![]() |
| Hiroshima di bom atom |
Perjalanan yang belum selesai (44)
(Bagian ke empat puluh empat, Depok, Jawa Barat,
Indonesia, 6 September 2014, 09.23 WIB)
Sebanyak tiga kali saya ke Jepang, pertama tahun 1982,
ketika pertama kali saya keluar negeri, Negara pertama yang saya kunjungi
adalah Jepang, sebelum saya melanjutkan penerbangan ke San Francisco, Amerika
Serikat. Kunjungan kedua akhir tahun 1983, dan ketiga tahun 1995, ketika
meliput pengapalan gas alam cair dari Kilang Bontang, Kalimantan Timur ke Osaka
dan Tokyo.
Saya melihat Jepang adalah negeri yang modern dan maju
serta bersih, khususnya kota Hiroshima dan Nagasaki tidak ada lagi tanda-tanda
kota ini bekas hancur luluh akibat di bom atom oleh Amerika Serikat, akibat
ambisi Jepang yang bersama Jerman dan Italia ingin menguasai dunia.
Jepang sendiri sempat menyerbu Cina, dan menjajah
Indonesia, walau akhirnya menyerah pada sekutu pada saat perang dunia II,
terutama setelah kota Nagasaki dan Hiroshima di bom atom.
Kaisar Hirohito, bersekutu dengan Adolf Hitler (Jerman) dan
Mussolini dari Italia.
Kini Jepang bangkit menjadi Negara terkuat ketiga di
dunia dari segi ekonomi setelah Amerika Serikat dan China.
![]() |
| Hiroshima kini |
Perang Dunia II
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
"PDII" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan
lain, lihat WWII (disambiguasi). Untuk sejarah Winston Churchill, lihat The
Second World War (seri buku).
Perang Dunia II
Infobox collage for WWII.PNG
Searah jarum jam dari kiri atas: Pasukan Tiongkok pada
Pertempuran Wanjialing, Meriam 25-pounder Australia pada Pertempuran El Alamein
Pertama, pesawat pengebom Stuka Jerman di Front Timur musim dingin 1943–1944,
pasukan AL Amerika Serikat di Teluk Lingayen, Wilhelm Keitel menandatangani
Instrumen Penyerahan Diri Jerman, tentara Soviet pada Pertempuran Stalingrad
Tanggal 1
September 1939 – 2 September 1945 (6 tahun, 1 hari)
Lokasi Eropa,
Pasifik, Atlantik, Asia Tenggara, Tiongkok, Timur Tengah, Mediterania dan
Afrika, Amerika Utara
Hasil Kemenangan
Sekutu
Pembubaran Reich Ketiga
Pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kemunculan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai
kekuatan super
Awal Perang Dingin (lainnya...)
Pihak yang terlibat
Sekutu
Uni Soviet
(1941–45)[nb 1]
Amerika Serikat (1941–45)
Imperium Britania
Tiongkok (at war
1937–45)
Perancis[nb 2]
Polandia
Kanada
Australia
Selandia Baru
Afrika Selatan
Yugoslavia
(1941–45)
Yunani (1940–45)
Norwegia (1940–45)
Belanda (1940–45)
Belgia (1940–45)
Cekoslowakia
Brasil (1942–45)
...dan lain-lain
Negara klien dan boneka
Bendera Filipina Filipina (1941–45)
Bendera Mongolia Mongolia (1941–45)
...dan lain-lain
Poros
Jerman
Kekaisaran Jepang
(at war 1937–45)
Italia (1940–43)
Hongaria (1940–45)
Rumania (1941–44)
Bulgaria (1941–44)
Pihak terlibat
Finlandia
(1941–44)
Thailand (1942–45)
Irak (1941)
Negara klien dan boneka
Manchukuo
Republik Sosial
Italia (1943–45)
Kroasia (1941–45)
Slowakia
...dan lain-lain
Komandan
Pemimpin Sekutu
Bendera Britania Raya Winston Churchill
Bendera Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt
Bendera Uni Soviet Joseph Stalin
Bendera Republik Tiongkok Chiang Kai-shek
...dan lain-lain
Pemimpin Poros
Bendera Jerman Nazi Adolf Hitler
Bendera Kekaisaran Jepang Hirohito
Bendera Kerajaan Italia Benito Mussolini
...dan lain-lain
Korban
Korban militer:
Lebih dari 16.000.000
Korban sipil:
Lebih dari 45.000.000
Total korban:
Lebih dari 61.000.000 (1937–45)
...lebih lanjut Korban
militer:
Lebih dari 8.000.000
Korban sipil:
Lebih dari 4.000.000
Total korban:
Lebih dari 12.000.000 (1937–45)
...lebih lanjut
[sembunyikan] v t e
Kampanye selama Perang Dunia II
Eropa
Polandia – Perang Phoney – Finlandia – Denmark & Norwegia
Perancis & Benelux – Britania – Front Timur – Eropa
Baratlaut (1944–45) – Mediterania, Timur Tengah dan Afrika
Asia & Pasifik
Tiongkok – Samudera Pasifik – Asia Tenggara
Pasifik Baratdaya – Jepang – Manchuria (1945)
Kampanye Lainnya
Atlantik – Pengeboman Strategis – Amerika Utara
Perang Kontemporer
Perang Sipil Tiongkok – Perbatasan Soviet-Jepang –
Perancis-Thailand – Ekuador-Peru
Templat:Topik Perang Dunia II
Perang Dunia II, atau Perang Dunia Kedua (biasa disingkat
menjadi PDII atau PD2), adalah sebuah perang global yang berlangsung mulai
tahun 1939 sampai 1945. Perang ini melibatkan banyak sekali negara di dunia
—termasuk semua kekuatan besar—yang pada akhirnya membentuk dua aliansi militer
yang saling bertentangan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terluas
dalam sejarah yang melibatkan lebih dari 100 juta orang di berbagai pasukan
militer. Dalam keadaan "perang total", negara-negara besar memaksimalkan
seluruh kemampuan ekonomi, industri, dan ilmiahnya untuk keperluan perang,
sehingga menghapus perbedaan antara sumber daya sipil dan militer. Ditandai
oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil,
termasuk Holocaust dan pemakaian senjata nuklir dalam peperangan, perang ini
memakan korban jiwa sebanyak 50 juta sampai 70 juta jiwa. Jumlah kematian ini
menjadikan Perang Dunia II konflik paling mematikan sepanjang sejarah umat
manusia.[1]
Kekaisaran Jepang berusaha mendominasi Asia Timur dan
sudah memulai perang dengan Republik Tiongkok pada tahun 1937,[2] tetapi perang
dunia secara umum pecah pada tanggal 1 September 1939 dengan invasi ke Polandia
oleh Jerman yang diikuti serangkaian pernyataan perang terhadap Jerman oleh Perancis
dan Britania. Sejak akhir 1939 hingga awal 1941, dalam serangkaian kampanye dan
perjanjian, Jerman membentuk aliansi Poros bersama Italia, menguasai atau
menaklukkan sebagian besar benua Eropa. Setelah Pakta Molotov–Ribbentrop,
Jerman dan Uni Soviet berpisah dan menganeksasi wilayah negara-negara
tetangganya sendiri di Eropa, termasuk Polandia. Britania Raya, dengan imperium
dan Persemakmurannya, menjadi satu-satunya kekuatan besar Sekutu yang terus
berperang melawan blok Poros, dengan mengadakan pertempuran di Afrika Utara dan
Pertempuran Atlantik. Bulan Juni 1941, Poros Eropa melancarkan invasi terhadap
Uni Soviet yang menandakan terbukanya teater perang darat terbesar sepanjang
sejarah, yang melibatkan sebagian besar pasukan militer Poros sampai akhir
perang. Pada bulan Desember 1941, Jepang bergabung dengan blok Poros, menyerang
Amerika Serikat dan teritori Eropa di Samudra Pasifik, dan dengan cepat
menguasai sebagian besar Pasifik Barat.
Serbuan Poros berhenti tahun 1942, setelah Jepang kalah
dalam berbagai pertempuran laut dan tentara Poros Eropa dikalahkan di Afrika
Utara dan Stalingrad. Pada tahun 1943, melalui serangkaian kekalahan Jerman di
Eropa Timur, invasi Sekutu ke Italia, dan kemenangan Amerika Serikat di
Pasifik, Poros kehilangan inisiatif mereka dan mundur secara strategis di semua
front. Tahun 1944, Sekutu Barat menyerbu Perancis, sementara Uni Soviet merebut
kembali semua teritori yang pernah dicaplok dan menyerbu Jerman beserta
sekutunya. Perang di Eropa berakhir dengan pendudukan Berlin oleh tentara
Soviet dan Polandia dan penyerahan tanpa syarat Jerman pada tanggal 8 Mei 1945.
Sepanjang 1944 dan 1945, Amerika Serikat mengalahkan Angkatan Laut Jepang dan
menduduki beberapa pulau di Pasifik Barat, menjatuhkan bom atom di negara itu menjelang
invasi ke Kepulauan Jepang. Uni Soviet kemudian mengikuti melalui negosiasi
dengan menyatakan perang terhadap Jepang dan menyerbu Manchuria. Kekaisaran
Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945, sehingga mengakhiri perang di
Asia dan memperkuat kemenangan total Sekutu atas Poros.
Perang Dunia II mengubah haluan politik dan struktur
sosial dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan untuk memperkuat kerja
sama internasional dan mencegah konflik-konflik yang akan datang. Para kekuatan
besar yang merupakan pemenang perang—Amerika Serikat, Uni Soviet, Cina,
Britania Raya, dan Perancis—menjadi anggota permanen Dewan Keamanan
Perserikatan Bangsa-Bangsa.[3] Uni Soviet dan Amerika Serikat muncnul sebagai
kekuatan super yang saling bersaing dan mendirikan panggung Perang Dunia yang
kelak bertahan selama 46 tahun selanjutnya. Sementara itu, pengaruh
kekuatan-kekuatan besar Eropa mulai melemah, dan dekolonisasi Asia dan Afrika
dimulai. Kebanyakan negara yang industrinya terkena dampak buruk muali menjlaani
pemulihan ekonomi. Integrasi politik, khususnya di Eropa, muncul sebagai upaya
untuk menstabilkan hubungan pascaperang.
![]() |
| Nagasaki usi di bom atom |
Kronologi
Lihat pula: Garis waktu Perang Dunia II
Awal terjadinya perang umumnya disetujui pada tanggal 1
September 1939, dimulai dengan invasi Jerman ke Polandia; Britania dan Perancis
menyatakan perang terhadap Jerman dua hari kemudian. Tanggal lain mengenai awal
perang ini adalah dimulainya Perang Cina-Jepang Kedua pada 7 Juli 1937.[4][5]
Lainnya mengikuti sejarawan Britania Raya A. J. P.
Taylor, yang percaya bahwa Perang Cina-Jepang dan perang di Eropa beserta
koloninya terjadi bersamaan dan dua perang ini bergabung pada tahun 1941.
Artikel ini memakai penanggalan konvesional. Tanggal-tanggal awal lainnya yang
sering dipakai untuk Perang Dunia II juga meliputi invasi Italia ke Abisinia
pada tanggal 3 Oktober 1935.[6] Sejarawan Britania raya Antony Beevor memandang
awal Perang Dunia Kedua terjadi saat Jepang menyerbu Manchuria bulan Agustus
1939.[7]
Tanggal pasti akhir perang juga tidak disetujui secara
universal. Dari dulu disebutkan bahwa perang berakhir saat gencatan senjata 14
Agustus 1945 (V-J Day), alih-alih penyerahan diri resmi Jepang (2 September
1945); di sejumlah teks sejarah Eropa, perang ini berakhir pada V-E Day (8 Mei
1945). Meski begitu, Perjanjian Damai dengan Jepang baru ditandatangani pada
tahun 1951,[8] dan dengan Jerman pada tahun 1990.[9]
Latar belakang[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Penyebab Perang
Dunia II
Perang Dunia I membuat perubahan besar pada peta politik,
dengan kekalahan Blok Sentral, termasuk Austria-Hongaria, Jerman, dan
Kesultanan Utsmaniyah; dan perebutan kekuasaan oleh Bolshevik di Rusia pada
tahun 1917. Sementara itu, negara-negara Sekutu yang menang seperti Perancis,
Belgia, Italia, Yunani, dan Rumania memperoleh wilayah baru, dan negara-negara
baru tercipta setelah runtuhnya Austria-Hongaria, Kekaisaran Rusia, dan
Kesultanan Utsmaniyah.
Meski muncul gerakan pasifis setelah perang,[10][11]
kekalahan ini masih membuat nasionalisme iredentis dan revanchis pemain utama
di sejumlah negara Eropa. Iredentisme dan revanchisme punya pengaruh kuat di
Jerman karena kehilangan teritori, koloni, dan keuangan yang besar akibat
Perjanjian Versailles. Menurut perjanjian ini, Jerman kehilangan 13 persen
wilayah dalam negerinya dan seluruh koloninya di luar negeri, sementara Jerman
dilarang menganeksasi negara lain, harus membayar biaya perbaikan perang, dan
membatasi ukuran dan kemampuan angkatan bersenjata negaranya.[12] Pada saat
yang sama, Perang Saudara Rusia berakhir dengan terbentuknya Uni Soviet.[13]
![]() |
| Kota nagasaki |
Kekaisaran Jerman bubar melalui Revolusi Jerman 1918–1919
dan sebuah pemerintahaan demokratis yang kemudian dikenal dengan nama Republik
Weimar dibentuk. Periode antarperang melibatkan kerusuhan antara pendukung
republik baru ini dan penentang garis keras atas sayap kanan maupun kiri.
Walaupun Italia selaku sekutu Entente berhasil merebut sejumlah wilayah, kaum
nasionalis Italia marah mengetahui janji-janji Britania dan Perancis yang
menjamin masuknya Italia ke kancah perang tidak dipenuhi dengan penyelesaian
damai. Sejak 1922 sampai 1925, gerakan Fasis pimpinan Benito Mussolini berkuasa
di Italia dnegan agenda nasionalis, totalitarian, dan kolaborasionis kelas yang
menghapus demokrasi perwakilan, penindasan sosialis, kaum sayap kiri dan
liberal, dan mengejar kebijakan luar negeri agresif yang berusaha membawa
Italia sebagai kekuatan dunia—"Kekaisaran Romawi Baru".[14]
Di Jerman, Partai Nazi yang dipimpin Adolf Hitler
berupaya mendirikan pemerintahan fasis di Jerman. Setelah Depresi Besar
dimulai, dukungan dalam negeri untuk Nazi meningkat dan, pada tahun 1933,
Hitler ditunjuk sebagai Kanselir Jerman. Setelah kebakaran Reichstag, Hitler
menciptakan negara satu partai totalitarian yang dipimpin Partai Nazi.[15]
Parati Kuomintang (KMT) di Tiongkok melancarkan kampanye
penyatuan melawan panglima perang regional dan secara nominal berhasil
menyatukan Cina pada pertengahan 1920-an, tetapi langsung terlibat dalam perang
saudara melawan bekas sekutunya yang komunis.[16] Pada tahun 1931, Kekaisaran
Jepang yang semakin militaristik, yang sudah lama berusaha memengaruhi Cina[17]
sebagai tahap pertama dari apa yang disebut pemerintahnya sebagai hak untuk
menguasai Asia, memakai Insiden Mukden sebagai alasan melancarkan invasi ke
Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo.[18]
Terlalu lemah melawan Jepang, Cina meminta bantuan Liga
Bangsa-Bangsa. Jepang menarik diri dari Liga Bangsa-Bangsa setelah dikecam atas
tindakannya terhadap Manchuria. Kedua negara ini kemudian bertempur di
Shanghai, Rehe, dan Hebei sampai Gencatan Senjata Tanggu ditandatangani tahun
1933. Setelah itu, pasukan voluntir Cina melanjutkan pemberontakan terhadap
agresi Jepang di Manchuria, dan Chahar dan Suiyuan.[19]
Benito Mussolini (kiri) dan Adolf Hitler (kanan)
Adolf Hitler, setelah upaya gagal menggulingkan
pemerintah Jerman tahun 1923, menjadi Kanselir Jerman pada tahun 1933. Ia
menghapus demokrasi, menciptakan revisi orde baru radikal dan rasis, dan segera
memulai kampanye persenjataan kembali.[20] Sementara itu, Perancis, untuk
melindungi aliansinya, memberikan Italia kendali atas Ethiopia yang diinginkan
Italia sebagai jajahan kolonialnya. Situasi ini memburuk pada awal 1935 ketika
Teritori Cekungan Saar dengan sah bersatu kembali dengan Jerman dan Hitler
menolak Perjanjian Versailles, mempercepat program persenjataan kembalinya dan
memperkenalkan wajib militer.[21]
Berharap mencegah Jerman, Britania Raya, Perancis, dan
Italia membentuk Front Stresa. Uni Soviet, khawatir akan keinginan Jerman
mencaplok wilayah luas di Eropa Timur, membuat perjanjian bantuan bersama
dengan Perancis. Sebelum diberlakukan, pakta Perancis-Soviet ini perlu melewati
birokrasi Liga Bangsa-Bangsa, yang pada dasarnya menjadikannya tidak
berguna.[22][23] Akan tetapi, pada bulan Juni 1935, Britania Raya membuat
perjanjian laut independen dengan Jerman, sehingga melonggarkkan
batasan-batasan sebelumnya. Amerika Serikat, setelah mempertimbangkan peristiwa
yang terjadi di Eropa dan Asia, mengesahkan Undang-Undang Netralitas pada bulan
Agustus.[24] Pada bulan Oktober, Italia menginvasi Ethiopia, dan Jerman adalah
satu-satunya negara besar Eropa yang mendukung tindakan tersebut. Italia
langsung menarik keberatannya terhadap tindakan Jerman menganeksasi
Austria.[25]
Hitler menolak Perjanjian Versailles dan Locarno dengan
meremiliterisasi Rhineland pada bulan Maret 1936. Ia mendapat sedikit tanggapan
dari kekuatan-kekuatan Eropa lainnya.[26] Ketika Perang Saudara Spanyol pecah
bulan Juli, Hitler dan Mussolini mendukung pasukan Nasionalis yang fasis dan
otoriter dalam perang saudara mereka melawan Republik Spanyol yang didukung
Soviet. Kedua pihak memakai konflik ini untuk menguji senjata dan metode
peperangan baru,[27] berakhir dengan kemenangan Nasionalis pada awal 1939.
Bulan Oktober 1936, Jerman dan Italia membentuk Poros Roma-Berlin. Sebulan
kemudian, Jerman dan Jepang menandatangani Pakta Anti-Komintern, namun kelak
diikuti Italia pada tahun berikutnya. Di cina, setelah Insiden Xi'an, pasukan
Kuomintang dan komunis menyetujui gencatan senjata untuk membentuk front
bersatu dan sama-sama melawan Jepang.[28]
Sebelum perang[sunting | sunting sumber]
Invasi Italia ke Ethiopia (1935)[sunting | sunting
sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang
Italia-Abisinia Kedua
Perang Italia-Abisinia Kedua adalah perang kolonial
singkat mulai bulan Oktober 1935 sampai Mei 1936. Perang ini terjadi antara
angkatan bersenjata Kerajaan Italia (Regno d'Italia) dan angkatan bersenjata
Kekaisaran Ethiopia (juga disebut Abisinia). Perang ini berakhir dengan
pendudukan militer di Ethiopia dan aneksasinya ke koloni baru Afrika Timur
Italia (Africa Orientale Italiana, atau AOI); selain itu, perang ini membuka
kelemahan Liga Bangsa-Bangsa sebagai kekuatan pelindung perdamaian. Baik Italia
dan Ethiopia adalah negara anggota, tetapi Liga ini tidak berbuat apa-apa
ketika negara pertama jelas-jelas melanggar Artikel X yang dibuat oleh Liga
ini.[29]
Perang Saudara Spanyol (1936-39)[sunting | sunting
sumber]
Reruntuhan Guernica setelah dibom.
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Saudara
Spanyol
Jerman dan Italia memberi dukungan kepada kebangkitan
Nasionalis yang dipimpin Jenderal Francisco Franco di Spanyol. Uni Soviet
mendukung pemerintah yang sudah berdiri, Republik Spanyol, yang memiliki
kecenderungan sayap kiri. Baik Jerman dan Uni Soviet memakai perang proksi ini
sebagai kesempatan menguji senjata dan taktik baru mereka. Pengeboman Guernica
yang disengaja oleh Legiun Condor Jerman pada April 1937 berkontribusi pada
kekhawatiran bahwa perang besar selanjutnya akan melibatkan serangan bom teror
besar-besaran terhadap warga sipil.[30][31]
Invasi Jepang ke Tiongkok (1937)[sunting | sunting
sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang
Cina-Jepang Kedua
Sarang senjata mesin Cina pada Pertempuran Shanghai,
1937.
Pada bulan Juli 1937, Jepang mencaplok bekas ibu kota
kekaisaran Cina Beijing setelah memulai Insiden Jembatan Marco Polo, yang
menjadi batu pijakan kampanye Jepang untuk menjajah seluruh wilayah Cina.[32]
Uni Soviet segera menandatangani pakta non-agresi dengan Cina untuk memberi dukungan
material yang secara efektif mengakhiri kerja sama Cina dengan Jerman
sebelumnya. Generalissimo Chiang Kai-shek mengerahkan pasukan terbaiknya untuk
mempertahankan Shanghai, tetapi setelah tiga bulan bertempur, Shanghai jatuh.
Jepang terus menekan pasukan Cina, mencaplok ibu kota Nanking pada Desember
1937 dan melakukan Pembantaian Nanking.
