut. Allâh Azza wa Jalla juga menyeru para hamba untuk masuk ke dalam dâris salâm (surga). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allâh menyeru (manusia) ke dârus salâm (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). [Yûnus/10:25]

Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kesehatan akal dan fisik kepada mereka, memberikan rezeki yang halal, menundukkan untuk mereka apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Semua anugerah ini berasal Allâh Azza wa Jalla diberikan kepada para hamba-Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya, beribadah hanya kepadanya serta tidak menyekutukannya. Dengan melakukan itu semua, mereka akan meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan bisa selamat dari siksa-Nya.

Salah satu contoh nikmat agung yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya yang beriman yaitu disyari'atkannya buat mereka puasa pada bulan yang penuh berkah yaitu Ramadhan. Allâh Azza wa Jalla menjadikan puasa ini sebagai salah satu rukun agama Islam. Oleh karena puasa itu merupakan nikmat agung yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada hamba-Nya, maka Allâh Azza wa Jalla menutup ayat yang mengandung perintah untuk puasa pada bulan ramadhan dengan firman-Nya:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Supaya kamu bersyukur [al-Baqarah/2:185]

Karena bersyukur merupakan tujuan dari penciptaan makhluk dan pemberian beragam kenikmatan.

Hakikat syukur adalah mengakui nikmat tersebut datang dari Allâh Azza wa Jalla dibarengi dengan ketundukan kepada-Nya, merendahkan diri dan mencintai-Nya.

Barangsiapa tidak mengetahui suatu nikmat maka dia tidak bisa bersyukur.
Barangsiapa mengetahui sebuah kenikmatan akan tetapi dia tidak mengetahui Pemberinya maka dia juga tidak akan bisa mensyukurinya.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui Pemberinya namun dia mengingkari kenikmatan tersebut maka itu artinya dia telah kufur terhadap nikmat tersebut.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui Pemberinya dan dia juga mengakui kenikmatan tersebut, hanya saja dia tidak tunduk kepada-Nya, tidak mematuhi-Nya, dan tidak mencintai Pemberinya serta tidak ridha dengan-Nya, maka dia belum dianggap bersyukur.

Barangsiapa mengetahui kenikmatan dan mengetahui pemberinya lalu dia tunduk kepada-Nya, mencintai Permberi nikmat, ridha terhadap-Nya serta menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang dicintai-Nya dan dalam rangka menaati-Nya, maka dialah orang yang dikatakan bisa bersyukur terhadap sebuah kenikmatan.

Dari penjelasan ini, tampak jelas bahwa syukur itu terbangun di atas lima kaidah :

• Ketundukan orang yang bersyukur kepada Allâh
• Mencintai-Nya,
• Mengakui nikmat yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepadanya,
• Memuji-Nya karena Dia telah memberikan nikmat kepadanya,
• Menggunakan nikmat tersebut dalam rangka mentaat-Nya,

Lima hal ini merupakan pondasi syukur. Ketika salah satu dari lima pondasi ini hilang atau tidak ada, maka rasa syukur tersebut tidak dianggap atau nilainya berkurang. Dan semua orang yang berbicara tentang syukur serta pengertiannya, maka perkataannya tidak akan pernah keluar dari lima hal di atas[2].

Dalam upaya merealisasikan rasa syukur ini, manusia atau para hamba Allâh Azza wa Jalla terbagi menjadi berbagai tingkatan tergantung sejauh mana mereka mengenal Pencipta yang Mahaagung, Pemberi nikmat yang Mahamulia. Diantara mereka ada yang memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla secara terperinci, memahami betapa agung ciptaan-Nya dan perbutatan-NYa, mengetahui betapa indah ciptaan Allâh. Orang seperti ini hatinya akan penuh dengan kecintaan kepada Allâh, lisannya akan dipenuhi dengan pujian, anggota badannya akan selalu melakukan hal-hal yang diridhai oleh Allâh. Dia mengakui semua nikmat yang diberikan kepadanya, dan mempergunakannya pada hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla. Diantara manusia juga ada yang tenggelam dalam kelalaian dan kejahilan tentang Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang seperti ini akan semakin jauh dari Allâh Azza wa Jalla dengan sebab pengingkaran yang dia lakukan terhadap nikmat Allâh, atau dia tidak mengingkarinya akan tetapi dia tidak mau tunduk dan patuh terhadap perintah dan syari’at Allâh Azza wa Jalla .

Bulan Ramadhan yang penuh berkah merupakan anugrah ilahi kepada seluruh hamba, agar mereka yang beriman bertambah keimanan mereka, sementara orang-orang yang melampui batas (yang melakukan berbagai pelanggaran-red) serta yang meremehkan syari'ah bisa bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla mengistimewakan bulan ini dengan berbagai kekhususan dan keistimewaan yang tidak ada pada bulan yang lainnya.

