!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Monday, March 24, 2014

Pidato Michelle Obama Mencengangkan Cina

Pidato Michelle Obama Mencengangkan Cina

Michelle Obama mengirim pesan tak terduga di Cina. Ibu negara Amerika Serikat (AS) itu menyatakan bahwa kebebasan berbicara, akses akan informasi, serta kesetaraan pendidikan adalah “hak universal.”

Berbicara di depan pelajar dari AS dan Cina di Stanford Center (Peking University) pada Sabtu, Michelle menegaskan bahwa “kebebasan berekspresi dan beribadah, serta memiliki akses terhadap informasi merupakan hak universal, sejak setiap manusia dilahirkan ke Bumi.”

Kalimat yang mencengangkan.

Kunjungan Michelle selama sepekan di Cina digadang-gadang sebagai liburan bersama kedua putri dan ibunya. Lawatannya merupakan bagian dari pendekatan budaya. Bagaimanapun, pejabat pemerintah AS telah lama mencoba mempromosikan nilai-nilai AS saat berkunjung ke Cina, dan kadang bahkan mengkritik Beijing atas kekerasan hak asasi manusia.

Pemerintah Cina memang sedang memperbarui kontrol terhadap internet, media, serta pendidikan. Salah satu tema yang akan dilontarkan Michelle di Cina adalah pendidikan, menurut pejabat Gedung Putih. Sebelum kunjungan ini, beberapa pihak meminta Michelle mengedepankan masalah kebebasan pendidikan serta akses informasi..

Ekonom asal Cina, Xia Yeliang, tahun lalu kehilangan kesempatan mengajar di Peking University. Profesor yang termasuk vokal dalam perpolitikan itu kehilangan posisi lantaran mengekspresikan pandangan liberal. Ia berharap Michelle bisa mengonfrontasi Cina atas kontrol pendidikan. “Sekolah di Cina dan tempat lain mesti bertanya kembali, ‘Apa tujuan pendidikan?’” kata Xia. Menurutnya, pelajar dan mahasiswa Cina tidak mendapat kebebasan yang cukup untuk menjawab hasrat ingin belajar.

Petinggi Cina sejauh ini mencoba mendorong penguatan kreativitas dalam pembelajaran serta memperluas akses pendidikan. Dengan begitu, mereka dapat mempersempit kesenjangan antara kaum pinggiran dan perkotaan. Namun, inovasi dan cara berpikir analitis terhambat persyaratan agar siswa mempelajari Marxisme serta mematuhi otoritas, sebut Xia.

Kalangan atas Cina sanggup menyediakan pendidikan yang baik bagi penerus mereka. Anak-anak orang kaya dikirim belajar ke luar negeri, katanya. “Itu hanya 1%. Bagaimana dengan 99% lainnya,” sahut Xia, yang kini menjadi peneliti tamu di pusat penelitian liberal Cato Institute di Washington DC.

Gardner Bovingdon, associate professor Indiana University di Bloomington, menyatakan seruan kebebasan berpendapat jangan hanya berhenti di Michelle Obama. Yang ia khawatirkan adalah organisasi pendidikan AS. Banyak lembaga pendidikan AS membuka kantor di Cina. Contohnya Stanford Center, tempat Michelle berpidato. Sebagian besar pusat pendidikan itu menginvestasikan uang guna pembangunan kantor baru di Cina, juga menerima mahasiswa Negeri Tirai Bambu. Kampus-kampus ini, kata Bovingdon, tak banyak menentang kontrol Cina.WSJ

No comments:

Post a Comment