Pada bulan Juni 1938, pasukan Jepang menghentikan serbuan
Jepang dengan membanjiri Sungai Kuning; manuver ini memberikan waktu bagi Cina
untuk mempersiapkan pertahanan di Wuhan, namun kota ini berhasil direbut pada
bulan Oktober.[33] Kemenangan militer Jepang gagal menghentikan pemberontakan
Cina yang menjadi tujuan Jepang. Pemerintahan Cina pindah ke pedalaman di
Chongqing dan melanjutkan perang.[34]
Invasi Jepang ke Uni Soviet dan Mongolia (1938)[sunting |
sunting sumber]
Lihat pula: Nanshin-ron dan Konflik perbatasan
Soviet–Jepang
Tentara Soviet memerangi Jepang pada Pertempuran Khalkhin
Gol di Mongolia, 1939.
Pada tanggal 29 Juli 1938, Jepang menyerbu Uni Soviet dan
kalah di Pertempuran Danau Khasan. Meski pertempuran tersebut dimenangkan
Soviet, Jepang menyebutnya seri dan buntu, dan pada tanggal 11 Mei 1939, Jepang
memutuskan memindahkan perbatasan Jepang-Mongolia sampai Sungai Khalkhin Gol
melalui pemaksaan. Setelah serangkaian keberhasilan awal, serangan Jepang di
Mongolia digagalkan oleh Pasukan Merah yang menandakan kekalahan besar pertama
Angkatan Darat Kwantung Jepang.[35][36]
Pertempuran ini meyakinkan sejumlah faksi pemerintahan
Jepang bahwa mereka harus fokus berkonsiliasi dengan pemerintah Soviet demi
menghindari ikut campur Soviet dalam perang melawan Cina dan mengalihkan
perhatian militer mereka ke selatan, yaitu ke jajahan Amerika Serikat dan Eropa
di Pasifik, serta mencegah penggulingan pemimpin militer Soviet berpengalaman
seperti Georgy Zhukov, yang kelak memainkan peran penting dalam mempertahankan
Moskwa.[37]
Pendudukan Eropa dan perjanjian[sunting | sunting sumber]
Informasi lebih lanjut: Anschluss, Penenangan, Perjanjian
Munich, Pendudukan Jerman di Cekoslowakia, dan Pakta Molotov-Ribbentrop
Dari kiri ke kanan (depan): Chamberlain, Daladier,
Hitler, Mussolini, dan Ciano sebelum menandatangani Perjanjian Munich.
Di Eropa, Jerman dan Italia semakin keras. Pada bulan
Maret 1938, Jerman menganeksasi Austria, lagi-lagi mendapat sedikit perhatian
dari kekuatan-kekuatan Eropa lainnya.[38] Semakin tertantang, Hitler mulai
menegaskan klaim Jerman atas Sudetenland, wilayah Cekoslowakia yang didominasi
oleh etnis Jerman; dan Perancis dan Britania segera memberikan wilayah ini ke
Jerman melalui Perjanjian Munich, yang dibuat melawan keinginan pemerintah
Cekoslowakia, dengan imbalan janji tidak meminta wilayah lagi.[39] Sesaat
setelah perjanjian ini, Jerman dan Italia memaksa Cekoslowakia menyerahkan wilayah
tambahan ke Hongaria dan Polandia.[40] Pada bulan Maret 1939, Jerman menyerbu
sisa Cekoslowakia dan membelahnya menjadi Protektorat Bohemia dan Moravia
Jerman dan negara klien pro-Jerman bernama Republik Slovak.[41]
Terkejut, ditambah Hitler menuntut Danzig, Perancis dan
Britania Raya menjamin dukungan mereka terhadap kemerdekaan Polandia; ketika
Italia menguasai Albania pada bulan April 1939, jaminan yang sama diberikan
untuk Rumania dan Yunani.[42] Tidak lama setelah janji Perancis-Britania kepada
Polandia, Jerman dan Italia meresmikan aliansi mereka sendiri melalui Pakta
Baja.[43]
Bulan Agustus 1939, Jerman dan Uni Soviet menandatangani
Pakta Molotov–Ribbentrop,[44] sebuah perjanjian non-agresi dengan satu protokol
rahasia. Setiap pihak memberikan haknya satu sama lain, "andai terjadi
penyusunan wilayah dan politik," terhadap "cakupan pengaruh"
(antara Polandia dan Lituania untuk Jerman, dan Polandia timur, Finlandia,
Estonia, Latvia, dan Bessarabia untuk Uni Soviet). Pakta ini juga memunculkan
pertanyaan tentang keberlangsungan kemerdekaan Polandia.[45]
Alur perang[sunting | sunting sumber]
Pecah di Eropa (1939)[sunting | sunting sumber]
Parade umum Wehrmacht Jerman dan Pasukan Merah Soviet
pada tanggal 23 September 1939 di Brest, Polandia Timur setelah Invasi Polandia
berakhir. Di tengah adalah Mayor Jenderal Heinz Guderian dan di kanan adalah
Brigadir Semyon Krivoshein.
Pada tanggal 1 September 1939, Jerman dan Slowakia—negara
klien pada tahun 1939—menyerang Polandia.[46] Tanggal 3 September, Perancis dan
Britania Raya, diikuti negara-negara Persemakmuran,[47] menyatakan perang
terhadap Jerman, tetapi memberi sedikit dukungan kepada Polandia ketimbang
serangan kecil Perancis ke Saarland.[48] Britania dan Perancis juga mulai
memblokir perairan Jerman pada tanggal 3 September untuk melemahkan ekonomi dan
upaya perang negara ini.[49][50]
Tanggal 17 September, setelah menandatangani gencatan
senjata dengan Jepang, Soviet juga menyerbu Polandia.[51] Wilayah Polandia
terbagi antara Jerman dan Uni Soviet, dengan Lituania dan Slowakia mendapat
bagian kecil. Polandia tidak menyerah; mereka mendirikan Negara Bawah Tanah
Polandia dan Pasukan Dalam Negeri bawah tanah, dan terus berperang bersama
Sekutu di semua front di luar Polandia.[52]
![]() |
| Emperor Hirohito |
Sekitar 100.000 personil militer Polandia diungsikan ke
Rumania dan negara-negara Baltik; sebagian besar tentara tersebut kemudian
berperang melawan Jerman di teater perang yang lain.[53] Pemecah kode Enigma
Polandia juga diungsikan ke Perancis.[54] Pada saat itu pula, Jepang melancarkan
serangan pertamanya ke Changsha, sebuah kota Cina yang strategis, tetapi
digagalkan pada akhir September.[55]
Setelah invasi Polandia dan perjanjian Jerman-Soviet atas
Lituania, Uni Soviet memaksa negara-negara Baltik mengizinkan mereka
menempatkan tentara Soviet di negara mereka atas alasan "bantuan
bersama".[56][57][58] Finlandia menolak permintaan wilayah dan diserang
oleh Uni Soviet pada bulan November 1939.[59] Konflik yang kemudian pecah
berakhir pada bulan Maret 1940 dengan konsesi oleh Finlandia.[60] Perancis dan
Britania Raya, menyebut serangan Soviet ke Finlandia sebagai alasan memasuki
kancah perang di pihak Jerman, menanggapi invasi Soviet dengan mendukung
dikeluarkannya Uni Soviet dari Liga Bangsa-Bangsa.[58]
Tentara Jerman di Arc de Triomphe, Paris, setelah
kejatuhan Perancis tahun 1940.
Di Eropa Barat, tentara Britania dikerahkan ke benua ini,
namun pada fase yang dijuluki Perang Phoney oleh Britania dan
"Sitzkrieg" (perang duduk) oleh Jerman tak satupun pihak yang
melancarkan operasi besar-besaran terhadap satu sama lain sampai April
1940.[61] Uni Soviet dan Jerman membuat pakta dagang pada bulan Februari 1940,
yang berarti Soviet menerima bantuan militer dan industri dengan imbalan
menyediakan bahan mentah untuk Jerman agar bisa mengakali pemblokiran oleh
Sekutu.[62]
Pada bulan April 1940, Jerman menginvasi Denmark dan
Norwegia untuk mengamankan pengiriman bijih besi dari Swedia, yang hendak
dihadang oleh Sekutu.[63] Denmark langsung menyerah, dan meski dibantu Sekutu,
Norwegia berhasil dikuasai dalam waktu dua bulan.[64] Bulan Mei 1940, Britania
menyerbu Islandia untuk mencegah kemungkinan invasi Jerman ke pulau itu.[65]
Ketidakpuasan Britania atas kampanye Norwegia mendorong penggantian Perdana
Menteri Neville Chamberlain dengan Winston Churchill pada tanggal 10 Mei
1940.[66]
Serbuan Poros[sunting | sunting sumber]
Jerman menyerbu Perancis, Belgia, Belanda, dan Luksemburg
pada tanggal 10 Mei 1940.[67] Belanda dan Belgia kewalahan menghadapi taktik
blitzkrieg dalam beberapa hari dan minggu.[68] Jalur Maginot yang dipertahankan
Perancis dan pasukan Sekutu di Belgia diakali dengan bergerak secara mengapit
melintasi hutan lebat Ardennes,[69] yang disalahartikan oleh perencana perang
Perancis sebagai penghalang alami bagi kendaraan lapis baja.[70]
Tentara Britania terpaksa keluar dari Eropa melalui
Dunkirk, meninggalkan semua peralatan beratnya pada awal Juni.[71] Tanggal 10
Juni, Italia menyerbu Perancis, menyatakan perang terhadap Perancis dan
Britania Raya;[72] dua belas hari kemudian Perancis menyerah dan langsung
dibelah menjadi zona pendudukan Jerman dan Italia,[73] dan sebuah negara sisa
yang tak diduduki di bawah Rezim Vichy. Pada tanggal 3 Juli, Britania menyerang
armada Perancis di Aljazair untuk mencegah perebutan oleh Jerman.[74]
Bulan Juni, pada hari-hari terakhir Pertempuran Perancis,
Uni Soviet memaksa aneksasi Estonia, Latvia, dan Lituania,[57] lalu
menganeksasi wilayah Bessarabia yang dipertentangkan Rumania. Sementara itu,
kesesuaian politik dan kerja sama ekonomi Nazi-Soviet[75][76] perlahan
buntu,[77][78] dan kedua negara mulai bersiap untuk perang.[79]
Dengan Perancis dinetralkan, Jerman memulai kampanye
superioritas udara atas Britania (Pertempuran Britania) untuk mempersiapkan
sebuah invasi.[80] Kampanye ini gagal, dan rencana invasi tersebut dibatalkan
pada bulan September.[80] Menggunakan pelabuhan-pelabuhan Perancis yang baru
dicaplok, Angkatan Laut Jerman menikmati kesuksesan melawan Angkatan Laut
Kerajaan dengan memakai kapal-U untuk menyerang kapal-kapal Britania di
Atlantik.[81] Italia memulai operasinya di Mediterania, memulai pengepungan
Malta bulan Juni, menguasai Somaliland Britania bulan Agustus, dan menerobos
wilayah Mesir Britania bulan September 1940. Jepang meningkatkan pemblokirannya
terhadap Cina pada bulan September dengan merebut sejumlah pangkalan di wilayah
utara Indocina Perancis yang saat ini terisolasi.[82]
Pertempuran Britania mengakhiri serbuan Jerman di Eropa
Barat.
Sepanjang periode ini, Amerika Serikat yang netral melakukan
sejumlah hal untuk membantu Cina dan Sekutu Baratnya. Pada bulan November 1939,
Undang-Undang Netralitas diamandemen untuk memungkinkan pembelian "beli
dan angkut" oleh Sekutu.[83] Tahun 1940, setelah pencaplokan Paris oleh
Jerman, ukuran Angkatan Laut Amerika Serikat meningkat pesat dan, setelah
serbuan Jepang ke Indocina, Amerika Serikat memberlakukan embargo besi, baja,
dan barang-barang mekanik terhadap Jepang.[84] Pada bulan September, Amerika
Serikat menyetujui penukaran kapal penghancur AS dengan pangkalan Britania
Raya.[85] Tetap saja, mayoritas rakyat Amerika Serikat menentang intervensi
militer langsung apapun terhadap konflik ini sampai tahun 1941.[86]
Pada akhir September 1940, Pakta Tiga Pihak menyatukan
Jepang, Italia, dan Jerman untuk meresmikan Kekuatan Poros. Pakta Tiga Pihak
ini menegaskan bahwa negara apapun, kecuali Uni Soviet, yang tidak terlibat
dalam perang yang menyerang Kekuatan Poros apapun akan dipaksa berperang
melawan ketiganya.[87] Pada waktu itu, Amerika Serikat terus mendukung Britania
Raya dan Cina dengan memperkenalkan kebijakan Lend-Lease yang mengizinkan
pengiriman material dan barang-barang lain[88] dan membuat zona keamanan yang
membentang hingga separuh Samudra Atlantik agar Angkatan Laut Amerika Serikat
bisa melindungi konvoi Britania.[89] Akibatnya, Jerman dan Amerika Serikat
terlibat dalam peperangan laut di Atlantik Utara dan Tengah pada Oktober 1941,
bahkan meski Amerika Serikat secara resmi tetap netral.[90][91]
![]() |
| Benito Mussolini |
Blok Poros meluas bulan November 1940 ketika Hongaria,
Slowakia, dan Rumania bergabung dengan Pakta Tiga Pihak ini.[92] Rumania akan
memberi kontribusi besar terhadap perang Poros melawan Uni Soviet, sebagian
untuk merebut kembali wilayah yang diserahkan kepada Soviet, sebagian lagi demi
memenuhi keinginan pemimpinnya, Ion Antonescu, untuk melawan komunisme.[93]
Pada bulan Oktober 1940, Italia menyerbu Yunani, tetapi beberapa hari kemudian
digagalkan dan dipukul sampai Albania yang berakhir dengan kebuntuan.[94] Bulan
Desember 1940, pasukan Persemakmuran Britania Raya memulai serangan balasan
terhadap pasukan Italia di Mesir dan Afrika Timur Italia.[95] Pada awal 1941,
dengan pasukan Italia dipukul hingga Libya oleh Persemakmuran, Churchill
memerintahkan pengerahan tentara dari Afrika untuk membantu Yunani.[96]
Angkatan Laut Italia juga menderita kekalahan besar, dengan Angkatan Laut
Kerajaan membuat tiga kapal perang Italia tidak berfungsi melalui serangan
kapal induk di Taranto, dan menetralisasi beberapa kapal perang lain pada
Pertempuran Tanjung Matapan.[97]
Tentara penerjun Jerman menyerbu pulau Kreta, Yunani, Mei
1941.
Jerman segera turun tangan untuk membantu Italia. Hitler
mengirimkan pasukan Jerman ke Libya pada bulan Februari, dan pada akhir Maret
mereka melancarkan serangan terhadap pasukan Persemakmuran yang semakin
sedikit.[98] Dalam kurun sebulan, pasukan Persemakmuran dipukul mundur ke Mesir
dengan pengecualian pelabuhan Tobruk yang dikepung.[99] Persemakmuran berupaya
mengusir pasukan Poros pada bulan Mei dan lagi pada bulan Juni, tetapi keduanya
gagal.[100] Pada awal April, setelah penandatanganan Pakta Tiga Pihak oleh
Bulgaria, Jerman turun tangan di Balkan dengan menyerbu Yunani dan Yugoslavia
setelah terjadi kudeta; di sini mereka membuat kemajuan besar, sehingga memaksa
Sekutu pindah setelah Jerman menguasai pulau Kreta, Yunani pada akhir Mei.[101]
Sekutu sempat beberapa kali berhasil pada saat itu. Di
Timur Tengah, pasukan Persemakmuran pertama menggagalkan kudeta di Irak yang
dibantu pesawat Jerman dari pangkalan-pangkalan di Suriah Vichy,[102] kemudian
dengan bantuan Perancis Merdeka, menyerbu Suriah dan Lebanon untuk mencegah
peristiwa seperti itu lagi.[103] Di Atlantik, Britania berhasil menaikkan moral
publik dengan menenggelamkan kapal perang Jerman Bismarck.[104] Mungkin yang
terpenting adalah pada Pertempuran Britania, Angkatan Udara Kerajaan berhasil
bertahan dari serangan Luftwaffe dan kampanye pengeboman Jerman yang berakhir
bulan Mei 1941.[105]
Di Asia, meski sejumlah serangan dari kedua pihak, perang
antara Cina dan Jepang buntu pada tahun 1940. Demi meningkatkan tekanan
terhadap Cina dengan memblokir rute-rute suplai, dan untuk memosisikan pasukan
Jepang dengan tepat andai pecah perang dengan negara-negara Barat, Jepang
merebut kendali militer di Indocina selatan[106] Pada Agustus 1940, kaum
komunis Cina melancarkan serangan di Tiongkok Tengah; sebagai balasan, Jepang
menerapkan kebijakan keras (Kebijakan Serba Tiga) di daerah-daerah pendudukan
untuk mengurangi sumber daya manusia dan bahan mentah untuk pasukan
komunis.[107] Antipati yang terus berlanjut antara pasukan komunis dan
nasionalis Cina memuncak pada pertempuran bersenjata pada bulan Januari 1941,
secara efektif mengakhiri kerja sama mereka.[108]
Dengan stabilnya situasi di Eropa dan Asia, Jerman,
Jepang, dan Uni Soviet mempersiapkan diri. Dengan kekhawatiran Soviet terhadap
meningkatnya ketegangan dengan Jerman dan rencana Jepang untuk memanfaatkan
Perang Eropa dengan merebut jajahan Eropa yang kaya sumber daya alam di Asia
Tenggara, kedua kekuatan ini menandatangani Pakta Netralitas Soviet–Jepang pada
bulan April 1941.[109] Kebalikannya, Jerman bersiap-siap menyerang Uni Soviet
dengan menempatkan pasukan dalam jumlah besar di perbatasan Soviet.[110]
Perang global (1941)[sunting | sunting sumber]
Infanteri dan kendaraan lapis baja Jerman melawan pasukan
Soviet di jalanan Kharkov, Oktober 1941.
Pada tanggal 22 Juni 1941, Jerman, bersama anggota Poros
Eropa lainnya dan Finlandia, menyerbu Uni Soviet dalam Operasi Barbarossa.
Target utama serangan kejutan ini[111] adalah kawasan Baltik, Moskwa dan
Ukraina dengan tujuan utama mengakhiri kampanye 1941 dekat jalur
Arkhangelsk-Astrakhan yang menghubungkan Laut Kaspia dan Laut Putih. Tujuan
Hitler adalah menghancurkan Uni Soviet sebagai sebuah kekuatan militer,
menghapus komunisme, menciptakan Lebensraum ("ruang hidup")[112]
dengan memiskinkan penduduk asli[113] dan menjamin akses ke sumber daya
strategis yang diperlukan untuk mengalahkan musuh-musuh Jerman yang
tersisa.[114]
Meski Angkatan Darat Merah mempersiapkan serangan balasan
strategis sebelum perang,[115] Barbarossa memaksa komando tertinggi Soviet
mengadopsi pertahanan strategis. Sepanjang musim panas, Poros berhasil
menerobos jauh ke dalam wilayah Soviet, mengakibatkan kerugian besar dalam hal
personil dan material. Pada pertengahan Agustus, Komando Tinggi Angkatan Darat
Jerman memutuskan menunda serangan oleh Army Group Centre yang kecil dan
mengalihkan Satuan Panzer ke-2 untuk membantu tentara yang maju melintasi
Ukraina tengah dan Leningrad.[116] Serangan Kiev sukses besar dan berakhir
dengan pengepungan dan penghancuran empat unit pasukan Soviet, serta
memungkinkan pergerakan lebih lanjut di Krimea dan Ukraina Timur yang
industrinya maju (Pertempuran Kharkov Pertama).[117]
Serangan balasan Soviet pada pertempuran Moskwa, Desember
1941.
Pengalihan tiga per empat pasukan Poros dan sebagian
besar angkatan udaranya dari Perancis dan Mediterania tengah ke Front
Timur[118] membuat Britania mempertimbangkan kembali strategi besarnya.[119]
Pada bulan Juli, Britania Raya dan Uni Soviet membentuk aliansi militer melawan
Jerman[120] Britania dan Soviet menyerbu Iran untuk melindungi Koridor Persia
dan ladang minyak Iran.[121] Bulan Agustus, Britania Raya dan Amerika Serikat
bersama-sama meresmikan Piagam Atlantik.[122]
Pada bulan Oktober, ketika tujuan operasional Poros di
Ukraina dan Baltik tercapai, dengan pengepungan Leningrad[123] dan Sevastopol
yang masih berlanjut,[124] sebuah serangan besar ke Moskwa dilancarkan kembali.
Setelah dua bulan bertempur sengit, pasukan Jerman hampir mencapai pinggiran
terluar Moskwa, tempat tentara-tentaranya yang lelah[125] terpaksa menunda
serangan mereka.[126] Pencaplokan teritorial besar dilakukan oleh pasukan
Poros, tetapi kampanye mereka gagal mencapai tujuan utamanya: dua kota utama
masih dikuasai Soviet, kemampuan memberontak Soviet gagal dipadamkan, dan Uni
Soviet mempertahankan banyak sekali potensi militernya. Fase blitzkrieg perang
di Eropa telah berakhir.[127]
Animasi Teater Eropa PDII.
Pada awal Desember, pasukan cadangan yang baru
dimobilisasi[128] memungkinkan Soviet menyamakan jumlah tentaranya dengan
Poros.[129] Hal ini, bersama data intelijen yang menetapkan jumlah minimum
tentara Soviet di Timur yang cukup untuk mencegah serangan apapun oleh Angkatan
Darat Kwantung Jepang,[130] memungkinkan Soviet memulai serangan balasan massal
yang dimulai tanggal 5 Desember di front sepanjang 1.000 kilometer (620 mil)
dan mendesak tentara Jerman mundur 100–250 kilometers (62–160 mil) ke barat.[131]
Keberhasilan Jerman di Eropa menggugah Jerman untuk
meningkatkan tekanannya terhadap pemerintah-pemerintah Eropa di Asia Tenggara.