Berikut akan disebutkan beberapa keistimewaan bulan ini dengan harapan agar kita bisa bisa memahami betapa agung nikmat bulan Ramadhan ini supaya kita semakin tergerak untuk bersyukur dengan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya.

a. Bulan Ramadhan teristimewa dengan al-Qur’ân, karena pada bulan ini al-Qur’ân diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) [al-Baqarah/2:185]

Dalam ayat tersebut, Allâh Azza wa Jalla menyanjung bulan Ramadhan diantara bulan-bulan lainnya, dengan memilihnya sebagai waktu diturunkannya al-Qur’an, bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa bulan Ramadhân merupakan waktu diturunkan seluruk kitab-kitab Allâh Azza wa Jalla kepada para nabi. Dalam Musnad karya Imam Ahmad dan Mu’jamul Kabîr karya Imam Thabrani dari shahabat Wâtsilah bin ‘Asqa’, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُنْزِلَتِ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

Shuhuf Nabi Ibrâhim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat pada hari keenam bulan Ramadhan, sedangkan Injil pada hari ketiga belas dari bulan Ramadhan, sedangkan al-Qur’ân diturunkan pada hari kedua puluh empat dari bulan Ramadhan[3].

Hadits ini menunjukkan bahwasanya kitab-kitab samawiyah diturunkan kepada para rasul di bulan Ramadhan, hanya saja kitab-kitab itu diturunkan sekaligus (tidak bertahap), sementara al-Qur’ân karena kemulian dan keagungan yang dimilikinya, dia diturunkan sekaligus ke Baitil Izzah di langit dunia (pertama) dan itu terjadi saat lailatul qadar pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'ân) pada malam kemuliaan [al-Qadr/97:1]

Dan firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [ad-Dukhân/44:3]

Kemudian setelah itu, diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap. Ini menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan. Dan bulan ini menjadi istimewa dengan sebab al-Qur’ân, yang mana pada bulan ini ummat manusia mendapakan keutamaan yang besar dari Allâh, yaitu turunnya wahyu Allâh Azza wa Jalla yang membawa hidayah bagi ummat manusia, bagi kebaikan mereka di dunia maupun di akhirat. al-Qur’an juga merupakan pembeda antara petunjuk dan kesesatan, pembeda antara haq dan bathil, antara cahaya dan kegelapan.

b. Bulan Ramadhan menjadi istimewa karena padanya ada lailatul qadar yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar (malam kemuliaan) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [al-Qadr/97:2-3]

Maksudnya adalah amalan yang dilakukan pada saat lailatul qadr lebih baik daripada amalan yang dilakukan pada seribu bulan selain bulan Ramadhan.

c. Bulan Ramadhan menjadi istimewa juga karena ada ibadah puasa. Puasa pada bulan ini bisa menjadi sebab terhapusnya dosa. Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni [4]

Yang dimaksud dengan penuh keimanan adalah keimanan yang penuh kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mengharapkan pahala dan ganjaran dari-Nya, tidak benci terhadap kewajiban puasa serta tidak ragu terhadap pahala yang akan didapatkannya. Orang seperti ini, akan diampuni semua dosa yang telah lalu oleh Allâh Azza wa Jalla. Disebutkan dalam Shahîh Muslim dari shahabat Abi Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّراتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ

Shalat lima waktu, antara Jumat yang satu dengan yang lainnya, dan antara Ramadhan yang satu dengan yang lainnya, dosa diantara semua itu akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla , jika dosa-dosa besar telah dijauhi[5]

Pada bulan ini juga para syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan Allâh Azza wa Jalla pada setiap malam dari bulan Ramadhan membebaskan banyak orang dari api neraka.

d. Pada bulan ini juga Allâh Azza wa Jalla memenangkan kaum Muslimin atas musuh-musuh mereka diperang Badr, padahal jumlah musuh pada saat itu tiga kali lipat dari jumlah kaum Muslimin. Pada bulan ini juga, Allâh Azza wa Jalla menaklukkan kota Mekah melalui tangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mensucikan kota Mekah dari kotoran berhala, dan ada tiga ratus enam puluh patung yang berada di Ka’bah dan sekitarnya. Rasulullah menghancurkan patung-patung tersebut seraya membaca:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah, "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap". Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [al-Isrâ’/17:81]

(Dengan ini semua), maka bulan Ramadhan merupakan bulan untuk bersungguh-sungguh dan bulan untuk beramal, bulan ibadah serta jihad di jalan Allâh.

Dengan keutamaan yang dimiliki oleh bulan ini serta berbagai anugrah yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya yang beriman pada bulan ini, maka sudah selayaknya para hamba mengagungkan bulan ini dan menjadikan bulan ini sebagai momen untuk beribadah serta menambah bekal akhirat.

Ya Allah Azza wa Jalla jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengerti kedudukan dan kehormatan bulan Ramadhan ini! Berikanlah taufiq kepada kami untuk melakukan amalan-amalan yang mendatang ridha-Mu! Sesungguhnya Engkau maha Mendengar doa

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

No comments:

Post a Comment