BNPT: Teroris Geser Target Serangan
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengatakan telah banyak belajar sejak menduduki jabatan tersebut pada 2002. Dalam satu dasawarsa terakhir, Ansyaad telah memimpin penyelidikan atas sejumlah peledakan. Ia pun berupaya mengurai pergeseran di tubuh kelompok Islam radikal yang menjadikan polisi sebagai sasaran serangan.
Masih banyak pelajaran yang dapat dipetik, katanya. Namun, satu hal pasti yang ia pegang: jangan biarkan deretan nama membodohi.
Apapun sebutan yang dipilih oleh pelbagai kelompok garis keras dalam beberapa tahun belakangan, pada dasarnya terdapat kaitan di antara mereka, ujar Ansyaad.
Di masa lalu, kelompok-kelompok tersebut berkoalisi. “Namun, saat tekanan meningkat, mereka memisahkan diri menjadi sel-sel jihad,” ujarnya dalam sebuah wawancara. “Ketika kesempatan tiba, mereka akan kembali berkoalisi.”
Indonesia berhasil menekan banyak bentuk gerakan garis keras di bawah pemerintahan Presiden Suharto. Setelah ia lengser pada 1998, Indonesia dihantam oleh serangkaian serangan teror berskala kecil. Kelompok-kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan mengatakan bahwa tujuan mereka adalah mendirikan negara Islam di tanah air.
Serangan besar pertama yang menarik perhatian internasional adalah peledakan dua klub malam di Bali pada Oktober 2002. Sebanyak 202 orang, yang kebanyakan adalah warga asing, tewas.
Pada 2003, Indonesia membentuk unit khusus antiteror di bawah kepolisian, yakni Detasemen 88, untuk menelusuri aktivitas teroris sekaligus mengakhirinya. Dengan bantuan sejumlah negara, di antaranya Australia dan Amerika Serikat, Indonesia mulai membongkar jaringan Jemaah Islamiyah yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.
Pasukan antiteror telah jauh melemahkan kekuatan JI. Pada 2005, kepolisian menewaskan perakit bom kawakan asal Malaysia, Azahari bin Husin, di Malang, Jawa Timur. Empat tahun kemudian, salah seorang tersangka teroris paling diburu, Noordin Mohammad Top, yang juga berkewarganegaraan Malaysia, ikut tewas. Noordin dan Azahari diduga bersama-sama mempersiapkan Bom Bali I, 2002.
Kematian para petinggi JI membelah organisasi tersebut, ujar Ansyaad. Banyak pengikut kelompok tercerai-berai dan membentuk kelompok-kelompok lain yang lebih kecil seperti Mujahidin Indonesia Barat dan Jemaah Ansharut Tauhid. Nama terakhir dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh AS pada 2012.
Kelompok-kelompok itu tak lagi meluncurkan serangan besar yang membidik warga asing. Namun, mereka terus mengatur sejumlah serangan sporadis di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur, yang umumnya membidik polisi.
Namun, menurut Ansyaad, motivasi mereka sama: “Mendirikan negara Islam di Indonesia melalui tindak kekerasan.”
Menurutnya, cara-cara yang mereka ambil takkan berhasil. Ia bertugas membuktikan teorinya itu – hal yang ia pelajari sejak menerima pencalonan dirinya sebagai kepala BNPT. Kala itu, lembaga antiteror ini masih menjadi salah satu divisi di bawah kementerian koordinator bidang politik, hukum, dan keamanan.
Dalam sebuah wawancara tahun lalu, Ansyaad mengungkap penolakannya ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kala masih menjadi Menko Polkam, memintanya menjabat kepala BNPT.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa saya buta dalam urusan memerangi terorisme,” ujar mantan inspektur jenderal polisi berusia 65 tahun itu. Yudhoyono lantas mengatakan, “Tak satu pun orang di Indonesia yang bisa, tetapi kamu bisa belajar.”|WSJ

No comments:
Post a Comment