Pemerintah Belanda setuju menyediakan minyak untuk Jepang dari Hindia Timur
Belanda, namun menolak menyerahkan kendali politik atas koloninya. Perancis
Vichy, sebaliknya, menyetujui pendudukan Jepang di Indocina Perancis.[132] Pada
bulan Juli 1941, Amerika Serikat, Britania Raya, dan pemerintah Barat lainnya
bereaksi terhadap pendudukan Indocina dengan membekukan aset-aset Jepang,
sementara Amerika Serikat (yang menyediakan 80 persen minyak Jepang[133])
merespon dengan menerapkan embargo minyak secara penuh.[134] Ini berarti Jepang
terpaksa memilih antara mengabaikan ambisinya di Asia dan perang melawan Cina,
atau merebut sumber daya alam yang diperlukan melalui kekuatan; militer Jepang
tidak menganggap yang pertama sebagai pilihan, dan banyak pejabat menganggap
embargo minyak sebagai pernyataan perang tidak langsung.[135]
Jepang berencana merebut koloni-koloni Eropa di Asia dengan
cepat untuk menciptakan perimeter defensif besar yang membentang hingga Pasifik
Tengah; Jepang kemudian bebas mengeksploitasi sumber daya di Asia Tenggara
sambil menyibukkan Sekutu dengan melancarkan perang defensif.[136] Untuk
mencegah intervensi Amerika Serikat sambil mengamankan perimeter, Jepang
berencana menetralisasi Armada Pasifik Amerika Serikat dari kancah perang.[137]
Pada tanggal 7 Desember (8 Desember di Asia) 1941, Jepang menyerang aset-aset
Britania dan Amerika Serikat dengan serangan di Asia Tenggara dan Pasifik
Tengah secara nyaris bersamaan.[138] Peristiwa ini meliputi serangan ke armada
Amerika Serikat di Pearl Harbor, pendaratan di Thailand dan Malaya[138] dan
pertempuran Hong Kong.
Kejatuhan Singapura pada Februari 1942 mengakibatkan
80.000 tentara Sekutu ditangkap dan diperbudak oleh Jepang.
Serangan-serangan ini mendorong Amerika Serikat, Britania
Raya, Cina, Australia, dan beberapa negara lain secara resmi menyatakan perang
terhadap Jepang, sementara Uni Soviet, karena sedang terlibat dalam perang
besar-besaran dengan blok Poros Eropa, memilih untuk tetap netral dengan
Jepang.[139][140] Jerman dan negara-negara Poros menanggapi dengan menyatakan
perang terhadap Amerika Serikat. Pada bulan Januari, Amerika Serikat, Britania
Raya, Uni Soviet, Cina, dan 22 pemerintahan kecil atau terasingkan mengeluarkan
Deklarasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga memperkuat Piagam
Atlantik,[141] dan melakukan kewajiban untuk tidak menandatangani perjanjian
damai terpisah dengan negara-negara Poros. Sejak 1941, Stalin terus meminta
Churchill, dan kemudian Roosevelt, untuk membuka 'front kedua' di
Perancis.[142] Front Timur menjadi teater perang besar di Eropa dan jumlah
korban Soviet yang berjumlah jutaan menciutkan jumlah korban Sekutu Barat yang
hanya ratusan ribu orang; Churchill dan Roosevelt mengatakan mereka butuh lebih
banyak waktu untuk persiapan, sehingga memunculkan klaim bahwa mereka sengaja
buntu untuk menyelamatkan orang-orang Barat dengan mengorbankan orang-orang
Soviet.[143]
Sementara itu, pada akhir April 1942, Jepang dan
sekutunya Thailand hampir menguasai seluruh Burma, Malaya, Hindia Timur
Belanda, Singapura,[144] dan Rabaul, sehingga menambah kerugian bagi tentara
Sekutu dan banyak di antara mereka yang ditawan. Meski memberontak
habis-habisan di Corregidor, Filipina akhirnya ditaklukkan pada bulan Mei 1942
dan memaksa pemerintah Persemakmuran Filipina mengasingkan diri.[145] Pasukan
Jepang juga memenangkan pertempuran laut di Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan
Samudra Hindia,[146] dan mengebom pangkalan laut Sekutu di Darwin, Australia.
Satu-satunya kesuksesan sejati Sekutu melawan Jepang adalah kemenangan Cina di
Changsha pada awal Januari 1942.[147] Kemenangan-kemenangan mudah atas lawan
yang tidak punya persiapan ini membuat Jepang terlalu percaya diri dan
berlebihan.[148]
Jerman juga mewujudkan inisiatifnya. Dengan
mengeksploitasi keputusan komando laut Amerika Serikat yang ragu-ragu, Angkatan
Laut Jerman mengacaukan jalur kapal Sekutu di lepas pesisir Atlantik Amerika
Serikat.[149] Meski kalah besar, anggota Poros Eropa menghentikan serbuan
Soviet di Rusia Tengah dan Selatan, sehingga melindungi sebagian besar jajahan
yang mereka peroleh pada tahun sebelumnya.[150] Di Afrika Utara, Jerman
melancarkan sebuah serangan pada bulan Januari yang memukul Britania kembali ke
posisinya di Garis Gazala pada awal Februari,[151] diikuti oleh meredanya
pertempuran untuk sementara yang dimanfaatkan Jerman untuk mempersiapkan
serangan mereka selanjutnya.[152]
Kebuntuan serbuan Poros (1942)[sunting | sunting sumber]
Pengebom tukik Amerika Serikat memerangi Mikuma pada
Pertempuran Midway, Juni 1942.
Pada awal Mei 1942, Jepang memulai operasi untuk
menduduki Port Moresby dengan serangan amfibi dan memutuskan komunikasi dan
jalur suplai antara Amerika Serikat dan Australia. Akan tetapi, Sekutu berhasil
mencegah invasi ini dengan mencegat dan mengalahkan pasukan laut Jepang pada
Pertempuran Laut Koral.[153] Rencana Jepang selanjutnya, termotivasi oleh
Serangan Doolittle sebelumnya, adalah merebut Atol Midway dan memancing kapal
induk Amerika Serikat ke kancah perang untuk dihancurkan; sebagai aksi
pengalihan, Jepang juga mengirimkan pasukan untuk menduduki Kepulauan Aleut di
Alaska.[154] Pada awal Juni, Jepang melaksanakan operasinya, tetapi Amerika
Serikat, setelah berhasil memecahkan kode laut Jepang pada akhir Mei,
mengetahui semua rencana dan pemindahan pasukan mereka dan memakai pengetahuan
ini untuk memperoleh kemenangan telak di Midway atas Angkatan Laut Kekaisaran
Jepang.[155]
Dengan kapasitasnya untuk bertindak secara agresif hilang
akibat Pertempuran Midway, Jepang memilih fokus pada upaya menduduki Port
Moresby melalui kampanye darat di Teritori Papua.[156] AMerika Serikat
merencanakan serangan balasan terhadap posisi Jepang di selatan Kepulauan
Solomon, terutama Guadalcanal, sebagai tahap pertama menduduki Rabaul,
pangkalan utama Jepang di Asia Tenggara.[157]
Kedua rencana ini dimulai bulan Juli, namun pada
pertengahan September, Pertempuran Guadalcanal dimenangkan Jepang, dan
tentara-tentara di Nugini diperintahkan mundur dari Port Moresby ke bagian
utara pulau, tempat mereka menghadapi tentara Australia dan Amerika Serikat
dalam Pertempuran Buna-Gona.[158] Guadalcanal segera menjadi titik fokus bagi
kedua pihak dengan komitmen besar tentara dan kapal dalam pertempuran
Guadalcanal. Pada awal 1943, Jepang dikalahkan di pulau ini dan menarik tentara
mereka.[159] Di Burma, pasukan Persemakmuran melancarkan dua operasi. Pertama,
ofensif ke wilayah Arakan pada akhir 1942 gagal dan memaksa pasukan mundur ke
India bulan Mei 1943.[160] Kedua, penyisipan pasukan ireguler ke belakang garis
depan Jepang bulan Februari yang, pada akhir April, memperoleh hasil yang
diragukan.[161]
Tentara Soviet menyerang sebuah rumah pada Pertempuran
Stalingrad, 1943.
Di front timur Jerman, pasukan Poros mematahkan serangan
Soviet di Semenanjung Kerch dan Kharkov,[162] dan kemudian melancarkan serangan
musim panas utamanya terhadap Rusia Selatan pada bulan Juni 1942 untuk
menguasai ladang minyak di Kaukasus dan menduduki stepa Kuban, sementara
mempertahankan posisi di wilayah front sebelah utara dan tengah. Jerman membagi
Grup Angkatan Darat Selatan menjadi dua grup: Grup Angkatan Darat A bergerak ke
Sungai Don, sementara Grup Angkatan Darat B bergerak ke sebelah tenggara
Kaukasus menuju Sungai Volga.[163] Soviet memutuskan bertahan di Stalingrad
yang berada di jalur pergerakan pasukan Jerman.
Pada pertengahan November, Jerman hampir berhasil
menduduki Stalingrad dalam pertempuran jalanan saat Soviet memulai serangan
balasan musim dingin keduanya, dimulai dengan mengepung pasukan Jerman di
Stalingrad[164] dan serangan ke unggulan Rzhev dekat Moskwa, meski upaya
terakhir gagal besar.[165] Pada awal Februari 1943, Angkatan Darat Jerman
menderita kekalahan besar; tentara Jerman di Stalingrad dipaksa menyerah[166]
dan garis depan dimundurkan hingga posisinya sebelum serangan musim panas. Pada
pertengahan Februari, setelah desakan Soviet meruncing, Jerman melancarkan
serangan lain ke Kharkov dan membentuk unggulan baru di garis depan mereka di
sekitar kota Kursk, Rusia.[167]
Tank Crusader Britania bergerak ke posisi depan pada
Kampanye Afrika Utara.
Pada bulan November 1941, pasukan Persemakmudan
mengadakan serangan balasan, Operasi Crusader, di Afrika Utara dan mengklaim
kembali semua wilayah yang direbut Jerman dan Italia.[168] Di Barat,
kekhawatiran bahwa Jepang mungkin memakai pangkalan di Madagaskar Vichy
mendorong Britania menyerbu pulau ini pada awal Mei 1942.[169] Kesuksesan ini
tidak bertahan lama setelah Poros berhasil memukul Sekutu kembali ke Mesir
dalam serangan di Libya sampai pasukan Poros dihentikan di El Alamein.[170] Di
Eropa, serangan komando Sekutu terhadap target-target strategis, berakhir
dengan Serangan Dieppe yang menghancurkan,[171] menunjukkan ketidakmampuan
Sekutu Barat untuk melancarkan invasi ke daratan Eropa tanpa persiapan,
perlengkapan, dan keamanan operasional yang lebih baik.[172]
Pada bulan Agustus 1942, Sekutu sukses mematahkan
serangan kedua terhadap El Alamein[173] dan, dengan banyak korban, berupaya
mengirimkan suplai ke Malta yang sedang dikepung.[174] Beberapa bulan kemudian,
Sekutu melancarkan serangan di Mesir, memecah pasukan Poros dan mendorong
mereka ke barat melintasi Libya.[175] Serangan ini tidak lama kemudian
dilanjutkan dengan invasi Inggris-Amerika Serikat ke Afrika Utara Perancis,
yang berakhir dengan bergabungnya wilayah ini dengan Sekutu.[176] Hitler
menanggapi pendudukan koloni Perancis ini dengan memerintahkan pendudukan
Perancis Vichy;[176] meski pasukan Vichy sendiri tidak melawan pelanggaran
gencatan senjata ini, mereka berusaha menenggelamkan armadanya sendiri agar
tidak direbut pasukan Jerman.[177] Pasukan Poros yang sekarang kewalahan di
Afrika mundur hingga Tunisia, yang kemudian dikuasai Sekutu pada bulan
1943.[178]
Sekutu menguasai medan (1943)[sunting | sunting sumber]
Berkas:Bombing of Hamburg.ogg
Video lama memperlihatkan pengeboman Hamburg oleh Sekutu.
![]() |
| Adolf Hitler |
Pesawat Il-2 Soviet menyerang kolom Wehrmacht pada
Pertempuran Kursk, 1 Juli 1943.
Setelah Kampanye Guadalcanal, Sekutu memulai sejumlah
operasi melawan Jepang di Pasifik. Pada bulan Mei 1943, pasukan Sekutu dikirim
untuk mengusir pasukan Jepang dari Kepulauan Aleut,[179] dan segera memulai
operasi besar untul mengisolasi Rabaul dengan menduduki pulau-pulau sekitarnya,
dan menembus perimeter Pasifik Tengah Jepang di Kepulauan Gilbert dan
Marshall.[180] Pada akhir Maret 1944, Sekutu menyelesaikan kedua misi ini, dan
selain itu menetralisasi pangkalan Jepang di Truk di Kepulauan Caroline. Bulan
April, Sekutu melancarkan operasi mencaplok kembali Nugini Barat.[181]
Di Uni Soviet, baik Jerman dan Soviet menghabiskan musim
semi dan awal musim panas 1943 dengan bersiap-siap untuk serangan besar di
Rusia Tengah. Tanggal 4 Juli 1943, Jerman menyerang pasukan Soviet di sekitar
Kursk Bulge. Dalam satu minggu, pasukan Jerman lelah menghadapi pertahanan
Soviet yang sangat teratur[182][183] dan, untuk pertama kalinya dalam perang
ini, Hitler membatalkan sebuah operasi sebelum memperoleh kesuksesan taktis
atau operasional.[184] Keputusan ini sebagian dipengaruhi oleh invasi Sisilia
oleh Sekutu Barat pada 9 Juli yang, bersama kegagalan-kegagalan Italia
sebelumnya, berujung pada penggulingan dan penahanan Mussolini pada akhir bulan
itu.[185]
Tanggal 12 Juli 1943, Soviet melancarkan serangan
balasannya sendiri, sehingga memupuskan harapan apapun bagi Angkatan Darat
Jerman untuk memenangkan pertempuran atau buntu di timur. Kemenangan Soviet di
Kursk menandai kejatuhan superioritas Jerman[186] dan memberi Uni Soviet
inisiatif di Front Timur.[187][188] Jerman berusaha menstabilkan front timur
mereka di sepanjang garis Panther-Wotan yang sangat dipertahankan, namun Soviet
berhasil mendobraknya di Smolensk dan Serangan Dnieper Hilir.[189]
Pada awal September 1943, Sekutu Barat menyerbu daratan
Italia, diikuti gencatan senjata Italia dengan Sekutu.[190] Jerman
menanggapinya dengan melumpuhkan pasukan Italia, mengambil alih kendali militer
di wilayah Italia,[191] dan membuat serangkaian garis pertahanan.[192] Pasukan
khusus Jerman kemudian menyelamatkan Mussolini, yang kemudian mendirikan negara
klien baru di Italia dudukan Jerman bernama Republik Sosial Italia.[193] Sekutu
Barat berperang melintasi beberapa garis hingga garis pertahanan utama Jerman
pada pertengahan November.[194]
Operasi Jerman di Atlantik juga terganggu. Pada Mei 1943,
dengan efektifnya serangan balasan Sekutu, kerugian kapal selam Jerman yang
besar memaksa kampanye laut Atlantik Jerman ditunda.[195] Pada bulan November
1943, Franklin D. Roosevelt dan Winston Churchill bertemu dengan Chiang
Kai-shek di Kairo[196] dan Joseph Stalin di Teheran.[197] Konferensi pertama
menentukan pengembalian teritori Jepang pascaperang,[196] sementara yang
terakhir menghasilkan perjanjian bahwa Sekutu Barat akan menyerbu Eropa pada
tahun 1944 dan Uni Soviet akan menyatakan perang terhadap Jepang dalam tiga
bulan setelah kekalahan Jerman.[197]
Tentara Britania menembakkan mortir pada Pertempuran
Imphal, India Timur Laut, 1944.
Sejak November 1943, selama tujuh minggu di Pertempuran
Changde, Cina memaksa Jepang memasuki perang atrisi yang merugikan sambil
menunggu bantuan Sekutu.[198][199] Bulan Januari 1944, Sekutu melancarkan
serangkaian serangan di Italia terhadap garis di Monte Cassino dan berupaya
menembusnya dengan mendarat di Anzio.[200] Pada akhir Januari, serangan besar
Soviet mengusir pasukan Jerman dari wilayah Leningrad,[201] dan mengakhiri
pengepungan paling mematikan dan terlama sepanjang sejarah.
Serangan Soviet selanjutnya terhalang di perbatasan
Estonia sebelum perang oleh Grup Angkatan Darat Utara Jerman yang dibantu
penduduk Estonia yang berharap menetapkan kembali kemerdekaan nasional mereka.
Penundaan ini memperlambat operasi Soviet selanjutnya di kawasan Laut
Baltik.[202] Pada akhir Mei 1944, Soviet berhasil membebaskan Krimea, mengusir
pasukan Poros besar-besaran dari Ukraina, dan melakukan terobosan ke teritori
Rumania, yang dipukul balik oleh pasukan Poros.[203] Serangan Sekutu di Italia
berhasil dan, dengan mengizinkan sejumlah divisi Jerman mundur, pada tanggal 4
Juni Roma ditaklukkan.[204]
Sekutu mengalami berbagai keberhasilan di daratan Asia.
Bulan Maret 1944,Jepang melancarkan invasi pertama dari dua rencananya, operasi
melawan posisi Britania di Assam, India,[205] dan kemudian mengepung posisi
Persemakmuran di Imphal dan Kohima.[206] Bulan Mei 1944, pasukan Britania melakukan
serangan balasan yang mendorong tentara Jepang kembali ke Burma,[206] dan
pasukan Cina yang menyerbu Burma utara pada akhir 1943 mengepung tentara Jepang
di Myitkyina.[207] Invasi Jepang kedua berupaya menghancurkan pasukan tempur
utama Cina, melindungi jalur kereta api di antara teritori dudukan Jepang dan
menduduki lapangan udara Sekutu.[208] Bulan Juni, Jepang telah menguasai
provinsi Henan dan memulai serangan baru terhadap Changsha di provinsi
Hunan.[209]
Sekutu mendekat (1944)[sunting | sunting sumber]
Invasi Normandia oleh Sekutu, 6 Juni 1944
Personil dan perlengkapan Pasukan Merah melintasi sungai
saat musim panas utara 1944
Pada tanggal 6 Juni 1944 (dikenal sebagai D-Day), setelah
tiga tahun ditekan Soviet,[143] Sekutu Barat menyerbu Perancis Utara. Setelah
menyusun kembali beberapa divisi Sekutu dari Italia, mereka juga menyerang
Perancis Selatan.[210] Semua pendaratan ini berhasil dan berakhir dengan
kekalahan unit Angkatan Darat Jerman di Perancis. Paris dibebaskan oleh
pemberontakan lokal yang dibantu Pasukan Perancis Merdeka pada tanggal 25
Agustus[211] dan Sekutu Barat terus memukul pasukan Jerman di Eropa Timur
sepanjang paruh terakhir tahun ini. Sebuah upaya bergerak maju melintasi Jerman
Utara yang diawali dengan operasi udara besar-besaran di Belanda tidak
berhasil.[212] Setelah itu, Sekutu Barat pelan-pelan masuk wilayah Jerman,
namun gagal menyeberangi Sungai Rur dalam serangan besar. Di Italia, serbuan
Sekutu juga terhambat saat mereka melintasi garis pertahanan besar Jerman terakhir.
Pada tanggal 22 Juni, Soviet mengadakan serangan
strategis di Belarus ("Operasi Bagration") yang berakhir dengan
nyaris kehancuran total Pusat Grup Angkatan Darat Jerman.[213] Tidak lama
selepas itu, serangan strategis Soviet lainnya mengusir tentara Jerman dari
Ukraina Barat dan Polandia Timur. Pergerakan Soviet sukses memaksa pasukan
pemberontak di Polandia memulai sejumlah pemberontakan, meski yang terbesar di
Warsawa, serta Pemberontakan Slowakia di selatan, tidak dibantu Soviet dan
dipadamkan oleh pasukan Jerman.[214] Serangan strategis Pasukan Merah di
Rumania timur memecah belah dan menghancurkan pasukan Jerman di sana sekaligus
berhasil menggulingkan pemerintahan di Rumania dan Bulgaria, diikuti dengan
memihaknya negara-negara tersebut ke Sekutu.[215]
Milisi Polandia pada Pemberontakan Warsawa yang
menewaskan 200.000 warga sipil.
Pada bulan September 1944, tentara Angkatan Darat Merah
Soviet melaju hingga Yugoslavia dan memaksa penarikan cepat Grup Angkatan Darat
Jerman E dan F di Yunani, Albania, dan Yugoslavia untuk menyelamatkan mereka
dari kehancuran.[216] Pada saat ini, Partisan Komunis pimpinan Marsekal Josip
Broz Tito, yang memulai kampanye gerilya sukses melawan pendudukan sejak 1941,
menguasai sebagian besar teritori Yugoslavia dan terlibat dalam menunda
serangan terhadap pasukan Jerman di selatan. Di Serbia utara, Pasukan Merah,
dengan bantuan terbatas dari pasukan Bulgaria, membantu Partisan dalam
pembebasan bersama ibu kota Belgrade tanggal 20 Oktober. Beberapa hari
kemudian, Soviet melancarkan serangan massal terhadap Hongaria dudukan Jerman
yang berlangsung sampai jatuhnya Budapest pada bulan Februari 1945.[217]
Kebalikan dengan kemenangan impresif Soviet di Balkan, pemberontakan Finlandia
terhadap serangan Soviet di Tanah Genting Karelia menggagalkan pendudukan
Soviet di Finlandia dan berakhir dengan penandatanganan gencatan senjata
Soviet-Finlandia pada kondisi relatif kondusif,[218][219] disertai memihaknya
Finlandia ke Sekutu.
