![]() |
| Oil Drilling |
Umur Cadangan Energi Indonesia semakin pamjang
Oleh : Muhammad Jusuf*
Harga minyak mentah di pasaran dunia Juni 2014 lalu masih
sekitar US$ 100 per barel, kini 20 Nofwmber merosot jadi di bawah U$ 80 per
barel (antara U$ 84- U$ 86 perbarel, atau merosot terus dalam tiga bulan
terakhir.
Tapi, anehnya pemerintahan Joko Widodo – Muhammad Jusuf
Kalla berani-beraninya justru menaikkan harga minyak solar dan bensin sehingga
bisa memicu meroketnya inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat. Sehingga
harga Sembilan bahan pokok dan biaya transportasi juga naik, inilah yang
mengundang berbagai protest di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa.
Terlepas dari polemik naiknya harga BBM (solar dan
bensin) itu mari kita lihat seberapa besar potensi cadangan dan ketanan energy Indonesia.
Lima belas tahun lalu para peneliti dan lembaga energy
Internasional, sudah memperkirakan cadangan minyak bumi di Indonesia dengan
tingkat konsumsi yang ada akan habis dalam waktu lima belas tahun.
Lima belas tahun lalu kemampuan produksi Indonesia bisa
mencapai 1,5 jut barel per hari, separuhnya di konsumsi dalam negeri.
Kini, mengapa Indonesia masih bisa memproduksi minyak
mentah, walaupun jumlahnya terus merosot hanya sekitar 1 juta barel per hari,
yang sebagian besar di konsumsi dalam negeri.
Salah satu alasannya adalah ditemukannya teknologi
eksploitasi minyak baru. Seperti kita ketahui dengan metode konvensional
cadangan minyak bumi yang bisa kita sedot dari perut bumi paling banyak 15%
dari cadangan yang ada.
Namun dengan teknologi enhanced oil recovery steam flood,
dengan menyuntuikkan uap panas (steam flood) ke sumur minyak yang ada, cadangan
minyak bum ibisa di eksploitasi lebih banyak 15% lagi seperti yang telah lama
dilakukan PT Caltex Indonesia (Kini Cheron) di lapangan minyak duri, Riau.
Alasan kedua, inestasi baru dibidang eksploitasi minyak
bumi terus dilakukan sehingga cadangan minyak baru, walaupun kecil, terus
ditemukan.
Semula ketergantungan minyak bumi untuk konsumsi kendaraan
dan pembangkit listrik di Indonesia cukup besar.
Namun, karena diversifikasi penggunaan energy untuk
pembangkit listrik kini dilakukan dengan menggunakan energi batubara.
Hampir semua pembangkit listrik baru kini menggunakan
energy batubara.
Semula penggunaan batubara untuk pembangkit listrik tidak
popular , lantaran pencemaran udara yang ditimbulkannya. Kini dengan
ditemukannya system penyaringan udara maka debu batubara bisa disaring, bahkan
debu batubara bisa dimanfaatkan sebagai bahan pencanpu semen, sehingga energy
batubara kembali popular di dunia.
Itu sebabnya Indonesia kini bukan saja menkonsumsi batu
bara untuk pembangkit listriknya, tetapi juga mengekspornya ke berbagai Negara.
Tidak heran Indonesia adalah salah satu dari lima Negara di
dunia yang lolos dari dampak krisis ekonomi dunia, selain Korea Selatan,
Mexico, Turki dan Polandia.
Indonesia selamat dari dampak krisis ekonomi dunia berkat
ekspor komoditas seperti batubara, timah dan Kelapa sawit.
US Geological Survey Oil and Gas Journal, 1995 – 2000
lalu dalam laporannya memperkirakan, cadangan minyak bumi Indonesia mulai
menipis, yang kini diperkirakan hanya
tersedia untuk jangka waktu sekitar 15 tahun. Hitungan tersebut dengan asumsi
tingkat konsumsi tinggi seperti sekarang, yang berada pada kisaran tingkat
pertumbuhan konsumsi 5-6 persen setahun. Perkiraan itu bisa lebih parah lagi kalau pola hidup
dari masyarakat Indonesia yang sangat boros dalam penggunaan energi
fosil ini masih dipertahankan. Sulit dibayangkan apa yang terjadi pada negeri
ini jika mengalami kekurangan pasokan energy yang berkepanjangan.
