![]() |
| Pengungsi asal Timur Tengah |
Australia Perketat Akses Pencari Suaka Yang Berdampak
Pada Indonesia
Sydney, Australia (Antara/Reuters) - Pemerintah
konservatif Australia Rabu menegaskan keputusan untuk menghentikan pencari
suaka dari Timur Tengah yang melintasi Indonesia untuk menetap di Australia,
dan berpotensi menyisakan masalah ribuan pengungsi terdampar di Indonesia.
Pemerintah Australia mengumumkan pada Selasa (18/11)
bahwa pencari suaka yang terdaftar di Komisi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di
Indonesia setelah 1 Juli tidak lagi memenuhi syarat untuk bermukim di
Australia.
Australia akan terus menampung beberapa pengungsi yang
terdaftar sebelum tanggal tersebut, tetapi telah memotong jumlah tempat yang
dialokasikan, yang berarti masa tunggu di Indonesia yang akan dimukimkan
kembali akan lebih lama.
Menteri Imigrasi Scott Morrison mengatakan aturan baru
yang dirancang untuk menghentikan aliran pencari suaka ke Indonesia dari
Pakistan, Iran dan Afghanistan.
"Para penyelundup menyelundupkan orang ke Indonesia
untuk dapat dimukimkan di Australia." ujar Morrison kepada radio ABC,
Rabu.
Kerjasama Intelejen dan Militer kembali dilakukan oleh
Australia dan Indonesia sejak tiga bulan lalu setelah sempat renggang perihal
kasus penyadapan pembicaraan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
istrinya serta pembicaraan sejumlah pejabat tinggi Indonesia lainnya.
Jumlah pencari suaka ke Australia menjadi patokan
dibandingkan dengan negara-negara lain namun ini merupakan isu polarisasi
politik. Sebelum memenangkan pemilu Australia tahun lalu, Perdana Menteri Tony
Abbott mengkampanyekan isu tersebut dengan gencar.
Hingga saat ini, UNHCR telah mencatat 10.623 pencari
suaka dan pengungsi yang berada di Indonesia masih menunggu untuk dapat
dimukimkan kembali hingga April. Sementara, sekitar 100 orang mendaftarkan
dirinya di kantor UNHCR Jakarta setiap minggunya.
Morrison menolak mengatakan apakah perubahan itu dibahas
oleh PM Abbott dan Presiden Indonesia Joko Widodo dalam Konferensi Tingkat
Tinggi G20 di Brisbane pekan lalu, namun mengatakan Indonesia "sepenuhnya
menilai" keputusan tersebut sebelum dipublikasikan.
"Kami sangat senang bekerja sama dengan Indonesia
dengan cara apapun yang kami bisa untuk mengurangi jumlah pencari suaka di
Indonesia, tetapi tidak melalui proses mendorong lebih banyak orang untuk
datang ke Indonesia karena mereka berpikir mereka akan mendapatkan visa ke
Australia," ujar Morison.

No comments:
Post a Comment