Pada awal Juli, pasukan Persemakmuran di Asia Tenggara menggagalkan
pengepungan Jepang di Assam, memukul pasukannya kembali hingga Sungai
Chindwin[220] sementara Cina mencaplok Myitkyina. Di Cina, Jepang menuai
kesuksesan besar, berhasil mencaplok Changsha pada pertengahan Juni dan kota
Hengyang pada awal Agustus.[221] Selepas itu, mereka menyerbu provinsi Guangxi,
memenangkan pertempuran besar melawan pasukan Cina di Guilin dan Liuzhou pada
akhir November[222] dan berhasil menyatukan pasukan mereka di Tiongkok dan
Indocina pada pertengahan Desember.[223]
Di Pasifik, pasukan Amerika Serikat terus menekan mundur
perimeter Jepang. Pada pertengahan Juni 1944, mereka memulai serangan ke
Kepulauan Mariana dan Palau, dan dengan telak mengalahkan pasukan Jepang pada
Pertempuran Laut Filipina. Kekalahan-kekalahan ini memaksa Perdana Menteri
Jepang Tōjō mengundurkan diri dan memberi Amerika Serikat keunggulan atas
pangkalan udara baru untuk melancarkan serangan bom besar-besaran di kepulauan
utama Jepang. Pada akhir Oktober, pasukan Amerika Serikat menyerbu pulau Leyte,
Filipina; tidak lama kemudian, angkatan laut Sekutu mencetak kemenangan besar
pada Pertempuran Teluk Leyte, salah satu pertempuran laut terbesar sepanjang
sejarah.[224]
Poros runtuh, Sekutu menang (1945)[sunting | sunting
sumber]
Tanggal 16 Desember 1944, Jerman mengupayakan kesuksesan
terakhirnya di Front Barat dengan mengerahkan sisa-sisa pasukan cadangannya
untuk melancarkan serangan balasan massal di Ardennes untuk memecah belah
Sekutu Barat, mengepung sebagian besar tentara Sekutu Barat dan menaklukkan pelabuhan
suplai utama mereka di Antwerp demi mencapai penyelesaian politik.[225] Pada
Januari, serangan ini digagalkan tanpa satu tujuan strategis pun yang
tercapai.[225] Di italia, Sekutu Barat tetap buntu di garis pertahanan Jerman.
Pada pertengahan Januari 1945, Soviet menyerbu Polandia, bergerak dari Sungai
Vistula ke Sungai Oder di Jerman, dan menduduki Prusia Timur.[226] Tanggal 4
Februari, para pemimpin A.S., Britania Raya, dan Soviet bertemu di Konferensi
Yalta. Mereka menyetujui pendudukan di Jerman pascaperang,[227] dan Uni Soviet
bergabung dalam perang melawan Jepang.[228]
Pada bulan Februari, Soviet menginvasi Silesia dan
Pomerania, sementara Sekutu Barat memasuki Jerman Barat dan mendekati Sungai
Rhine. Bulan Maret, Sekutu Barat melintasi Rhine di utara dan selatan Ruhr,
mengepung Grup Agkatan Darat Jerman B,[229] sementara Soviet melaju ke Wina.
Pada awal April, Sekutu Barat akhirnya berhasil membuat kemajuan di Italia dan
bergerak melintasi Jerman Barat, sementara pasukan Soviet menyerbu Berlin pada
akhir April; kedua pasukan bertemu di sungai Elbe tanggal 25 April. Tanggal 30
April 1945, Reichstag diduduki dan menandakan kekalahan militer Reich
Ketiga.[230]
Sejumlah perubahan kepemimpinan terjadi pada masa ini.
Tanggal 12 April, Presiden A.S. Roosevelt meninggal dunia dan digantikan oleh
Harry Truman. Benito Mussolini dibunuh oleh partisan Italia tanggal 28
April.[231] Dua hari kemudian, Hitler bunuh diri dan digantikan oleh Laksamana
Agung Karl Dönitz.[232]
Pasukan Jerman menyerah di Italia pada tanggal 29 April.
Instrumen penyerahan diri Jerman ditandatangani tanggal 7 Mei di Reims,[233]
dan diratifikasi tanggal 8 Mei di Berlin.[234] Pusat Grup Angkatan Darat Jerman
bertahan di Praha sampai 11 Mei.[235]
Di teater Pasifik, pasukan Amerika Serikat dibantu
Persemakmuran Filipina bergerak maju di Filipina, membebaskan Leyte pada akhir
April 1945. Mereka mendarat di Luzon bulan Januari 1945 dan mencaplok Manila
bulan Maret setelah pertempuran yang menghancurkan kota ini. Pertempuran
berlanjut di Luzon, Mindanao dan pulau-pulau lain di Filipina sampai
berakhirnya perang.[236]
Bulan Mei 1945, tentara Australia mendarat di Kalimantan
dan menduduki ladang minyak di sana. Pasukan Britania, Amerika Serikat, dan
Cina mengalahkan Jepang di Burma utara pada bulan Maret, dan Britania mencapai
Rangoon pada tanggal 3 Mei.[237] Pasukan Cina mulai balas menyerang pada
Pertempuran Hunan Barat yang pecah antara 6 April dan 7 Juni 1945. Pasukan
Amerika Serikat juga bergerak ke Jepang, mencaplok Iwo Jima pada bulan Maret,
dan Okinawa pada akhir Juni.[238] Pesawat pengebom Amerika Serikat
menghancurkan kota-kota Jepang dan kapal selam Amerika Serikat memutuskan impor
Jepang.[239]
Tanggal 11 Juli, para pemimpin Sekutu bertemu di Potsdam,
Jerman. Mereka menyetujui perjanjian awal tentang Jerman,[240] dan menegaskan
tuntutan penyerahan diri semua pasukan Jepang oleh Jepang, dengan menyatakan
bahwa "alternatif bagi Jepang adalah kehancuran dalam waktu
singkat".[241] Dalam konferensi ini, Britania Raya mengadakan pemilu dan
Clement Attlee menggantikan Churchill sebagai Perdana Menteri.[242]
Saat Jepang terus mengabaikan persyaratan Potsdam,
Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang,
pada awal Agustus. Di antara kedua pengeboman ini, Soviet, sesuai perjanjian
Yalta, menyerbu Manchuria dudukan Jepang dan dengan cepat mengalahkan Angkatan
Darat Kwantung yang saat itu merupakan pasukan tempur Jepang
terbesar.[243][244] Pasukan Merah juga menduduki Pulau Sakhalin dan Kepulauan
Kuril. Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah dengan penandatanganan
dokumen penyerahan diri di atas geladak kapal perang Amerika Serikat USS
Missouri pada tanggal 2 September 1945, sehingga mengakhiri perang ini.[233]
Tentara Amerika Serikat dan Soviet bertemu bulan April
1945 di timur Sungai Elbe.
Jalanan pusat kota Berlin yang hancur pasca-Pertempuran
Berlin, diambil tanggal 3 Juli 1945.
Ledakan atom di Nagasaki, 9 Agustus 1945.
Dampak[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dampak Perang
Dunia II
Sekutu mendirikan pemerintahan pendudukan di Austria dan
Jerman. Negara pertama menjadi negara netral dan tidak memihak dengan blok
politik manapun. Negara terakhir dibelah menjadi zona pendudukan barat dan
timur yang dikuasai Sekutu Barat dan Uni Soviet. Program denazifikasi di Jerman
melibatkan pengadilan penjahat perang Nazi dan penggulingan mantan Nazi dari
kekuasaan, meski kebijakan ini lebih condong ke amnesti dan reintegrasi mantan
Nazi ke masyarakat Jerman Barat.[245]
Jerman kehilangan seperempat wilayahnya sebelum perang
(1937), wilayah timur: Silesia, Neumark dan sebagian besar Pomerania diambil
alih Polandia; Prusia Timur dibagi antara Polandia dan Uni Soviet, diikuti
dengan pengusiran 9 juta warga Jerman dari provinsi-provinsi tersebut, serta 3
juta warga Jerman dari Sudetenland di Cekoslowakia ke Jerman. Pada 1950-an,
satu dari lima orang Jerman Barat adalah pengungsi dari timur. Uni Soviet juga
menduduki provinsi milik Polandia di sebelah timur Garis Curzon (melibatkan
pengusiran 2 juta warga Polandia),[246] Rumania Timur,[247][248] dan sebagian Finlandia
timur,[249] serta tiga negara Baltik.[250][251]
Perdana Menteri Winston Churchill memberi tanda
"Victory" kepada kerumunan di London pada Hari Kemenangan di Eropa.
Demi mempertahankan perdamaian,[252] Sekutu mendirikan
Perserikatan Bangsa-Bangsa yang resmi berdiri tanggal 24 Oktober 1945,[253] dan
mengadopsi Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia tahun 1948 sebagai standar
umum bagi semua negara anggotanya.[254] Kekuatan-kekuatan besar yang menjadi
pemenang perang—Amerika Serikat, Uni Soviet, Cina, Britania Raya, dan
Perancis—menjadi anggota permanen Dewan Keamanan PBB.[3] Kelima anggota
permanen ini masih ada sampai sekarang, meski terjadi perubahan dua kursi,
angata Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok tahun 1971, dan antara
Uni Soviet dan negara penggantinya, Federasi Rusia, setelah pembubaran UNi
Soviet. Aliansi antara Sekutu Barat dan Uni Soviet mulai memburuk, bahkan sejak
sebelum perang berakhir.[255]
Jerman dibagi secara de facto, dan dua negara merdeka,
Republik Federal Jerman dan Republik Demokratik Jerman[256] dibentuk di dalam
perbatasan zona pendudukan Sekutu dan Soviet. Seluruh Eropa terbagi antara
cakupan pengaruh Barat dan Soviet.[257] Kebanyakan negara Eropa timur dan
tengah masuk dalam cakupan Soviet yang melibatkan pendirian rezim-rezim Komunis
dengan dukungan penuh atau setengah dari otoritas pendudukan Soviet. Akibatnya,
Polandia, Hongaria,[258] Cekoslowakia,[259] Rumania, Albania,[260] dan Jerman
Timur menjadi negara satelit Soviet. Yugoslavia Komunis melaksanakan kebijakan
merdeka penuh yang menciptakan ketegangan dengan Uni Soviet.[261]
Pembagian dunia pascaperang diresmikan oleh dua aliansi
militer internasional, NATO pimpinan Amerika Serikat dan Pakta Warsawa pimpinan
Soviet;[262] periode panjang ketegangan politik dan persaingan militer di
antara mereka, Perang Dingin, akan dilengkapi oleh perlombaan senjata dan
perang proksi yang tidak terduga.[263]
Di Asia, Amerika Serikat memimpin pendudukan Jepang dan
menguasai bekas pulau-pulau Jepang di Pasifik Barat, sementara Soviet
menganeksasi Sakhalin dan Kepulauan Kuril.[264] Korea, sebelumnya di bawah
kekuasaan Jepang, dibagi dan diduduki oleh Amerika Serikat di Selatan dan Uni
Soviet di Utara antara 1945 dan 1948. Republik terpisah muncul di kedua sisi
garis paralel ke-38 pada tahun 1948, masing-masing mengklaim sebagai
pemerintahan sah untuk seluruh Korea dan berujung pada pecahnya Perang
Korea.[265]
Di Cina, pasukan nasionalis dan komunis melanjutkan
perang saudara pada bulan Juni 1946. Pasukan komunis menang dan mendirikan
Republik Rakyat Tiongkok di daratan, sementara pasukan nasionalis mundur ke
Taiwan tahun 1949.[266] Di Timur Tengah, penolakan Arab terhadap Rencana
Pembagian Palestina Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pembentukan Israel menandai
eskalasi konflik Arab-Israel. Saat kekuatan-kekuatan kolonial Eropa berupaya
merebut kembali sebagian atau semua imperium kolonialnya, kehilangan prestise
dan sumber daya saat perang justru menggagalkan upaya ini dan mendorong
dilakukannya dekolonisasi.[267][268]
Ekonomi global menderita akibat perang, meski
negara-negara yang terlibat terpengaruh dengan berbagai cara. Amerika Serikat
tampil lebih kaya daripada negara lain; negara ini mengalami ledakan bayi dan
pada tahun 1950 produk domestik bruto per orangnya lebih tinggi daripada
negara-negara besar lain dan Amerika Serikat mendominasi ekonomi
dunia.[269][270] Britania Raya dan Amerika Serikat menerapkan kebijakan
pelucutan industri di Jerman Barat pada tahun 1945–1948.[271] Akibat
perdagangan internasional yang saling tergantung, hal ini menciptakan stagnasi
ekonomi di Eropa dan menunda pemulihan Eropa selama beberapa tahun.[272][273]
Pemulihan dimulai dengan reformasi mata uang di Jerman
Barat pada pertengahan 1948 dan dipercepat oleh liberalisasi kebijakan ekonomi
Eropa yang dipengaruhi Rencana Marshall (1948–1951) baik secara langsung maupun
tidak langsung.[274][275] Pemulihan Jerman Barat pasca-1948 disebut-sebut
sebagai keajaiban ekonomi Jerman.[276] Selain itu, ekonomi Italia[277][278] dan
Perancis juga meroket.[279] Kebalikannya, Britania Raya berada dalam fase
kekacauan ekonomi,[280] dan terus memburuk selama beberapa dasawarsa.[281]
Uni Soviet, meski menderita kerugian manusia dan material
yang luar biasa, juga mengalami peningkatan pesat produksi pada masa-masa pascaperang.[282]
Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat, menjadi salah satu ekonomi terkuat
dunia pada tahun 1980-an.[283] Cina kembali ke produksi industrinya sebelum
perang pada tahun 1952.[284]
Peta kolonisasi dunia tahun 1945. Dengan berakhirnya perang,
perang pembebasan bangsa tercipta, berakhir dengan pembentukan Israel dan
dekolonisasi Asia dan Afrika.
Komandan Agung 5 Juni 1945 di Berlin:
Korban dan kejahatan perang[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Korban Perang
Dunia II dan Kejahatan perang pada Perang Dunia II
Korban jiwa Perang Dunia II
Perkiraan total korban perang bervariasi, karena banyak
kematian yang tidak tercatat. Kebanyakan pihak memperkirakan sekitar 60 juta
orang tewas dalam perang, termasuk 20 juta tentara dan 40 juta warga
sipil.[285][286][287] Banyak warga sipil tewas akibat wabah, kelaparan,
pembantaian, pengeboman, dan genosida yang disengaja. Uni Soviet kehilangan
sekitar 27 juta rakyatnya sepanjang perang,[288] termasuk 8,7 juta personil
militer dan 19 juta warga sipil. Pangsa korban jiwa militer terbesar adalah
etnis Rusia (5.756.000), diikuti etnis Ukraina (1,377,400).[289] Satu dari
empat warga sipil Sovet dibunuh atau terluka dalam perang ini.[290] Jerman
mengalami 5,3 juta kematian militer, kebanyakan di Front Timur dan sepanjang
pertempuran terakhir di Jerman.[291]
Dari total korban tewas pada Perang Dunia II, sekitar 85
persen—kebanyakan Soviet dan Cina—berada di pihak Sekutu dan 15 persen sisanya
di pihak Poros. Sebagian besar kematian ini diakibatkan oleh kejahatan perang
yang dilakukan pasukan Jerman dan Jepang di wilayah pendudukan. Sekitar 11[292]
sampai 17 juta[293] warga sipil tewas akibat kebijakan ideologi Nazi secara
langsung maupun tidak langsung, termasuk genosida sistematis sekitar enam juta
kaum Yahudi sepanjang Holocaust ditambah lima juta bangsa Roma, homoseksual,
serta Slav dan suku bangsa atau kaum minoritas lainnya.[294]
Secara kasar 7,5 juta warga sipil tewas di Tiongkok
selama pendudukan Jepang.[295] Ratusan ribu (perkiraan bervariasi) etnis
Serbia, bersama gipsi dan Yahudi, dibunuh oleh Ustaše Kroasia yang berpihak
pada Poros di Yugoslavia,[296] dengan pembunuhan balas dendam terhadap warga
sipil Kroasia tepat setelah perang berakhir.
Warga sipil Cina hendak dikubur hidup-hidup oleh tentara
Jepang.
Kekejaman Jepang yang paling terkenal adalah Pembantaian
Nanking, yaitu ketika sekian ratus ribu warga sipil Cina diperkosa dan
dibunuh.[297] Antara 3 juta hingga lebih dari 10 juta warga sipil, kebanyakan
etnis Tionghoa, dibunuh oleh pasukan pendudukan Jepang.[298] Mitsuyoshi Himeta
melaporkan 2,7 juta korban jiwa selama dilaksanakannya Sankō Sakusen. Jenderal
Yasuji Okamura menerapkan kebijakan ini di Heipei dan Shantung.[299]
Pasukan Poros memakai senjata biologis dan kimia dalam
jumlah terbatas. Italia memakai gas mustar saat menaklukkan Abisinia,[300]
sementara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang memakai berbagai macam senjata saat
menyerbu dan menduduki Cina (lihat Unit 731)[301][302] dan pada konflik awal
melawan Soviet.[303] Baik Jerman dan Jepang menguji senjata-senjata tersebut
terhadap warga sipil[304] serta tahanan perang.[305]
Meski banyak aksi Poros diadili dalam pengadilan
internasional pertama di dunia,[306] insiden yang diakibatkan pihak Sekutu
tidak diadili. Misalnya, pemindahan penduduk di Uni Soviet dan penahanan warga
Jepang Amerika di Amerika Serikat; Operasi Keelhaul,[307] pengusiran penduduk
Jerman setelah Perang Dunia II, pemerkosaan pada pendudukan Jerman; pembantaian
Katyn oleh Uni Soviet, yang tanggung jawabnya dituduhkan kepada Jerman.
Sejumlah besar kematian akibat kelaparan juga disebabkan oleh perang, seperti
kelaparan Bengal 1943 dan kelaparan Vietnam 1944–45.[308]
Sejumlah sejarawan, seperti Jörg Friedrich, menegaskan
bahwa pengeboman massal kawasan berpenduduk di wilayah musuh, termasuk Tokyo
dan terutama kota-kota Jerman di Dresden, Hamburg, dan Koln oleh Sekutu Barat,
yang mengakibatkan kehancuran lebih dari 160 kota dan kematian 600.000 warga sipil
Jerman, bisa dianggap sebagai kejahatan perang.[309]
Kamp konsentrasi dan perbudakan[sunting | sunting sumber]
Informasi lebih lanjut: Holocaust, Konsekuensi Nazisme,
Kejahatan perang Jepang, dan Kejahatan perang Sekutu pada Perang Dunia II
Jenazah di kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen setelah
dibebaskan, kemungkinan tahanan politik atau tahanan perang Soviet
Nazi bertanggung jawab atas terjadinya Holocaust, yaitu
pembunuhan sekitar enam juta (meskipun jumlahnya diragukan) kaum Yahudi
(kebanyakan Ashkenazim), serta dua juta etnis Polandia dan empat juta orang
lainnya yang dianggap "tidak layak hidup" (termasuk orang cacat dan
sakit jiwa, tahanan perang Soviet, homoseksual, Freemason, Saksi-Saksi Yehuwa,
dan Romani) sebagai bagian dari program pemusnahan dengan sengaja. Sekitar 12
juta orang, kebanyakan penduduk Eropa Timur, dipekerjakan sebagai buruh paksa
di ekonomi perang Jerman.[310] Terlepas dari semua itu, ada beberapa pihak yang
meragukan jumlah korban Holocoust. Mereka beranggapan bahwa korban Holocoust
tidak sampai mencapai 6 juta orang, melainkan hanya ratusan ribu saja.
Peristiwa ini juga dianggap oleh pihak-pihak tertentu sebagai propaganda untuk
menarik simpati terhadap berdirinya negara Israel. Banyaknya negara-negara
Eropa memberikan hukuman bagi siapa saja yang tidak percaya pada peristiwa
Holocoust dan seringnya peristiwa ini ditunjukkan dalam film-film dan dalam
buku-buku sejarah, membuat pihak-pihak tersebut ragu akan kebenaran peristiwa
ini. Namun, terlepas dari semua keraguan itu, peristiwa pembantaian dan
penyiksaan terhadap Yahudi benar-benar ada, meskipun jumlah korbannya masih
kontroversial.
Selain kamp konsentrasi Nazi, gulag (kamp buruh) Soviet
mengakibatkan kematian warga sipil negara-negara yang diduduki seperti
Polandia, Lituania, Latvia, dan Estonia, serta tahanan perang Jerman dan bahkan
warga sipil Soviet yang dianggap mendukung Nazi.[311] Enam puluh persen tahanan
perang Jerman di Soviet tewas sepanjang perang.[312] Richard Overy memberi
jumlah 5,7 juta tahanan perang Soviet. Dari jumlah tersebut, 57 persen
meninggal dunia atau dibunuh dengan jumlah 3,6 juta orang.[313] Mantan tahanan
perang Soviet dan warga sipil yang pulang diperlakukan dengan kecurigaan luar
biasa sebagai pendukung Nazi yang potensial, dan beberapa di antara mereka
dikirim ke Gulag setelah diperiksa NKVD.[314]
Kamp tahanan perang Jepang, kebanyakan dipakai sebagai
kamp buruh, juga memiliki tingkat kematian tinggi. Pengadilan Militer
Internasional untuk Timur Jauh menemukan tingkat kematian tahanan Barat adalah
27,1 persen (37 persen untuk tahanan perang Amerika Serikat),[315] tujuh kali
lebih tinggi daripada tahanan perang di Jerman dan Italia.[316] Sementara
37.583 tahanan dari Britania Raya, 28.500 dari Belanda, dan 14.743 dari Amerika
Serikat dilepaskan setelah penyerahan diri Jepang, tahanan Cina yang dilepas
hanya 56 orang.[317]
Menurut sejarawan Zhifen Ju, sedikitnya lima juta warga
sipil Cina dari Tiongkok utara dan Manchukuo diperbudak antara 1935 dan 1941
oleh Dewan Pembangunan Asia Timur, atau Kōain, untuk bekerja di pertambangan
dan industri perang. Setelah 1942, jumlah ini mencapai 10 juta orang.[318] U.S.