US Geological Survey Oil and Gas Journal, 1995 – 2000,
juga melaporkan Amerika Serikat yang
hanya bisa memproduksi dan menikmati minyak bumi kurang dari 1 dekade, termasuk
Kanada, Inggris, Norwegia, Mesir, Argentina, Australia, dan Ekuador. Dalam
kelompok ini menurut US Geological Survey Oil and Gas Journal, termasuk
Indonesia. Sumber yang sama juga
memperkirakan Negara-negaraseperti China,
Negeria, Aljazair, Malaysia, Kolombia, Oman, India, Qatar, Angola, Rumania,
Yaman, dan Brunei, masih bisa menikmati enegi fosil ini dalam 50 tahun
mendatang. Disamping itu dilaporkan juga Negara-negara yang produksi minyak
buminya bisa berkelanjutan sampai 100 tahun seperti : Saudi Arabia, Rusia,
Meksiko, Libya, Brazil, Azerbeijan, dan Trinidad, Iran dan Venezuela. Dan
ternyata ada beberapa Negara yang bisa berpesta pora melanjutkan produksi
minyaknya untuk masa lebih dari 100 tahun kedepan seperti Irak, Emirat Arab,
Kuwait, Kazakhstan, Turkmenistan, Tunisia, dan Uzbekistan.
Walapun cadangan minyak bumi masih terdapat di berbagai
belahan wilayah dunia, tetapi tak mungkin sanggup mengimbangi tingkat
ketergantungan kita yang sangat tinggi pada energi fosil tersebut. Setidaknya
ada perkiraan batasan, sekali waktu minyak bumi tak bisa disedot lagi dari
perut bumi.
Dengan melihat kondisi
cadangan energi minyak bumi yang semakin menipis, prioritas utama yang harus
dilakukan untuk menanggulanginya adalah
mengurangi konsumsi BBM. Setelah itu usaha untuk mengganti energi fosil
dengan energi alternatif.Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang,
Brazil, China, India dan beberapa negara Eropa sudah bersiap-siap untuk
mengatasi pasca habisnya minyak bumi. Mereka sudah mulai memanfaatkan etanol dan
biodiesel sebagai alternatif pengganti energi minyak bumi.
Memang perlunya energi alternatif untuk mengurangi
penggunaan BBM sudah sangat mendesak. Indonesia juga telah melakukan berbagai
upaya untuk mengatasi masalah energi tersebut, seperti mengembangkan bahan
bakar dari tumbuh-tumbuhan (biofuel) saat ini sedang menjadi bahan perhatian
banyak kalangan. Biofuel adalah sejenis bahan bakar yang terbuat dari minyak
nabati.
Beberapa sumber bahan baku biofuel adalah sawit (palm), jarak
(jatropha), sorgum, jagung, tebu dan singkong (casava). Indonesia adalah negara
yang sangat kaya akan sumber-sumber alam nabati yang dibutuhkan sebagai bahan
dasar biofuel tsb, tinggal permasalahan penyediaan tenaga ahlinya.
Disamping Biofuel energi nuklir salah satu alternatif yang
cocok untuk Indonesia. Seperti diketahui Negara Perancis menggunakan energi
nuklir untuk memenuhi 80 persen kebutuhan energinya.Sayangnya, pengembangan
energi nuklir terkendala masalah teknologi dan sumber daya manusia sehingga
perlu kerja sama dengan pihak asing.
Apa yang membuat nuklir kurang popular di Indonesia?
Mungkin usaha pemerintah untuk mensosialisikan nuklir masih kurang. Nuklir
hanya dipandang dari sisi negatifnya saja. Peran media massa sangat dibutuhkan
dalam mensosialisasikan energi nuklir yang selama ini hanya di gambarkan
sebagai alat pembunuh masal. Sangat diharapkan kita tidak terlambat untuk
memutuskan penggunaan energi nuklir.
Jangan sampai pada saat kita sudah mulai bisa menerima
kenyataan untuk mau tidak mau menerima penggunaan energi nuklir, kita sudah
sangat jauh tertinggal dalam penyediaan tenaga ahlinya.
Indonesia cukup beruntung selain minyak bumi, kita juga
punyak gas alam, walaupun Produksinya kini kian merosot. Bila 10 tahun lalu
Indonesia adalah pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di didunia, kini
merosot ke peringkat ke lima dilewati Qatar, Malaysia, Australia dan Brunei
Darussalam.