Library of Congress memperkirakan bahwa di Jawa, antar 4 dan 10 juta romusha
(bahasa Indonesia: "buruh manual"), dipaksa bekerja oleh militer Jepang.
Sekitar 270.000 buruh Jawa dikirim ke wilayah pendudukan Jepang lain di Asia
Tenggara, dan hanya 52.000 orang yang pulang ke Jawa.[319]
Pada tanggal 19 Februari 1942, Roosevelt menandatangani
Perintah Eksekutif 9066 yang menahan ribuan orang Jepang, Italia, Jerman
Amerika, dan sejumlah emigran dari Hawaii yang mengungsi setelah pengeboman
Pearl Harbor sampai perang berakhir. Pemerintah A.S. dan Kanada menahan 150.000
warga Jepang Amerika.[320][321] Selain itu, 14.000 penduduk Jerman dan Italia
di A.S. yang dianggap sebagai risiko keamanan juga ditahan.[322]
Sesuai perjanjian Sekutu pada Konferensi Yalta, jutaan
tahanan perang dan warga sipil dimanfaatkan sebagai buruh paksa oleh Uni
Soviet.[323] Dalam hal Hongaria, penduduknya dipaksa bekerja untuk Uni Soviet
sampai 1955.[324]
Front dalam negeri dan produksi[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Produksi militer
pada Perang Dunia II dan Front dalam negeri pada Perang Dunia II
Rasio PDB Sekutu dibandingkan dengan Poros
Di Eropa, sebelum pecah perang, Sekutu memiliki
keunggulan signifikan dalam hal populasi dan ekonomi. Pada tahun 1938, Sekutu
Barat (Britania Raya, Perancis, Polandia, dan Jajahan Britania) memiliki
populasi 30 persen lebih besar dan produk domestik bruto 30 persen lebih besar
daripada Poros Eropa (Jerman dan Italia); jika koloni disertakan dalam
hitungan, Sekutu mendapatkan keunggulan 5:1 dalam jumlah penduduk dan 2:1 dalam
PDB.[325] Di Asia pada saat yang sama, Cina memiliki jumlah penduduk enam kali
lebih banyak daripada Jepang, tetapi PDB yang 89 persen lebih tinggi; jumlah
ini berkurang menjadi populasi tiga kali lebih banyak dan PDB 38 persen lebih
tinggi jika koloni-koloni Jepang disertakan dalam hitungan.[325]
Meski keunggulan ekonomi dan populasi Sekutu dimanfaatkan
besar-besaran selama serangan blitzkrieg awal Jerman dan Jepang, mereka menjadi
faktor penentu pada tahun 1942, setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet
bergabung dengan Sekutu, setelah sebagian besar perang ini menjadi perang
atrisi.[326] Sementara kemampuan Sekutu untuk melampaui produksi Poros sering
dikaitkan dengan akses Sekutu yang besar ke sumber daya alam, faktor-faktor
lain, seperti keengganan Jerman dan Jepang untuk mempekerjakan wanita dalam
tenaga kerja,[327][328] pengeboman strategis oleh Sekutu,[329][330] dan
peralihan terbaru Jerman ke ekonomi perang[331] sangat berkontribusi besar.
Selain itu, baik Jerman maupun Jepang tidak berencana mengadakan perang yang
berkepanjangan, dan tidak sanggup melakukannya.[332][333] Untuk meningkatkan
produksi mereka, Jerman dan Jepang memanfaatkan jutaan buruh budak;[334] Jerman
memanfaatkan 12 juta orang, kebanyakan dari Eropa Timur,[310] sementara Jepang
memanfaatkan lebih dari 18 juta orang di Asia Timur Jauh.[318][319]
Pendudukan[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kolaborasi dengan
Kekuatan Poros pada Perang Dunia II, Pemberontakan pada Perang Dunia II, dan
Eropa dudukan Jerman
Partisan Soviet digantung oleh tentara Jerman pada
Januari 1943
Di Eropa, pendudukan muncul dalam dua bentuk yang sangat
berbeda. Di Eropa Barat, Utara, dan Tengah (Perancis, Norwegia, Denmark,
Negara-Negara Hilir, dan wilayah Cekoslowakia yang dianeksasi), Jerman
menerapkan kebijakan ekonomi yang berhasil mengumpulkan 69,5 miliar reichmark
(27,8 miliar dolar AS) pada akhir perang; jumlah ini tidak meliputi perampokan
produk industri, perlengkapan militer, bahan mentah, dan barang-barang
lain.[335] Dari situ, pendapatan yang muncul dari negara-negara pendudukan
mencapai 40 persen dari pendapatan yang dikumpulkan Jerman dari pajak, jumlah
yang meningkat hampir 40 persen dari total pendapatan Jerman sepanjang
perang.[336]
Di Timur, keuntungan yang diharapkan dari Lebensraum
tidak pernah didapatkan karena garis depan yang berfluktuasi dan kebijakan bumi
hangus Soviet memusnahkan sumber daya bagi para penjajah Jerman.[337] Tidak
seperti di Barat, kebijakan ras Nazi mengizinkan kekejaman berlebihan terhadap
"orang inferior" keturunan Slavik; sebagian besar serbuan Jerman
disertai dengan eksekusi massal.[338] Meski kelompok pemberontak berdiri di
hampir semua teritori pendudukan, mereka tidak mengganggu operasi Jerman baik
di Timur[339] maupun Barat[340] sampai akhir tahun 1943.
Di Asia, Jepang menyebut negara-negara di bawah
pendudukannya sebagai bagian dari Lingkup Persemakmuran Asia Timur Raya, yang
pada dasarnya merupakan hegemoni Jepang yang diklaim bertujuan membebaskan
bangsa yang dikolonisasi.[341] Meski pasukan Jepang awalnya disambut sebagai
pembebas dari dominasi Eropa di sejumlah daerah, kekejaman mereka yang
berlebihan mengubah opini publik menjadi menentang mereka dalam hitungan
minggu.[342] Selama penaklukan awal Jepang, negara ini mencaplok 4.000.000
barrel (640,000 m3) minyak (~5.5×105 ton) yang ditinggalkan oleh pasukan Sekutu
yang mundur, dan pada tahun 1943 Jepang mampu merebut produksi minyak di Hindia
Timur Belanda hingga Templat:Bbl to t, 76 persen dari tingkat produksinya tahun
1940.[342]
Kemajuan teknologi dan peperangan[sunting | sunting
sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Teknologi pada
Perang Dunia II
Pesawat terbang dimanfaatkan sebagai alat mata-mata,
pesawat tempur, pengebom, dan bantuan darat, dan masing-masing perannya
memperoleh kemajuan yang berarti. Inovasi-inovasi yang muncul meliputi
pengangkutan udara (kemampuan memindahkan suplai, perlengkapan, dan personil
berprioritas tinggi dan terbatas dalam waktu singkat);[343] dan pengeboman
strategis (pengeboman kawasan berpenduduk untuk menghancurkan industri dan
moral).[344] Persenjataan antipesawat juga dikembangkan, termasuk pertahanan
radar dan artileri darat-ke-udara, seperti senjata 88 mm Jerman. Pemakaian
pesawat jet dimulai dan meski pengenalannya yang terlambat memberi sedikit
pengaruh, pesawat jet kelak menjadi standar angkatan udara di seluruh dunia.[345]
Kemajuan dibuat di hampir segala aspek pertempuran laut,
terutama kapal angkut pesawat (kapal induk) dan kapal selam. Meski sejak awal
perang, peperangan udara menuai sedikit kesuksesan, berbagai aksi di Taranto,
Pearl Harbor, Laut Cina Selatan, dan Laut Koral membuat kapal induk dianggap
mampu menggantikan kapal perang.[346][347][348]
Di Atlantik, kapal induk pengawal terbukti memainkan
peran penting dalam konvoi Sekutu dan meningkatkan radius perlindungan efektif
serta membantu menutup celah Atlantik Tengah.[349] Kapal induk juga lebih
ekonomis daripada kapal perang karena biaya produksi pesawat yang relatif
rendah[350] dan tidak perlu diperkuat habis-habisan.[351] Kapal selam, terbukti
merupakan senjata efektif pada Perang Dunia Pertama,[352] diantisipasi oleh
semua pihak sebagai sesuatu yang terpenting nomor dua. Britania memfokuskan
pengembangan persenjataan dan taktik antikapal selam, seperti sonar dan konvoi,
sementara Jerman berfokus pada memperbarui kemampuan serangannya dengan desain
seperti kapal selam Tipe VII dan taktik wolfpack.[353] Secara perlaham,
teknologi baru Sekutu seperti sinar Leigh, hedgehog, squid, dan torpedo lacak
terbukti unggul.
Peperangan darat berubah dari garis depan statis pada
Perang Dunia I ke peningkatan mobilitas dan senjata gabungan. Tank, yang sering
dipakai untuk membantu infanteri saat Perang Dunia Pertama, berubah menjadi
senjata utama.[354] Pada akhir 1930-an, desain tank lebih maju dibandingkan
saat Perang Dunia I,[355] dan kemajuan terjadi sepanjang perang melalui
peningkatan kecepatan, pertahanan, dan daya tembak.
Saat perang dimulai, kebanyakan komandan menduga tank
musuh harus bertemu tank dengan spesifikasi yang lebih hebat.[356] Ide ini
ditantang oleh performa buruk senjata tank awal yang relatif ringan melawan
kendaraan lapis baja, dan doktrin Jerman menghindari pertempuran
tank-versus-tank. Hal ini, bersama pemakaian senjata gabungan oleh Jerman,
termasuk di antara leemen kunci kesuksesan taktik blitzkrieg mereka di Polandia
dan Perancis.[354] Banyak cara untuk menghancurkan tank, termasuk dengan
artileri tidak langsung, senjata antitank (baik yang ditarik maupun gerak
sendiri), ranjau, senjata antitank infanteri jarak pendek, dan bahkan tank lain
pun diikutsertakan.[356] Bahkan dengan mekanisasi besar-besaran, infanteri
masih merupakan tulang punggung seluruh pasukan,[357] dan sepanjang perang,
sebagian besar infanteri memiliki perlengkapan yang sama seperti saat Perang
Dunia I.[358]
Senjata mesin portabel meluas, seperti MG42 Jerman dan
berbagai senjata submesin yang dimodifikasi untuk pertempuran jarak dekat di
perkotaan dan hutan.[358] Bedil serang, sebuah pengembangan akhir perang yang
mencakup berbagai fitur bedil dan senjata submesin, menjadi senjata standar
infanteri pascaperang untuk sebagian besar angkatan bersenjata.[359][360]
Sebagian besar pihak yang terlibat berupaya memecahkan
masalah kompleksitas dan kerumitan yang muncul dari pemakaian buku kode besar
untuk kriptografi dengan memakai mesin sandi, yang paling terkenal adalah mesin
Enigma Jerman.[361] SIGINT (signals intelligence) adalah proses melawan
dekripsi yang pernah dipakai oleh Sekutu untuk memecahkan kode laut Jepang[362]
dan Ultra dari Britania Raya, berasal dari metodologi dari Polish Cipher
Bureau, yang berhasil mengungkap Enigma selama tujuh tahun sebelum perang.[363]
Aspek lain intelijen militer adalah pemakaian kebohongan, yang berhasil dipakai
oleh Sekutu dengan kesuksesan besar seperti dalam operasi Mincemeat dan
Bodyguard.[362][364] Kemajuan teknologi dan rekayasa lainnya tercapai sepanjang
atau setelah perang, termasuk komputer-komputer terprogram pertama di dunia
(Z3, Colossus, dan ENIAC), misil pandu dan roket modern, pengembangan senjata
nuklir Proyek Manhattan, penelitian operasi dan pengembangan pelabuhan buatan
dan jalur pipa di bawah Selat Inggris.[365]
Boeing B-17E Amerika Serikat. Sekutu kehilangan 160.000
penerbang dan 33.700 pesawat sepanjang perang udara di Eropa.[366]
Jepang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ini adalah artikel pilihan. Klik di sini untuk informasi
lebih lanjut.
Jepang
日本国
Nippon-koku atau Nihon-koku
Bendera Segel
Kekaisaran
Lagu kebangsaan:
"Kimigayo"
"君が代"
MENU0:00
Segel Pemerintahan:
Segel Kantor Perdana Menteri dan Pemerintah Jepang
五七桐
(Go-Shichi no Kiri?)
Ibu kota
(dan kota terbesar) Tokyo
[1]
35°41′LU 139°46′BT
Bahasa resmi Bahasa
Jepang [2]
Bahasa daerah
yang diakui Aynu
itak, bahasa Ryukyu, dan dialek bahasa Jepang
Bahasa nasional
Aksara nasional
Bahasa Jepang
Kanji
Hiragana
Katakana
Kelompok etnik 98,5%
Jepang, 0,5% Korea, 0,4% Tionghoa, 0,6% lain-lain[3]
Pemerintahan Monarki
konstitusional, sistem parlementer
- Kaisar Akihito
- Perdana Menteri Shinzō Abe
Legislatif Parlemen
Jepang
- Majelis Tinggi Majelis Tinggi Jepang (Sangi-in)
- Majelis Rendah Majelis Rendah Jepang (Shugi-in)
Pendirian negara
- Hari Pendirian Negara 11 Februari 660 SM[4]
- Konstitusi Meiji 29 November 1890
- Konstitusi Jepang 3 Mei 1947
- Perjanjian San Francisco
28 April 1952
Luas
- Total 377,944
km2 [5](ke-61)
- Perairan (%) 0,8
Penduduk
- Perkiraan 2009 127.530.000[6] (ke-10)
- Sensus 2004 127.333.002
- Kepadatan 337,4/km2
(ke-30)
PDB (KKB) Perkiraan
2008
- Total AS$4,356
triliun[7] (ke-3)
- Per kapita AS$34.115[7]
(ke-24)
PDB (nominal) Perkiraan
2008
- Total AS$4.910
triliun[7] (ke-2)
- Per kapita AS$38.457[7]
(ke-23)
Gini 38,1
(2002)[8]
IPM (2007) ▲
0,960[9] (sangat tinggi) (ke-10)
Mata uang Simbol
internasional ¥
Dibaca (Yen)
Simbol jepang 円
Dibaca (En) (JPY)
Zona waktu JST
(UTC+9)
Format tanggal yyyy-mm-dd
yyyy年m月d日
zaman yy年m月d日
Lajur kemudi kiri
Ranah Internet .jp
Kode telepon +81
Jepang (bahasa Jepang: 日本 Nippon atau Nihon; nama resmi: 日本国
Tentang suara ini Nipponkoku atau Nihonkoku, nama harfiah: "Negara
Jepang") adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung
barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut Jepang, dan bertetangga dengan
Republik Rakyat Tiongkok, Korea, dan Rusia. Pulau-pulau paling utara berada di
Laut Okhotsk, dan wilayah paling selatan berupa kelompok pulau-pulau kecil di
Laut Cina Timur, tepatnya di sebelah selatan Okinawa yang bertetangga dengan
Taiwan.
Jepang terdiri dari 6.852 pulau[10] yang menjadikanya
sebagai negara kepulauan. Pulau-pulau utama dari utara ke selatan adalah
Hokkaido, Honshu (pulau terbesar), Shikoku, dan Kyushu. Sekitar 97% wilayah
daratan Jepang berada di keempat pulau terbesarnya. Sebagian besar pulau di
Jepang bergunung-gunung, dan sebagian di antaranya merupakan gunung berapi.
Gunung tertinggi di Jepang adalah Gunung Fuji yang merupakan sebuah gunung
berapi. Penduduk Jepang berjumlah 128 juta orang, dan berada di peringkat ke-10
negara berpenduduk terbanyak di dunia. Tokyo secara de facto adalah ibu kota
Jepang, dan berkedudukan sebagai sebuah prefektur. Tokyo Raya adalah sebutan
untuk Tokyo dan beberapa kota yang berada di prefektur sekelilingnya. Sebagai
daerah metropolitan terluas di dunia, Tokyo Raya berpenduduk lebih dari 30 juta
orang.
Menurut mitologi tradisional, Jepang didirikan oleh
Kaisar Jimmu pada abad ke-7 SM. Kaisar Jimmu memulai mata rantai monarki Jepang
yang tidak terputus hingga kini. Meskipun begitu, sepanjang sejarahnya, untuk
kebanyakan masa kekuatan sebenarnya berada di tangan anggota-anggota istana,
shogun, pihak militer, dan memasuki zaman modern, di tangan perdana menteri.
Menurut Konstitusi Jepang tahun 1947, Jepang adalah negara monarki
konstitusional di bawah pimpinan Kaisar Jepang dan Parlemen Jepang.
Sebagai negara maju di bidang ekonomi,[11] Jepang
memiliki produk domestik bruto terbesar nomor dua setelah Amerika Serikat, dan
masuk dalam urutan tiga besar dalam keseimbangan kemampuan berbelanja. Jepang
adalah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, G8, OECD, dan APEC. Jepang memiliki
kekuatan militer yang memadai lengkap dengan sistem pertahanan moderen seperti
AEGIS serta skuat armada besar kapal perusak. Dalam perdagangan luar negeri,
Jepang berada di peringkat ke-4 negara pengekspor terbesar dan peringkat ke-6
negara pengimpor terbesar di dunia. Sebagai negara maju, penduduk Jepang
memiliki standar hidup yang tinggi (peringkat ke-8 dalam Indeks Pembangunan
Manusia) dan angka harapan hidup tertinggi di dunia menurut perkiraan PBB.[12]
Dalam bidang teknologi, Jepang adalah negara maju di bidang telekomunikasi,
permesinan, dan robotika.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Etimologi
2 Sejarah
2.1 Prasejarah
2.2 Zaman Klasik
2.3 Zaman Pertengahan
2.4 Zaman Modern
3 Politik
3.1 Parlemen
3.2 Keluarga kekaisaran
4 Geografi
5 Hubungan luar negeri dan militer
6 Pembagian daerah administratif
7 Ekonomi
8 Demografi
9 Pendidikan
10 Budaya
11 Peringkat internasional
12 Referensi
13 Bacaan selanjutnya
14 Lihat pula
15 Pranala luar
Etimologi[sunting | sunting sumber]
Jepang disebut Nippon atau Nihon dalam bahasa Jepang.
Kedua kata ini ditulis dengan huruf kanji yang sama, yaitu 日本
(secara harfiah: asal-muasal matahari). Sebutan Nippon sering digunakan dalam
urusan resmi, termasuk nama negara dalam uang Jepang, prangko, dan pertandingan
olahraga internasional. Sementara itu, sebutan Nihon digunakan dalam urusan
tidak resmi seperti pembicaraan sehari-hari.
Kata Nippon dan Nihon berarti "negara/negeri
matahari terbit". Nama ini disebut dalam korespondensi Kekaisaran Jepang
dengan Dinasti Sui di Cina, dan merujuk kepada letak Jepang yang berada di
sebelah timur daratan Cina. Sebelum Jepang memiliki hubungan dengan Cina,
negara ini dikenal sebagai Yamato (大和).[13] Di Cina pada zaman Tiga Negara,
sebutan untuk Jepang adalah negara Wa (倭).
Dalam bahasa Cina dialek Shanghai yang termasuk salah
satu dialek Wu, aksara Cina 日本 dibaca sebagai Zeppen ([zəʔpən]). Dalam dialek Wu,
aksara 日
secara tidak resmi dibaca sebagai [niʔ] sementara secara resmi dibaca sebagai
[zəʔ]. Dalam beberapa dialek Wu Selatan, 日本 dibaca sebagai [niʔpən] yang mirip
dengan nama dalam bahasa Jepang.
Kata Jepang dalam bahasa Indonesia kemungkinan berasal
dari bahasa Cina, tepatnya bahasa Cina dialek Wu tersebut. Bahasa Melayu kuno
juga menyebut negara ini sebagai Jepang (namun ejaan bahasa Malaysia sekarang:
Jepun). Kata Jepang dalam bahasa Melayu ini kemudian dibawa ke Dunia Barat oleh
pedagang Portugis, yang mengenal sebutan ini ketika berada di Malaka pada abad
ke-16. Mereka lah yang pertama kali memperkenalkan nama bahasa Melayu tersebut
ke Eropa. Dokumen tertua dalam bahasa Inggris yang menyebut tentang Jepang
adalah sepucuk surat dari tahun 1565, yang di dalamnya bertuliskan kata
Giapan.[14]
Sejarah[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Jepang
Prasejarah[sunting | sunting sumber]
Sebuah bejana dari periode Jomon Pertengahan (3000-2000
SM).
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Jepang telah
dihuni manusia purba setidaknya 600.000 tahun yang lalu, pada masa Paleolitik
Bawah. Setelah beberapa zaman es yang terjadi pada masa jutaan tahun yang lalu,
Jepang beberapa kali terhubung dengan daratan Asia melalui jembatan darat
(dengan Sakhalin di utara, dan kemungkinan Kyushu di selatan), sehingga
memungkinkan perpindahan manusia, hewan, dan tanaman ke kepulauan Jepang dari
wilayah yang kini merupakan Republik Rakyat Tiongkok dan Korea. Zaman Paleolitik
Jepang menghasilkan peralatan bebatuan yang telah dipoles yang pertama di
dunia, sekitar tahun 30.000 SM.
Dengan berakhirnya zaman es terakhir dan datangnya
periode yang lebih hangat, kebudayaan Jomon muncul pada sekitar 11.000 SM, yang
bercirikan gaya hidup pemburu-pengumpul semi-sedenter Mesolitik hingga Neolitik
dan pembuatan kerajinan tembikar terawal di dunia. Diperkirakan bahwa penduduk
Jomon merupakan nenek moyang suku Proto-Jepang dan suku Ainu masa kini.
Dimulainya periode Yayoi pada sekitar 300 SM menandai
kehadiran teknologi-teknologi baru seperti bercocok tanam padi di sawah yang
berpengairan dan teknik pembuatan perkakas dari besi dan perunggu yang dibawa
serta migran-migran dari Cina atau Korea.
Dalam sejarah Cina, orang Jepang pertama kali disebut
dalam naskah sejarah klasik, Buku Han yang ditulis tahun 111. Setelah periode
Yayoi disebut periode Kofun pada sekitar tahun 250, yang bercirikan
didirikannya negeri-negeri militer yang kuat. Menurut Catatan Sejarah Tiga
Negara, negara paling berjaya di kepulauan Jepang waktu itu adalah Yamataikoku.
Zaman Klasik[sunting | sunting sumber]
Bagian sejarah Jepang meninggalkan dokumen tertulis
dimulai pada abad ke-5 dan abad ke-6 Masehi, saat sistem tulisan Cina, agama
Buddha, dan kebudayaan Cina lainnya dibawa masuk ke Jepang dari Kerajaan Baekje
di Semenanjung Korea.
Jepang dapat mengusir dua kali invasi Mongol ke Jepang
(1274 dan 1281)
Perkembangan selanjutnya Buddhisme di Jepang dan seni
ukir rupang sebagian besar dipengaruhi oleh Buddhisme Cina.[15] Walaupun
awalnya kedatangan agama Buddha ditentang penguasa yang menganut Shinto,
kalangan yang berkuasa akhirnya ikut memajukan agama Buddha di Jepang, dan
menjadi agama yang populer di Jepang sejak zaman Asuka.[16]
Melalui perintah Reformasi Taika pada tahun 645, Jepang
menyusun ulang sistem pemerintahannya dengan mencontoh dari Cina. Hal ini
membuka jalan bagi filsafat Konfusianisme Cina untuk menjadi dominan di Jepang
hingga abad ke-19.
Periode Nara pada abad ke-8 menandai sebuah negeri Jepang
dengan kekuasaan yang tersentralisasi. Ibu kota dan istana kekaisaran berada di
Heijo-kyo (kini Nara). Pada zaman Nara, Jepang secara terus menerus mengadopsi
praktik administrasi pemerintahan dari Cina. Salah satu pencapaian terbesar
sastra Jepang pada zaman Nara adalah selesainya buku sejarah Jepang yang
disebut Kojiki (712) dan Nihon Shoki (720).[17]
Patung Buddha di Todaiji, Nara, yang dibuat pada tahun
752.
Pada tahun 784, Kaisar Kammu memindahkan ibu kota ke
Nagaoka-kyō, dan berada di sana hanya selama 10 tahun. Setelah itu, ibu kota
dipindahkan kembali ke Heian-kyō (kini Kyoto). Kepindahan ibu kota ke Heian-kyō
mengawali periode Heian yang merupakan masa keemasan kebudayaan klasik asli
Jepang, terutama di bidang seni, puisi dan sastra Jepang. Hikayat Genji karya
Murasaki Shikibu dan lirik lagu kebangsaan Jepang Kimi ga Yo berasal dari
periode Heian.[18]
Zaman Pertengahan[sunting | sunting sumber]
Sekelompok orang-orang Portugis dari periode Nanban, abad
ke-17.
Abad pertengahan di Jepang merupakan zaman feodalisme
yang ditandai oleh perebutan kekuasaan antarkelompok penguasa yang terdiri dari
ksatria yang disebut samurai. Pada tahun 1185, setelah menghancurkan klan Taira
yang merupakan klan saingan klan Minamoto, Minamoto no Yoritomo diangkat
sebagai shogun, dan menjadikannya pemimpin militer yang berbagi kekuasaan
dengan Kaisar. Pemerintahan militer yang didirikan Minamoto no Yoritomo disebut
Keshogunan Kamakura karena pusat pemerintahan berada di Kamakura (di sebelah
selatan Yokohama masa kini). Setelah wafatnya Yoritomo, klan Hōjō membantu
keshogunan sebagai shikken, yakni semacam adipati bagi para shogun. Keshogunan
Kamakura berhasil menahan serangan Mongol dari wilayah Cina kekuasaan Mongol
pada tahun 1274 dan 1281. Meskipun secara politik terbilang stabil, Keshogunan
Kamakura akhirnya digulingkan oleh Kaisar Go-Daigo yang memulihkan kekuasaan di
tangan kaisar. Kaisar Go-Daigo akhirnya digulingkan Ashikaga Takauji pada
1336.[19] Keshogunan Ashikaga gagal membendung kekuatan penguasa militer dan
tuan tanah feodal (daimyo) dan pecah perang saudara pada tahun 1467 (Perang
Ōnin) yang mengawali masa satu abad yang diwarnai peperangan antarfaksi yang
disebut masa negeri-negeri saling berperang atau periode Sengoku.[20]
Pada abad ke-16, para pedagang dan misionaris Serikat
Yesuit dari Portugal tiba untuk pertama kalinya di Jepang, dan mengawali
pertukaran perniagaan dan kebudayaan yang aktif antara Jepang dan Dunia Barat
(Perdagangan dengan Nanban). Orang Jepang menyebut orang asing dari Dunia Barat
sebagai namban yang berarti orang barbar dari selatan.
Salah satu kapal segel merah Jepang (1634) yang dipakai
berdagang di Asia.
Oda Nobunaga menaklukkan daimyo-daimyo pesaingnya dengan
memakai teknologi Eropa dan senjata api. Nobunaga hampir berhasil menyatukan
Jepang sebelum tewas terbunuh dalam Peristiwa Honnōji 1582. Toyotomi Hideyoshi
menggantikan Nobunaga, dan mencatatkan dirinya sebagai pemersatu Jepang pada
tahun 1590. Hideyoshi berusaha menguasai Korea, dan dua kali melakukan invasi
ke Korea, namun gagal setelah kalah dalam pertempuran melawan pasukan Korea
yang dibantu kekuatan Dinasti Ming. Setelah Hideyoshi wafat, pasukan Hideyoshi
ditarik dari Semenanjung Korea pada tahun 1598.[21]
Sepeninggal Hideyoshi, putra Hideyoshi yang bernama
Toyotomi Hideyori mewarisi kekuasaan sang ayah. Tokugawa Ieyasu memanfaatkan
posisinya sebagai adipati bagi Hideyori untuk mengumpulkan dukungan politik dan
militer dari daimyo-daimyo lain. Setelah mengalahkan klan-klan pendukung Hideyori
dalam Pertempuran Sekigahara tahun 1600, Ieyasu diangkat sebagai shogun pada
tahun 1603. Pemerintahan militer yang didirikan Ieyasu di Edo (kini Tokyo)
disebut Keshogunan Tokugawa. Keshogunan Tokugawa curiga terhadap kegiatan
misionaris Katolik, dan melarang segala hubungan dengan orang-orang Eropa.
Hubungan perdagangan dibatasi hanya dengan pedagang Belanda di Pulau Dejima,
Nagasaki. Pemerintah Tokugawa juga menjalankan berbagai kebijakan seperti
undang-undang buke shohatto untuk mengendalikan daimyo di daerah. Pada tahun
1639, Keshogunan Tokugawa mulai menjalankan kebijakan sakoku ("negara
tertutup") yang berlangsung selama dua setengah abad yang disebut periode
Edo. Walaupun menjalani periode isolasi, orang Jepang terus mempelajari ilmu-ilmu
dari Dunia Barat. Di Jepang, ilmu dari buku-buku Barat disebut rangaku (ilmu
belanda) karena berasal dari kontak orang Jepang dengan enklave orang Belanda
di Dejima, Nagasaki. Pada periode Edo, orang Jepang juga memulai studi tentang
Jepang, dan menamakan "studi nasional" tentang Jepang sebagai
kokugaku.[22]
Zaman Modern[sunting | sunting sumber]
Kekaisaran Jepang terdiri dari sebagian besar Asia Timur
dan Tenggara pada tahun 1942.
Pada 31 Maret 1854, kedatangan Komodor Matthew Perry dan
"Kapal Hitam" Angkatan Laut Amerika Serikat memaksa Jepang untuk
membuka diri terhadap Dunia Barat melalui Persetujuan Kanagawa.
Persetujuan-persetujuan selanjutnya dengan negara-negara Barat pada masa
Bakumatsu membawa Jepang ke dalam krisis ekonomi dan politik. Kalangan samurai menganggap
Keshogunan Tokugawa sudah melemah, dan mengadakan pemberontakan hingga pecah
Perang Boshin tahun 1867-1868. Setelah Keshogunan Tokugawa ditumbangkan,
kekuasaan dikembalikan ke tangan kaisar (Restorasi Meiji) dan sistem domain
dihapus. Semasa Restorasi Meiji, Jepang mengadopsi sistem politik, hukum, dan
militer dari Dunia Barat. Kabinet Jepang mengatur Dewan Penasihat Kaisar,
menyusun Konstitusi Meiji, dan membentuk Parlemen Kekaisaran. Restorasi Meiji
mengubah Kekaisaran Jepang menjadi negara industri modern dan sekaligus
kekuatan militer dunia yang menimbulkan konflik militer ketika berusaha
memperluas pengaruh teritorial di Asia. Setelah mengalahkan Cina dalam Perang
Sino-Jepang dan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang, Jepang menguasai Taiwan, separuh
dari Sakhalin, dan Korea.[23]
Pada awal abad ke-20, Jepang mengalami "demokrasi
Taisho" yang dibayang-bayangi bangkitnya ekspansionisme dan militerisme
Jepang. Semasa Perang Dunia I, Jepang berada di pihak Sekutu yang menang,
sehingga Jepang dapat memperluas pengaruh dan wilayah kekuasaan. Jepang terus
menjalankan politik ekspansionis dengan menduduki Manchuria pada tahun 1931.
Dua tahun kemudian, Jepang keluar dari Liga Bangsa-Bangsa setelah mendapat
kecaman internasional atas pendudukan Manchuria. Pada tahun 1936, Jepang
menandatangani Pakta Anti-Komintern dengan Jerman Nazi, dan bergabung bergabung
bersama Jerman dan Italia membentuk Blok Poros pada tahun 1941[24]
Pada tahun 1937, invasi Jepang ke Manchuria memicu
terjadinya Perang Sino-Jepang Kedua (1937-1945) yang membuat Jepang dikenakan
embargo minyak oleh Amerika Serikat[25] Pada 7 Desember 1941, Jepang menyerang
pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, dan menyatakan perang
terhadap Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Serangan Pearl Harbor menyeret
AS ke dalam Perang Dunia II. Setelah kampanye militer yang panjang di Samudra
Pasifik, Jepang kehilangan wilayah-wilayah yang dimilikinya pada awal perang.
Amerika Serikat melakukan pengeboman strategis terhadap Tokyo, Osaka dan kota-kota
besar lainnya. Setelah AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki,
Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 (Hari
Kemenangan atas Jepang).[26]
Perang membawa penderitaan bagi rakyat Jepang dan rakyat
di wilayah jajahan Jepang. Berjuta-juta orang tewas di negara-negara Asia yang
diduduki Jepang di bawah slogan Kemakmuran Bersama Asia. Hampir semua industri
dan infrastruktur di Jepang hancur akibat perang. Pihak Sekutu melakukan
repatriasi besar-besaran etnik Jepang dari negara-negara Asia yang pernah
diduduki Jepang.[27] Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh yang
diselenggarakan pihak Sekutu mulai 3 Mei 1946 berakhir dengan dijatuhkannya
hukuman bagi sejumlah pemimpin Jepang yang terbukti bersalah melakukan
kejahatan perang.
Pencakar langit di Shinjuku, Tokyo
Pada tahun 1947, Jepang memberlakukan Konstitusi Jepang
yang baru. Berdasarkan konstitusi baru, Jepang ditetapkan sebagai negara yang
menganut paham pasifisme dan mengutamakan praktik demokrasi liberal. Pendudukan
AS terhadap Jepang secara resmi berakhir pada tahun 1952 dengan
ditandatanganinya Perjanjian San Francisco.[28] Walaupun demikian, pasukan AS
tetap mempertahankan pangkalan-pangkalan penting di Jepang, khususnya di
Okinawa. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara secara resmi menerima Jepang sebagai
anggota pada tahun 1956.
Seusai Perang Dunia II, Jepang mengalami pertumbuhan
ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar
nomor dua di dunia, dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar
10% per tahun selama empat dekade. Pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang berakhir
pada awal tahun 1990-an setelah jatuhnya ekonomi gelembung.[29]
Politik[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pemerintah Jepang
Parlemen[sunting | sunting sumber]
Jepang menganut sistem negara monarki konstitusional yang
sangat membatasi kekuasaan Kaisar Jepang. Sebagai kepala negara seremonial,
kedudukan Kaisar Jepang diatur dalam konstitusi sebagai "simbol negara dan
pemersatu rakyat". Kekuasaan pemerintah berada di tangan Perdana Menteri
Jepang dan anggota terpilih Parlemen Jepang, sementara kedaulatan sepenuhnya
berada di tangan rakyat Jepang.[30] Kaisar Jepang bertindak sebagai kepala
negara dalam urusan diplomatik.
Parlemen Jepang adalah parlemen dua kamar yang dibentuk
mengikuti sistem Inggris. Parlemen Jepang terdiri dari Majelis Rendah dan
Majelis Tinggi. Majelis Rendah Jepang terdiri dari 480 anggota dewan. Anggota
majelis rendah dipilih secara langsung oleh rakyat setiap 4 tahun sekali atau
setelah majelis rendah dibubarkan. Majelis Tinggi Jepang terdiri dari 242
anggota dewan yang memiliki masa jabatan 6 tahun, dan dipilih langsung oleh
rakyat. Warganegara Jepang berusia 20 tahun ke atas memiliki hak untuk memilih.[11]
Kabinet Jepang beranggotakan Perdana Menteri dan para
menteri. Perdana Menteri adalah salah seorang anggota parlemen dari partai
mayoritas di Majelis Rendah. Partai Demokrat Liberal (LDP) berkuasa di Jepang
sejak 1955, kecuali pada tahun 1993. Pada tahun itu terbentuk pemerintahan
koalisi yang hanya berumur singkat dengan partai oposisi. Partai oposisi
terbesar di Jepang adalah Partai Demokratik Jepang.[31]
Perdana Menteri Jepang adalah kepala pemerintahan.
Perdana Menteri diangkat melalui pemilihan di antara anggota Parlemen.[32] Bila
Majelis Rendah dan Majelis Tinggi masing-masing memiliki calon perdana menteri,
maka calon dari Majelis Rendah yang diutamakan. Pada praktiknya, perdana
menteri berasal dari partai mayoritas di parlemen. Menteri-menteri kabinet
diangkat oleh Perdana Menteri. Kaisar Jepang mengangkat Perdana Menteri
berdasarkan keputusan Parlemen Jepang[33], dan memberi persetujuan atas
pengangkatan menteri-menteri kabinet.[34] Perdana Menteri memerlukan dukungan
dan kepercayaan dari anggota Majelis Rendah untuk bertahan sebagai Perdana
Menteri.
Keluarga kekaisaran[sunting | sunting sumber]
Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko (tampak tengah),
serta Pangeran Naruhito dan istri (di sebelah kanan).
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Keluarga
kekaisaran Jepang
Kaisar Akihito adalah Kaisar Jepang yang sekarang. Kaisar
Akihito naik takhta sebagai kaisar ke-125 setelah ayahandanya, Kaisar Hirohito
mangkat pada 7 Januari 1989. Upacara kenaikan tahta Kaisar Akihito
dilangsungkan pada 12 November 1990.[35] Putra Mahkota Naruhito, menikah dengan
Putri Mahkota Masako yang berasal dari kalangan rakyat biasa, dan dikaruniai
anak perempuan bernama Aiko (Putri Toshi). Adik dari Putra Mahkota Naruhito
bernama Pangeran Akishino, menikah dengan Kiko Kawashima yang juga berasal dari
rakyat biasa. Pangeran Akishino memiliki dua anak perempuan (Putri Mako dan
Putri Kako), serta anak laki-laki bernama Pangeran Hisahito.
Geografi[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Jepang
Gunung Fuji, bunga sakura, dan shinkansen. Ketiganya
merupakan simbol Jepang
Jepang memiliki lebih dari 3.000 pulau yang terletak di
pesisir Lautan Pasifik di timur benua Asia. Istilah Kepulauan Jepang merujuk kepada
empat pulau besar, dari utara ke selatan, Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan
Kyushu, serta Kepulauan Ryukyu yang berada di selatan Kyushu. Sekitar 70%
hingga 80% dari wilayah Jepang terdiri dari pegunungan yang
berhutan-hutan,[36][37] dan cocok untuk pertanian, industri, serta permukiman.
Daerah yang curam berbahaya untuk dihuni karena risiko tanah longsor akibat
gempa bumi, kondisi tanah yang lunak, dan hujan lebat. Oleh karena itu,
permukiman penduduk terpusat di kawasan pesisir. Jepang termasuk salah satu
negara berpenduduk terpadat di dunia.[38]
Gempa bumi berkekuatan rendah dan sesekali letusan gunung
berapi sering dialami Jepang karena letaknya di atas Lingkaran Api Pasifik di
pertemuan tiga lempeng tektonik. Gempa bumi yang merusak sering menyebabkan
tsunami. Setiap abadnya, di Jepang terjadi beberapa kali tsunami.[39] Gempa
bumi besar yang terjadi akhir-akhir ini di Jepang adalah Gempa bumi Chūetsu
2004 dan Gempa bumi besar Hanshin tahun 1995. Keadaan geografi menyebabkan
Jepang memiliki banyak sumber mata air panas, dan sebagian besar di antaranya
telah dibangun sebagai daerah tujuan wisata.[40]
Jepang berada di kawasan beriklim sedang dengan pembagian
empat musim yang jelas. Walaupun demikian, terdapat perbedaan iklim yang
mencolok antara wilayah bagian utara dan wilayah bagian selatan.[41] Pada musim
dingin, Jepang bagian utara seperti Hokkaido mengalami musim salju, namun
sebaliknya wilayah Jepang bagian selatan beriklim subtropis. Iklim juga
dipengaruhi tiupan angin musim yang bertiup dari benua Asia ke Lautan Pasifik
pada musim dingin, dan sebaliknya pada musim panas.
Iklim Jepang terbagi atas enam zona iklim:
Hokkaido: Kawasan paling utara beriklim sedang dengan
musim dingin yang panjang dan membekukan, serta musim panas yang sejuk.
Presipitasi tidak besar, namun salju banyak turun ketika musim dingin.
Laut Jepang: Di pantai barat Pulau Honshu, tiupan angin
dari barat laut membawa salju yang sangat lebat. Pada musim panas, kawasan ini
lebih sejuk dibandingkan kawasan Pasifik. Walaupun demikian, suhu di kawasan
ini kadangkala dapat menjadi sangat tinggi akibat fenomena angin fohn.
Dataran Tinggi Tengah: Wilayah ini beriklim pedalaman
dengan perbedaan suhu rata-rata musim panas-musim dingin yang sangat mencolok.
Perbedaan suhu antara malam hari dan siang hari juga sangat mencolok.
Laut Pedalaman Seto: Barisan pegunungan di wilayah
Chugoku dan Shikoku menghalangi jalur tiupan angin musim, sehingga kawasan ini
sepanjang tahun beriklim sedang.
Samudra Pasifik: Kawasan pesisir bagian timur Jepang
mengalami musim dingin yang sangat dingin, namun tidak banyak turun salju.
Sebaliknya, musim panas menjadi begitu lembap akibat tiupan angin musim dari
tenggara.
Kepulauan Ryukyu: Kepulauan di barat daya Jepang termasuk
Kepulauan Ryukyu beriklim subtropis, hangat sewaktu musim dingin dan suhu yang
tinggi sepanjang musim panas. Presipitasi sangat tinggi, terutama selama musim
hujan. Taifun sangat sering terjadi.
Suhu tertinggi yang pernah tercatat di Jepang adalah 40,9
°C (105,6 °F) pada 16 Agustus 2007.[42]
Musim hujan dimulai lebih awal di Okinawa, yakni sejak
awal Mei. Garis depan musim hujan bergerak ke utara, namun berakhir di Jepang
utara sebelum mencapai Hokkaido. Di sebagian besar wilayah Honshu, awal musim
hujan dimulai pertengahan Juni dan berlangsung selama enam minggu. Taifun
sering terjadi sepanjang September dan Oktober. Penyebabnya adalah tekanan
tropis di garis khatulistiwa yang bergerak dari barat daya ke timur laut, dan
sering membawa hujan yang sangat lebat.[41]
Hubungan luar negeri dan militer[sunting | sunting
sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hubungan luar
negeri Jepang, Pasukan Bela Diri Jepang, dan Kementerian Pertahanan (Jepang)
Kapal pengangkut helikopter kelas Hyuga milik Angkatan
Laut Bela Diri Jepang
Jepang memiliki hubungan ekonomi dan militer yang erat
dengan Amerika Serikat, dan menjalankan kebijakan luar negeri berdasarkan pakta
keamanan Jepang-AS.[43] Sejak diterima menjadi anggota Perserikatan
Bangsa-Bangsa pada tahun 1956, Jepang telah sepuluh kali menjadi anggota tidak
tetap Dewan Keamanan PBB, termasuk tahun 2009-2010.[44] Jepang adalah salah
satu negara G4 yang sedang mengusulkan perluasan anggota tetap Dewan Keamanan
PBB.[45] Sebagai negara anggota G8, APEC, ASEAN Plus 3, dan peserta Konferensi
Tingkat Tinggi Asia Timur, Jepang aktif dalam hubungan internasional dan
mempererat persahabatan Jepang dengan negara-negara lain di seluruh dunia.
Pakta pertahanan dengan Australia ditandatangani pada Maret 2007,[46] dan
dengan India pada Oktober 2008.[47] Pada tahun 2007, Jepang adalah negara donor
Bantuan Pembangunan Resmi (ODA) terbesar kelima di dunia.[48] Negara penerima
bantuan ODA terbesar dari Jepang adalah Indonesia, dengan total bantuan lebih
dari AS$29,5 miliar dari tahun 1960 hingga 2006.[49]
Jepang bersengketa dengan Rusia mengenai Kepulauan
Kuril[50] dan dengan Korea Selatan mengenai Batu Liancourt[51]. Kepulauan
Senkaku yang di bawah pemerintahan Jepang dipermasalahkan oleh Republik Rakyat
Tiongkok dan Taiwan.[52]
Pasal 9 Konstitusi Jepang berisi penolakan terhadap
perang dan penggunaan kekuatan bersenjata untuk menyelesaikan persengketaan
internasional. Pasal 9 Ayat 2 berisi pelarangan kepemilikan angkatan bersenjata
dan penolakan atas hak keterlibatan dalam perang.[53][54] Jepang memiliki
Pasukan Bela Diri yang berada di bawah Kementerian Pertahanan, dan terdiri dari
Angkatan Darat Bela Diri Jepang (JGSDF), Angkatan Laut Bela Diri Jepang
(JMSDF), dan Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF). Pada tahun 1991, kapal
penyapu ranjau Angkatan Laut Bela Diri Jepang ikut membersihkan ranjau laut di
Teluk Persia (lepas pantai Kuwait) bersama kapal penyapu ranjau dari delapan
negara.[55][56] Atas permintaan Pemerintahan Transisi PBB di Kamboja
(1992-1993), Jepang mengirimkan pengamat gencatan senjata, pemantau pemilihan umum,
polisi sipil, dan dukungan logistik seperti perbaikan jalan dan jembatan.[57]
Di Irak, pasukan nontempur Jepang membantu misi kemanusiaan dan kegiatan
rekonstruksi infrastruktur mulai Desember 2003 hingga Februari
2009.[58][59][60]
Pembagian daerah administratif[sunting | sunting sumber]
Informasi lebih lanjut: Daftar prefektur di Jepang,
Daftar wilayah di Jepang, Kota (Jepang), Daftar kota di Jepang, dan Daftar desa
di Jepang
Jepang terdiri dari 47 prefektur, masing-masing diawasi
oleh gubernur, birokrasi legislatif dan administratif. Setiap prefektur dibagi
lagi menjadi kota, kota dan desa.[61] Negara ini sedang mengalami reorganisasi
administrasi dengan menggabungkan banyak kota besar, kota kecil dan desa dengan
satu sama lain. Proses ini akan mengurangi jumlah wilayah administratif
sub-prefektur dan diharapkan dapat memotong biaya administrasi.[62]
Regions and
Prefectures of Japan 2.svg
Tentang gambar ini
Ekonomi[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Jepang
Bursa Saham Tokyo, bursa efek terbesar nomor dua di
dunia.
Sejak periode Meiji (1868-1912), Jepang mulai menganut
ekonomi pasar bebas dan mengadopsi kapitalisme model Inggris dan Amerika
Serikat. Sistem pendidikan Barat diterapkan di Jepang, dan ribuan orang Jepang
dikirim ke Amerika Serikat dan Eropa untuk belajar. Lebih dari 3.000 orang
Eropa dan Amerika didatangkan sebagai tenaga pengajar di Jepang.[63] Pada awal
periode Meiji, pemerintah membangun jalan kereta api, jalan raya, dan memulai
reformasi kepemilikan tanah. Pemerintah membangun pabrik dan galangan kapal
untuk dijual kepada swasta dengan harga murah. Sebagian dari perusahaan yang
didirikan pada periode Meiji berkembang menjadi zaibatsu, dan beberapa di
antaranya masih beroperasi hingga kini.[63]
Pertumbuhan ekonomi riil dari tahun 1960-an hingga
1980-an sering disebut "keajaiban ekonomi Jepang", yakni rata-rata
10% pada tahun 1960-an, 5% pada tahun 1970-an, dan 4% pada tahun 1980-an.[63]
Dekade 1980-an merupakan masa keemasan ekspor otomotif dan barang elektronik ke
Eropa dan Amerika Serikat sehingga terjadi surplus neraca perdagangan yang
mengakibatkan konflik perdagangan. Setelah ditandatanganinya Perjanjian Plaza
1985, dolar AS mengalami depresiasi terhadap yen. Pada Februari 1987, tingkat
diskonto resmi diturunkan hingga 2,5% agar produk manufaktur Jepang bisa
kembali kompetitif setelah terjadi kemerosotan volume ekspor akibat menguatnya
yen. Akibatnya, terjadi surplus likuiditas dan penciptaan uang dalam jumlah
besar. Spekulasi menyebabkan harga saham dan realestat terus meningkat, dan
berakibat pada penggelembungan harga aset. Harga tanah terutama menjadi sangat
tinggi akibat adanya "mitos tanah" bahwa harga tanah tidak akan
jatuh.[29] Ekonomi gelembung Jepang jatuh pada awal tahun 1990-an akibat
kebijakan uang ketat yang dikeluarkan Bank of Japan pada 1989, dan kenaikan
tingkat diskonto resmi menjadi 6%.[29] Pada 1990, pemerintah mengeluarkan
sistem baru pajak penguasaan tanah dan bank diminta untuk membatasi pendanaan
aset properti. Indeks rata-rata Nikkei dan harga tanah jatuh pada Desember 1989
dan musim gugur 1990.[29] Pertumbuhan ekonomi mengalami stagnasi pada 1990-an,
dengan angka rata-rata pertumbuhan ekonomi riil hanya 1,7% sebagai akibat
penanaman modal yang tidak efisien dan penggelembungan harga aset pada 1980-an.
Institusi keuangan menanggung kredit bermasalah karena telah mengeluarkan
pinjaman uang dengan jaminan tanah atau saham. Usaha pemerintah mengembalikan
pertumbuhan ekonomi hanya sedikit yang berhasil dan selanjutnya terhambat oleh
kelesuan ekonomi global pada tahun 2000.[64]
Jepang adalah perekonomian terbesar nomor dua di dunia
setelah Amerika Serikat, Jepang bersama Jerman dan Korea Selatan adalah 3
negara yang pernah mencatatkan diri sebagai negara-negara dengan pertumbuhan
ekonomi tercepat sepanjang sejarah dunia,[65] dengan PDB nominal sekitar AS$4,5
triliun.[65], dan perekonomian terbesar ke-3 di dunia setelah AS dan Republik
Rakyat Tiongkok dalam keseimbangan kemampuan berbelanja.[66] Industri utama
Jepang adalah sektor perbankan, asuransi, realestat, bisnis eceran,
transportasi, telekomunikasi, dan konstruksi.[67] Jepang memiliki industri
berteknologi tinggi di bidang otomotif, elektronik, mesin perkakas, baja dan
logam non-besi, perkapalan, industri kimia, tekstil, dan pengolahan
makanan.[64] Sebesar tiga perempat dari produk domestik bruto Jepang berasal
dari sektor jasa.
Distrik Minato Mirai 21 di Yokohama. Ekonomi Jepang
sangat mengandalkan sektor jasa.
Hingga tahun 2001, jumlah angkatan kerja Jepang mencapai
67 juta orang.[68] Tingkat pengangguran di Jepang sekitar 4%. Pada tahun 2007,
Jepang menempati urutan ke-19 dalam produktivitas tenaga kerja.[69] Menurut
indeks Big Mac, tenaga kerja di Jepang mendapat upah per jam terbesar di dunia.
Toyota Motor, Mitsubishi UFJ Financial, Nintendo, NTT DoCoMo, Nippon Telegraph
& Telephone, Canon, Matsushita Electric Industrial, Honda, Mitsubishi
Corporation, dan Sumitomo Mitsui Financial adalah 10 besar perusahaan Jepang
pada tahun 2008.[70] Sejumlah 326 perusahaan Jepang masuk ke dalam daftar
Forbes Global 2000 atau 16,3% dari 2000 perusahaan publik terbesar di dunia
(data tahun 2006).[71] Bursa Saham Tokyo memiliki total kapitalisasi pasar
terbesar nomor dua di dunia. Indeks dari 225 saham perusahaan besar yang
diperdagangkan di Bursa Saham Tokyo disebut Nikkei 225.[72]
Dalam Indeks Kemudahan Berbisnis, Jepang menempati
peringkat ke-12, dan termasuk salah satu negara maju dengan birokrasi paling
sederhana. Kapitalisme model Jepang memiliki sejumlah ciri khas. Keiretsu
adalah grup usaha yang beranggotakan perusahaan yang saling memiliki kerja sama
bisnis dan kepemilikan saham. Negosiasi upah (shuntō) berikut perbaikan kondisi
kerja antara manajemen dan serikat buruh dilakukan setiap awal musim semi.
Budaya bisnis Jepang mengenal konsep-konsep lokal, seperti Sistem Nenkō,
nemawashi, salaryman, dan office lady. Perusahaan di Jepang mengenal kenaikan
pangkat berdasarkan senioritas dan jaminan pekerjaan seumur hidup.[73][74]
Kejatuhan ekonomi gelembung yang diikuti kebangkrutan besar-besaran dan
pemutusan hubungan kerja menyebabkan jaminan pekerjaan seumur hidup mulai
ditinggalkan.[75][76] Perusahaan Jepang dikenal dengan metode manajemen seperti
The Toyota Way. Aktivisme pemegang saham sangat jarang.[77] Dalam Indeks
Kebebasan Ekonomi, Jepang menempati urutan ke-5 negara paling laissez-faire di
antara 41 negara Asia Pasifik.[78]
Mobil hibrida Toyota Prius. Produk otomotif dan
elektronik adalah komoditas ekspor unggulan Jepang.
Total ekspor Jepang pada tahun 2005 adalah 4.210 dolar AS
per kapita. Pasar ekspor terbesar Jepang tahun 2006 adalah Amerika Serikat
22,8%, Uni Eropa 14,5%, Tiongkok 14,3%, Korea Selatan 7,8%, Taiwan 6,8%, dan
Hong Kong 5,6%. Produk ekspor unggulan Jepang adalah alat transportasi,
kendaraan bermotor, elektronik, mesin-mesin listrik, dan bahan kimia.[64]
Negara sumber impor terbesar bagi Jepang pada tahun 2006 adalah Tiongkok 20,5%,
AS 12,0%, Uni Eropa 10,3%, Arab Saudi 6,4%, Uni Emirat Arab 5,5%, Australia
4,8%, Korea Selatan 4,7%, dan Indonesia 4,2%. Impor utama Jepang adalah
mesin-mesin dan perkakas, minyak bumi, bahan makanan, tekstil, dan bahan mentah
untuk industri.[64]
Jepang adalah negara pengimpor hasil laut terbesar di
dunia (senilai AS$ 14 miliar).[79] Jepang berada di peringkat ke-6 setelah RRT,
Peru, Amerika Serikat, Indonesia, dan Chili, dengan total tangkapan ikan yang
terus menurun sejak 1996.[80][81]
Pertanian adalah sektor industri andalan hingga beberapa
tahun seusai Perang Dunia II. Menurut sensus tahun 1950, sekitar 50% angkatan
kerja berada di bidang pertanian. Sepanjang "masa keajaiban ekonomi
Jepang", angkatan kerja di bidang pertanian terus menyusut hingga sekitar
4,1% pada tahun 2008.[82] Pada Februari 2007 terdapat 1.813.000 keluarga petani
komersial, namun di antaranya hanya kurang dari 21,2% atau 387.000 keluarga
petani pengusaha.[83] Sebagian besar angkatan kerja pertanian sudah berusia
lanjut, sementara angkatan kerja usia muda hanya sedikit yang bekerja di bidang
pertanian.[84][85]
Diperkirakan oleh pengamat ekonomi bahwa, Jepang bersama
Korea Selatan, India dan RRT akan benar-benar mendominasi dunia pada tahun 2030
dan mematahkan dominasi barat atas perekonomian dunia.
Demografi[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: demografi Jepang,
bahasa Jepang, bangsa Jepang, masalah ras di Jepang, dan agama di Jepang
Pemandangan perempatan Shibuya pada malam hari.
Perempatan Shibuya dikenal sangat ramai dengan penyeberang jalan.
Kuil Shinto Itsukushima Situs Warisan Dunia UNESCO.
Populasi Jepang diperkirakan sekitar 127,614 juta orang
(perkiraan 1 Februari 2009).[86] Masyarakat Jepang homogen dalam etnis, budaya
dan bahasa, dengan sedikit populasi pekerja asing. Di antara sedikit penduduk
minoritas di Jepang terdapat orang Korea Zainichi,[87] Cina Zainichi, orang
Filipina, orang Brazil-Jepang[88], dan orang Peru-Jepang.[89] Pada 2003, ada
sekitar 136.000 orang Barat yang menjadi ekspatriat di Jepang.[90]
Kewarganegaraan Jepang diberikan kepada bayi yang
dilahirkan dari ayah atau ibu berkewarganegaraan Jepang, ayah berkewarganegaraan
Jepang yang wafat sebelum bayi lahir, atau bayi yang lahir di Jepang dengan
ayah/ibu tidak diketahui/tidak memiliki kewarganegaraan.[91] Suku bangsa yang
paling dominan adalah penduduk asli yang disebut suku Yamato dan kelompok
minoritas utama yang terdiri dari penduduk asli suku Ainu[92] dan Ryukyu,
ditambah kelompok minoritas secara sosial yang disebut burakumin.[93]
Pada tahun 2006, tingkat harapan hidup di Jepang adalah
81,25 tahun, dan merupakan salah satu tingkat harapan hidup tertinggi di
dunia.[94] Namun populasi Jepang dengan cepat menua sebagai dampak dari ledakan
kelahiran pascaperang diikuti dengan penurunan tingkat kelahiran. Pada tahun
2004, sekitar 19,5% dari populasi Jepang sudah berusia di atas 65 tahun.[95]
Perubahan dalam struktur demografi menyebabkan sejumlah
masalah sosial, terutama kecenderungan menurunnya populasi angkatan kerja dan
meningkatnya biaya jaminan sosial seperti uang pensiun. Masalah lain termasuk
meningkatkan generasi muda yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki
keluarga ketika dewasa.[96] Populasi Jepang dikhawatirkan akan merosot menjadi
100 juta pada tahun 2050 dan makin menurun hingga 64 juta pada tahun 2100.[95]
Pakar demografi dan pejabat pemerintah kini dalam perdebatan hangat mengenai
cara menangani masalah penurunan jumlah penduduk.[96] Imigrasi dan insentif
uang untuk kelahiran bayi sering disarankan sebagai pemecahan masalah penduduk
Jepang yang semakin menua.[97][98]
Perkiraan tertinggi jumlah penganut agama Buddha
sekaligus Shinto adalah 84-96% yang menunjukkan besarnya jumlah penganut
sinkretisme dari kedua agama tersebut.[11][99] Walaupun demikian, perkiraan
tersebut hanya didasarkan pada jumlah orang yang diperkirakan ada hubungan
dengan kuil, dan bukan jumlah penduduk yang sungguh-sungguh menganut kedua
agama tersebut.[100] Professor Robert Kisala (dari Universitas Nanzan)
memperkirakan hanya 30% dari penduduk Jepang yang mengaku menganut suatu
agama.[100]
Taoisme dan Konfusianisme dari Cina juga memengaruhi
kepercayaan dan tradisi Jepang. Agama di Jepang cenderung bersifat sinkretisme
dengan hasil berupa berbagai macam tradisi, seperti orang tua membawa anak-anak
ke upacara Shinto, pelajar berdoa di kuil Shinto meminta lulus ujian,
pernikahan ala Barat di kapel atau gereja Kristen, sementara pemakaman diurus
oleh kuil Buddha. Penduduk beragama Kristen hanya minoritas sejumlah (2.595.397
juta atau 2,04%).[101] Kebanyakan orang Jepang mengambil sikap tidak peduli
terhadap agama dan melihat agama sebagai budaya dan tradisi. Bila ditanya
mengenai agama, mereka akan mengatakan bahwa mereka beragama Buddha hanya
karena nenek moyang mereka menganut salah satu sekte agama Buddha. Selain itu,
di Jepang sejak pertengahan abad ke-19 bermunculan berbagai sekte agama baru
(Shinshūkyō) seperti Tenrikyo dan Aum Shinrikyo (atau Aleph).
Lebih dari 99% penduduk Jepang berbicara bahasa Jepang
sebagai bahasa ibu.[86] Bahasa Jepang adalah bahasa aglutinatif dengan tuturan
hormat (kata honorifik) yang mencerminkan hirarki dalam masyarakat Jepang.
Pemilihan kata kerja dan kosa kata menunjukkan status pembicara dan pendengar.
Menurut kamus bahasa Jepang Shinsen-kokugojiten, kosa kata dari Cina berjumlah
sekitar 49,1% dari kosa kata keseluruhan, kata-kata asli Jepang hanya 33,8% dan
kata serapan sekitar 8,8%.[102] Bahasa Jepang ditulis memakai aksara kanji,
hiragana, dan katakana, ditambah huruf Latin dan penulisan angka Arab. Bahasa
Ryukyu yang juga termasuk salah satu keluarga bahasa Japonik dipakai orang
Okinawa, tapi hanya sedikit dipelajari anak-anak.[103] Bahasa Ainu adalah
bahasa mati dengan hanya sedikit penutur asli yang sudah berusia lanjut di
Hokkaido.[104] Murid sekolah negeri dan swasta di Jepang hanya diharuskan
belajar bahasa Jepang dan bahasa Inggris.[105]
l b s
Kota-kota besar di Jepang
Kota Prefektur Populasi
Kota Prefektur Populasi
1 Tokyo Tokyo 8.483.050 Jepang
Jepang 7 Kyoto Kyoto 1.474.764
2 Yokohama Kanagawa 3.579.133 8 Fukuoka Fukuoka 1.400.621
3 Osaka Osaka 2.628.776 9 Kawasaki Kanagawa 1.327.009
4 Nagoya Aichi 2.215.031 10 Saitama Saitama 1.176.269
5 Sapporo Hokkaido 1.880.875 11 Hiroshima Hiroshima 1.159.391
6 Kobe Hyogo 1.525.389 12 Sendai Miyagi 1.028.214
Sumber: Sensus 2005
Pendidikan[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pendidikan di
Jepang
Auditorium Yasuda di Universitas Tokyo
Pendidikan dasar dan menengah, serta pendidikan tinggi
diperkenalkan di Jepang pada 1872 sebagai hasil Restorasi Meiji.[106] Sejak
1947, program wajib belajar di Jepang mewajibkan setiap warga negara untuk
untuk bersekolah selama 9 tahun di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama
(dari usia 6 hingga 15 tahun). Di kalangan penduduk berusia 15 tahun ke atas,
tingkat melek huruf sebesar 99%, laki-laki: 99%; perempuan: 99% (2002).[107]
Hampir semua murid meneruskan ke Sekolah Menengah Atas,
dan menurut MEXT sekitar 75,9% lulusan sekolah menengah atas pada tahun 2005
melanjutkan ke universitas, akademi, sekolah keterampilan, atau lembaga
pendidikan tinggi lainnya.[108] Pendidikan di Jepang sangat kompetitif,[109]
khususnya dalam ujian masuk perguruan tinggi. Dua peringkat teratas universitas
di Jepang ditempati oleh Universitas Tokyo dan Universitas Keio.[110] Dalam
peringkat yang disusun Program Penilaian Pelajar Internasional dari OECD,
pengetahuan dan keterampilan anak Jepang berusia 15 tahun berada di peringkat
nomor enam terbaik di dunia.[111]
Budaya[sunting | sunting sumber]
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Jepang
Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon
yang kokoh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Mula-mula Cina dan
Korea banyak membawa pengaruh, bermula dengan perkembangan budaya Yayoi sekitar
300 SM. Gabungan tradisi budaya Yunani dan India, memengaruhi seni dan
keagamaan Jepang sejak abad ke-6 Masehi, dilengkapi dengan pengenalan agama
Buddha sekte Mahayana. Sejak abad ke-16, pengaruh Eropa menonjol, disusul
dengan pengaruh Amerika Serikat yang mendominasi Jepang setelah berakhirnya
Perang Dunia II. Jepang turut mengembangkan budaya yang original dan unik,
dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar,
persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo), dan
tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang),
serta makanan Jepang.
Kini, Jepang merupakan salah sebuah pengekspor budaya pop
yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusastraan, permainan video, dan
musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara
Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar menciptakan trend baru dan kegemaran
mengikut gaya mereka memengaruhi mode dan trend seluruh dunia. Pasar muda-mudi
yang amat baik merupakan ujian untuk produk-produk elektronik konsumen yang
baru, di mana gaya dan fungsinya ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum
dipertimbangkan untuk diedarkan ke seluruh dunia.
Chakinzushi, sushi yang dibungkus telur dadar tipis.
Baru-baru ini Jepang mula mengekspor satu lagi komoditas
budaya yang bernilai: olahragawan. Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika
Serikat meningkatkan kesadaran warga negara Barat tersebut terhadap segalanya
mengenai Jepang.
Orang Jepang biasanya gemar memakan makanan tradisi
mereka. Sebagian besar acara TV pada waktu petang dikhususkan pada penemuan dan
penghasilan makanan tradisional yang bermutu. Makanan Jepang mencetak nama di
seluruh dunia dengan sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan
mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi. Sushi memiliki banyak penggemar
di seluruh dunia. Makanan Jepang bertumpu pada peralihan musim, dengan
menghidangkan mi dingin dan sashimi pada musim panas, sedangkan ramen panas dan
shabu-shabu pada musim dingin.
U-995 Type VIIC Jerman. Antara 1939 dan 1945, 3.500 kapal
dagang Sekutu ditenggelamkan dengan mengorbankan 783 kapal-U Jerman.
Benito Mussolini
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Benito Mussolini
Kepala Pemerintahan Italia dan Duce Fasisme
Masa jabatan
24 Desember 1925 – 25 Juli 1943
Penguasa monarki Victor
Emmanuel III
Didahului oleh Tidak
ada , jabatan baru
Digantikan oleh Posisi
dihapuskan
Perdana Menteri Italia ke-27
Masa jabatan
31 Oktober 1922 – 25 Juli 1943
Penguasa monarki Victor
Emmanuel III
Didahului oleh Luigi
Facta
Digantikan oleh Pietro
Badoglio
Duce Republik Sosial Italia
Masa jabatan
23 September 1943 – 25 April 1945
Didahului oleh Tidak
ada , jabatan baru
Digantikan oleh Jabatan
dihapuskan
Marshal Pertama Kekaisaran
Masa jabatan
30 Maret 1938 – 25 Juli 1943
Didahului oleh Tidak
ada , jabatan baru
Digantikan oleh Jabatan
dihapuskan
Informasi pribadi
Lahir Benito
Amilcare Andrea Mussolini
29 Juli 1883
Predappio, Forlì
Kerajaan Italia
Meninggal 28 April
1945 (umur 61)
Giulino di Mezzegra, Como
Kerajaan Italia
Tempat persemayaman San
Cassiano cemetery, Predappio, Forlì, Republik Italia
Kebangsaan Italia
Partai politik Partai
Fasis Republikan
(1943–1945)
Partai Fasis Nasional
(1921–1943)
Fasci Italiani di Combattimento
(1919–1921)
Fasci d'Azione Rivoluzionaria
(1914–1919)
Fasci Autonomi d'Azione Rivoluzionaria
(1914)
Partai Sosialis Italia
(1901–1914)
Suami/istri Rachele
Mussolini
Relasi Ida
Dalser
Margherita Sarfatti
Clara Petacci
Anak Benito Albino
Mussolini
Edda Mussolini
Vittorio Mussolini
Bruno Mussolini
Romano Mussolini
Anna Maria Mussolini
Profesi Diktator,
politikus, jurnalis, novelis, guru
Agama Atheis
(Lihat temanya untuk lebih lanjut.)
Tanda tangan
Dinas militer
Pengabdian bagi Flag
of Italy (1861-1946).svg Kerajaan Italia
War flag of the Italian Social Republic.svg Republik
Sosial Italia
Dinas/cabang Militer
Royal Italia
Masa dinas active:
1915–1917
Pangkat Marshal
Peratama Kekaisaran
Koporal
Unit Bersaglieri
Regiment ke-11
Pertempuran/perang Perang
Dunia I
Perang Dunia II
Benito Amilcare Andrea Mussolini (lahir 29 Juli 1883 –
meninggal 28 April 1945 pada umur 61 tahun) adalah seorang diktator Italia yang
menganut Fasis. Ia adalah diktator Italia pada periode 1922-1943. Ia dipaksa
mundur dari jabatan Perdana Menteri Italia pada 28 Juli 1943 setelah
serangkaian kekalahan Italia di Afrika. Setelah ditangkap, ia diisolasi. Dua
tahun kemudian, ia dieksekusi di Como, Italia utara. Mussolini mengakhiri
sebuah dekade seperti di Jerman yang dilakukan diktator Adolf Hitler dengan
Nazi-nya.
Kehidupan[sunting | sunting sumber]
Mussolini lahir di Predappio, Forlì (Emilia-Romagna).
Ayahnya Alessandro seorang pandai besi dan ibunya Rosa seorang guru sekolah.
Seperti ayahnya, ia menjadi seorang sosialis berat. Tahun 1902 ia beremigrasi
ke Swiss. Karena sulit mencari pekerjaan tetap, akhirnya ia pindah ke Italia.
Pada 1908 ia bergabung dengan surat kabar Austria di kota Trento.
Keluar dari situ, ia jadi editor sebuah koran sosialis la
Lotta di Class (Pertentangan Kelas). Di sini antusiasmenya pada Karl Heinrich
Marx makin besar. Tahun 1910, ia menjabat sekretaris partai sosialis tingkat
daerah di Forlì dan kepribadiannya berkembang menjadi antipatriot. Ketika
Italia menyatakan perang dengan Kerajaan Ottoman tahun 1911, ia dipenjara
karena propaganda perdamaiannya. Ini bertentangan dengan kinerjanya kemudian.
Setelah ditunjuk jadi editor koran sosialis Avanti, ia
pindah ke Milan, tempatnya membangun dirinya sebagai kekuatan berpangaruh atas
para pemimpin buruh sosialis Italia. Ia percaya, para proletar bisa dibuhul
dalam gerakan fascio. Agaknya inilah cikal bakal gerakan fasis, yang lahir di
saat perekonomian Italia memburuk akibat perang, dan pengangguran merebak di
mana-mana.
Pada Maret 1919, fasisme menjadi suatu gerakan politik
ketika ia membentuk Kelompok untuk Bertempur yang dikenal sebagai baju hitam,
yakni kumpulan penjahat, kriminal, dan preman yang bertindak sebagai tukang pukul
para cukong. Penampilan mereka seram dan tiap hari terlibat perkelahian di
jalan-jalan.
Setelah gagal pada Pemilu 1919, ia mengembangkan paham
kelompoknya, sehingga mulai mendapat pengaruh. Mereka, kaum fasis, menolak
parlemen dan mengedepankan kekerasan fisik. Anarki pecah di mana-mana.
Pemerintah liberal tak berdaya menghadapinya. Ia membawa "geng"nya,
sejumlah besar kaum fasis yang bertampang sangar, untuk melakukan Berbaris ke
Roma.
Melihat rombongan preman berwajah angker memasuki Roma,
Raja Vittorio Emanuele III menciut jeri. Mussolini diundang ke istana lalu
diberi posisi sang Pemimpin. Pada Oktober 1922, Raja memintanya membentuk
pemerintahan baru. Jadilah Italia dikelola pemerintahan fasis.
Gebrakan pertamanya setelah memegang kekuasaan, adalah
menyerang Ethiopia dengan merujuk pada pandangan rasis Charles Robert Darwin,
"Ethiopia bangsa kelas rendah, karena termasuk kulit hitam. Jika
diperintah oleh ras unggul seperti Italia, itu sudah merupakan akibat alamiah
dari evolusi." Bahkan ia bersikeras bahwa bangsa-bangsa berevolusi melalui
peperangan. Sehingga jadilah Italia waktu itu salah satu bangsa yang ditakuti
sepak terjangnya.
Mussolini dibebaskan oleh pasukan khusus Jerman
Yang meresahkan, ketika ia menduduki Abbesinia tahun
1937, kontan dunia tersentak. Teman akrabnya di Eropa adalah Adolf Hitler, dan
mereka membuat aliansi, yang menyeret Italia ke dalam Perang Dunia II di pihak
Jerman pada 1940. Namun, pasukannya akhirnya kalah di Yunani, Afrika, dan Uni
Soviet (Rusia), dan Italia sendiri akhirnya diserbu oleh pasukan Britania Raya
dan Amerika Serikat pada 1943. Pada saat itu Mussolini telah diturunkan dari
jabatannya oleh raja Victor Emmanuel III dan ditahan di Campo Imperatore,
sebuah resor pegunungan terpencil di Abruzzo.
Mayat Mussolini dan empat orang fasis yang telah
dieksekusi dan dipertontonkan di Piazzale Loreto, Milan, tahun 1945
Tak lama kemudian, pasukan khusus Jerman berhasil
membebaskan dan mengembalikannya berkuasa di Italia Utara. Tetapi, pada
praktiknya ia memerintah sebagai pemimpin boneka, yang sebenarnya berkuasa
adalah orang-orang Nazi Jerman. Akhir riwayatnya tiba tak lama kemudian. Ketika
akhirnya Fasis Italia dikalahkan pada tahun 1945, ia, bersama istri sirinya,
dan tiga orang pendukungnya ditangkap dan kemudian ditembak mati oleh kelompok
perlawanan Italia (tepatnya kelompok komunis) di sebuah desa bernama Giulino di
Mezzegra dan mayat mereka digantung terbalik dan dipertontonkan kepada publik
di pompa bensin di Piazza Loreto, Milan. Sebelum digantung, mayat mereka dibawa
ke tempat tersebut lalu ditembaki berkali-kali, diludahi, dilempari batu, dan
ditendangi oleh rakyat yang marah terhadap sepak terjang Mussolini dan Partai
Fasis-nya. Hal ini bertujuan untuk meruntuhkan semangat juang orang-orang fasis
dan sebagai pembalasan atas penggantungan beberapa partisan di tempat yang sama
oleh otoritas Poros. Beberapa saat kemudian, kaum partisan menangkap seorang
loyalis dan salah satu pimpinan kaum fasis, Achille Starace dan ia
diperlihatkan mayat Mussolini. Ia memberi penghormatan kepada pemimpinnya
tersebut sesaat sebelum ditembak mati dan ia sendiri turut digantung bersama
mayat Mussolini. Mayat Mussolini kemudian dikuburkan di makam tak bertanda di
Mussoco. Setahun kemudian, di hari Paskah, sisa-sisa pendukungnya menggali
kuburnya kembali dan kemudian disembunyikan di suatu tempat bernama Certosa de
Pavia, dekat Milan. Masalah mayat Mussolini sempat menjadi kontroversi di
Italia saat itu dan akhirnya, mayat Mussolini ditemukan dan
"disimpan" selama 10 tahun sebelum dikuburkan di Predappio,
Emilia-Romagna, tempat kelahirannya.
Benito Mussolini
Bahasa Dari Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia
prabayar bebas
Benito Mussolini
Kepala Pemerintahan Italia Dan Duce Fasisme
Masa Jabatan
24 Desember 1925-25 Juli 1943
Penguasa Monarki Victor Emmanuel III
Diposkan oleh didahului NUSANTARA ADA, Jabatan baru
Negara
Digantikan Diposkan Posisi dihapuskan
Perdana Menteri Italia Ke-27
Masa Jabatan
31 Oktober 1922-25 Juli 1943
Penguasa Monarki Victor Emmanuel III
Diposkan oleh didahului Luigi Facta
Diposkan oleh Digantikan Pietro Badoglio
Duce Republik Sosial Italia
Masa Jabatan
23 September 1943 - 25 April 1945
Diposkan oleh didahului NUSANTARA ADA, Jabatan baru
Negara
Diposkan oleh Digantikan Jabatan dihapuskan
Marshal Nuvifone Kekaisaran
Masa Jabatan
30 Maret 1938-25 Juli 1943
Diposkan oleh didahului NUSANTARA ADA, Jabatan baru
Negara
Diposkan oleh Digantikan Jabatan dihapuskan
INFORMASI Pribadi
Lahir Benito Amilcare Andrea Mussolini
29 Juli 1883
Predappio, Forlì
Kerajaan Italia
Meninggal 28 April 1945 (umur 61)
Giulino di Mezzegra, Como
Kerajaan Italia
TEMPAT persemayaman San Cassiano pemakaman, Predappio,
Forlì, Republik Italia
Kebangsaan Italia
Partai Politik Partai Fasis Republikan
(1943-1945)
Partai Fasis Nasional
(1921-1943)
Fasci Italiani di Combattimento
(1919-1921)
Fasci d'Azione Rivoluzionaria
(1914-1919)
Fasci Autonomi d'Azione Rivoluzionaria
(1914)
Partai Sosialis Italia
(1901-1914)
Suami / Istri Rachele Mussolini
Relasi Ida Dalser
Margherita Sarfatti
Clara Petacci
Anak Benito Mussolini Albino
Edda Mussolini
Vittorio Mussolini
Bruno Mussolini
Romano Mussolini
Anna Maria Mussolini
Profesi Diktator, politikus, Jurnalis, Novelis, guru
Agama Atheis
(Lihat temanya untuk lebih lanjut.)
Tanda Tangan
Dinas Militer
Pengabdian BAGI Bendera Italia (1861-1946) .svg Kerajaan
Italia
Bendera Perang Italia Republic.svg Sosial Republik Sosial
Italia
Dinas / cabang Militer Ulasan Royal Italia
Masa dinas aktif: 1915-1917
Pangkat Marsekal Peratama Kekaisaran
Koporal
Satuan Resimen Ke-Bersaglieri 11
Pertempuran / perang Perang Dunia I
Perang Dunia II
Benito Amilcare Andrea Mussolini (lahir 29 Juli 1883 -
Meninggal 28 April 1945 Mortality umur 61 tahun) adalah seorang Diktator Italia
Yang menganut Fasis. Ia adalah Diktator Italia iB periode 1922-1943. Ia dipaksa
mundur bahasa Dari Jabatan Perdana Menteri Italia Mortality 28 Juli 1943
Penghasilan kena pajak serangkaian kekalahan Italia di Afrika. Penghasilan kena
pajak ditangkap, diisolasi besarbesaran. Dua Tahun kemudian, besarbesaran
dieksekusi di Como, Italia Utara. Mussolini mengakhiri sebuah dekade seperti di
Jerman Yang dilakukan Diktator Nazi Adolf Hitler Mencari Google Artikel
Baru-nya.
Kehidupan [sunting | sunting Sumber]
Mussolini lahir di Predappio, Forlì (Emilia-Romagna).
Ayahnya Alessandro seorang pandai besi Dan ibunya Rosa seorang guru Sekolah.
Seperti ayahnya, besarbesaran menjadi seorang Sosialis berat untuk. Tahun 1902
besarbesaran beremigrasi Ke Swiss. KARENA Sulit MENCARI pekerjaan Tetap,
akhirnya besarbesaran lalai pintu gerbang Ke Italia. Mortality 1908
besarbesaran bergabung Artikel Baru surat kabar Austria di kota Trento.
Keluar Bahasa Dari situ jadi besarbesaran Editor sebuah
Sosialis koran la Lotta di Kelas (Pertentangan Kelas). Di Sini antusiasmenya
Mortality Karl Heinrich Marx makin Besar. Tahun 1910, besarbesaran menjabat
Sekretaris Partai Sosialis TINGKAT daerah adalah di Forlì Dan kepribadiannya
Berkembang menjadi antipatriot. Ketika Italia menyatakan perang Mencari Google
Artikel Baru Kerajaan Ottoman Tahun 1911, besarbesaran dipenjara KARENA
propaganda perdamaiannya. Suami bertentangan Artikel Baru kinerjanya kemudian.
Penghasilan kena pajak ditunjuk koran Editor jadi
Sosialis Avanti, besarbesaran lalai pintu gerbang Ke Milan, tempatnya MEMBANGUN
dirinya sebagai kekuatan berpangaruh Atas para Pemimpin Buruh Sosialis Italia.
Ia Percaya, para proletar Bisa dibuhul Dalam, Gerakan Fascio. Agaknya INILAH
cikal Bakal Gerakan fasis, Yang lahir di SAAT perekonomian Italia memburuk
akibat perang, Dan pengangguran merebak di mana-mana.
IB Maret 1919, fasisme menjadi suatu Gerakan Politik
ketika besarbesaran membentuk Kelompok untuk Bertempur Yang dikenal sebagai
baju hitam, yakni kumpulan penjahat, kriminal, Dan preman Yang bertindak
sebagai tukang Pukul para cukong. Penampilan mereka Seram Dan TIAP Hari
terlibat perkelahian di jalan-jalan.
Penghasilan kena pajak Gagal Mortality Pemilu 1919,
besarbesaran mengembangkan PAHAM kelompoknya, sehingga MULAI mendapat pengaruh.
Mereka, kaum fasis, menolak Parlemen Dan mengedepankan mengejar ketertinggalan
fisik. Anarki Pecah di mana-mana. Pemerintah Secara liberal tak Berdaya
menghadapinya. Ia membawa "geng" nya, sejumlah kaum fasis Besar Yang
bertampang sangar, untuk melakukan Berbaris Ke Roma.
Melihat rombongan preman berwajah Angker memasuki Roma,
Raja Vittorio Emanuele III menciut jeri. Mussolini diundang Ke Istana Lalu
diberi Posisi menyanyikan Pemimpin. IB Oktober 1922, Raja memintanya membentuk
pemerintahan baru Negara. Jadilah Italia dikelola fasis pemerintahan.
Gebrakan pertamanya Penghasilan kena pajak memegang
kekuasaan, adalah menyerang Ethiopia Artikel Baru merujuk Mortality pandangan
rasis Charles Robert Darwin, "Ethiopia Bangsa Kelas rendah, KARENA termasuk
kulit hitam. Jika ras diperintah Diposkan oleh Unggul seperti Italia, ITU sudah
merupakan akibat Alamiah bahasa Dari evolusi." Bahkan besarbesaran
bersikeras bahwa Bangsa-Bangsa berevolusi SIL peperangan. Sehingga jadilah
Italia waktu ITU salat Satu Bangsa Yang ditakuti sepak terjangnya.
Mussolini dibebaskan Diposkan oleh Pasukan KHUSUS Jerman
Yang meresahkan, ketika besarbesaran menduduki Abbesinia
Tahun 1937, KONTAN Dunia tersentak. Teman akrabnya di eropa adalah Adolf
Hitler, Dan mereka cara membuat Aliansi, Yang menyeret Italia Ke Dalam, Perang
Dunia II di pihak Jerman Mortality 1940 Namun, pasukannya akhirnya Kalah di
Yunani, Afrika, Dan Uni Soviet (Rusia), Dan Italia Sendiri akhirnya diserbu
Diposkan oleh Pasukan Britania Raya Dan amerika Serikat Mortality 1943 PADA
SAAT ITU Mussolini telah diturunkan Bahasa Dari jabatannya Diposkan oleh raja
Victor Emmanuel III Dan ditahan di Campo Imperatore, sebuah ini resor
Pegunungan terpencil di Abruzzo.
Mayat Mussolini Dan Empat fasis orangutan Yang telah dieksekusi
Dan dipertontonkan di Piazzale Loreto, Milan, Tahun 1945
Tak lama kemudian, KHUSUS Pasukan Jerman BERHASIL
membebaskan Dan mengembalikannya berkuasa di Italia Utara. Tetapi, iB
praktiknya besarbesaran memerintah sebagai Pemimpin boneka, Yang sebenarnya
berkuasa adalah orangutan-orangutan Nazi Jerman. Akhir riwayatnya Tiba tak lama
kemudian. Ketika akhirnya Fasis Italia dikalahkan Mortality Tahun 1945,
besarbesaran, Bersama Istri sirinya, Dan Tiga orangutan pendukungnya ditangkap
Dan kemudian ditembak Mati Diposkan nama kelompok perlawanan Italia (tepatnya
nama kelompok komunis) di sebuah desa Bernama Giulino di Mezzegra Dan mayat
mereka digantung terbalik Dan dipertontonkan kepada Publik di Pompa bensin di
Piazza Loreto, Milan. Sebelum digantung, mayat mereka dibawa Ke TEMPAT tersebut
Lalu ditembaki berkali-Kali, diludahi, dilempari batu, Dan ditendangi Diposkan
oleh rakyat Yang Marah terhadap sepak terjang Mussolini Dan Partai Fasis-nya.
Hal inisial bertujuan untuk meruntuhkan Semangat Juang fasis
orangutan-orangutan Dan sebagai Pembalasan Atas penggantungan beberapa partisan
di TEMPAT Yang sama Diposkan oleh otoritas Poros. Beberapa SAAT kemudian, kaum
partisan menangkap seorang loyalis Dan salat Satu pimpinan kaum fasis, Achille
Starace Dan besarbesaran mayat diperlihatkan Mussolini. Ia memberi penghormatan
kepada pemimpinnya tersebut sesaat sebelum ditembak Mati Dan besarbesaran
Sendiri turut digantung Bersama mayat Mussolini. Mayat Mussolini kemudian
dikuburkan di Makam tak bertanda di Mussoco. Kemudian Setahun, di Hari Paskah,
Sisa-Sisa pendukungnya menggali kuburnya Kembali Dan kemudian disembunyikan di
suatu TEMPAT Bernama Certosa de Pavia, Dekat Milan. Masalah mayat Mussolini
Sempat menjadi kontroversi di Italia SAAT ITU Dan akhirnya, mayat Mussolini
ditemukan Dan "disimpan" selama 10 Tahun sebelum dikuburkan di
Predappio, Emilia-Romagna, TEMPAT kelahirannya.
Berkas: Pelaksanaan Mussolini (1945) .ogg
Video eksekusi Benito Mussolini (Bersambung)







No comments:
Post a Comment