Cadangan gas alam andalan Indonesia di lapangan gas Arun,
Lhok Seumawe, Aceh terus berkurang. Dari kapasitas kilang LNG di Arun yang dulu
mencapi enam train, kini tinggal satu train yang beroperasi.
Begitu juga kilang gas alam cair di Bontang, Kalimantan
Timur, dari enam train, kini tinggal dua train yang beoperasi.
Untung Indonesia menemukan cadangan gas baru di Tangguh,
Papua, yang gas alam cairnya kini diekspor ke Cina.
Potensi gas di Indonesia, sebenarnya masih lumayan besar.
Bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan potensi minyak mentah yang
diperkirakan dalam 12 tahun lagi habis.
"Potensi gas di Indonesia mencapai 107,34 triliun
kaki kubik, lokasinya merata di seluruh Indonesia, berbeda dengan potensi
cadangan minyak yang semakin menipis.
Potensi (proven) gas di Indonesia tersebut, kemungkinan
juga masih bisa berkembang. Masih ada potensi yang kemungkinan masih bisa
dikembangkan lagi sebesar 52,29 triliun kaki kubik.
Melihat potensi gas itu pemerintah berusaha mengalihkan
pemanfaatan energi dari minyak ke gas. "Apalagi, produksi gas Indonesia
juga masih rendah sekitar 670 ribu kaki kubik per harinya.
Sementara potensi minyak di Indonesia mencapai 4,303.10
miliar barel, sedangkan potensi yang kemungkinan masih bisa dikembangkan
mencapai 3,685,39 miliar barel.
Dengan kondisi itu, lanjutnya, pontesi minyak yang ada
tersebut, dengan produksi minyak, sekarang ini sekitar 900 ribu barel per hari,
diperkirakan dalam 12 tahun habis. Hanya saja, , perkiraan habisnya minyak
tersebut, juga belum tentu kebenarannya, sebab kemungkinan masih ada temuan
cadangan minyak baru.
"Dulu 10 tahun lalu ada perkiraan minyak di Indonesia dalam 10 tahun habis.
Kenyataan setelah 20 tahun masih ada dan ada perkiraan baru 12 tahun
habis," paparnya.
Besarnya cadangan
migas di Indonesia itu, memang relatif sangat minim, dibandingkan dengan
potensi cadangan migas yang ada di negara penghasil minyak di dunia, seperti
Arab Saudi.
Sebaliknya, katanya, Indonesia relatif kaya dengan sumber
daya alam, air, matahari, hutan, tapi tidak kaya dengan sumber migas, tapi juga
kaya energy batubara.
Pada 2012, Indonesia mampu mengekspor batubara mencapai
330 juta ton dari total kapasitas produksi mencapai 400 juta. Sisanya,
digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Indonesia menjadi negara dengan jumlah produksi dan
cadangan batubara terbesar di dunia, ekspor batubara Indonesia masih sebatas
negara-negara di Asia seperti China, India, Korea Selatan, Jepang serta
beberapa negara Asean seperti Laos, Thailand, Myanmar dan Filipina.
“Rata-rata nilai
ekspor batubara kita mencapai US$20 miliar per tahunnya. Batubara di dalam
negeri sekitar 53% digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Sedangkan
untuk kebutuhan industri dalam negeri hanya mencapai 47%. Tantangan perdagangan
batubara nasional masih terbentur kualitas yang masih harus ditingkatkan.
Pasalnya, China kini menerima batu bara dengan kualitas lebih tinggi dan rendah
emisi. Meski begitu, kebutuhan ekspor batubara ke negara tradisional seperti
China dan India serta beberapa negara Asean terus meningkat.
Cadangan batubara Indonesia diperkirakan mencapai 28
miliar ton yang sudah siap ditambang serta 156 miliar ton potensi batubara yang
belum digali. Oleh karenanya, jika produksi batubara Indonesia tidak
dikendalikan akan berdampak buruk pada industri dalam negeri. “Kalau produksi
terlalu banyak, harga di pasaran akan anjlok. Jika seperti itu, ini akan
memukul kita sendiri. Kalau harga jatuh negara enggak dapat apa-apa.
Salah satu energy masa depan Indonesia diantaranya adalah
biodiesel.
Biodiesel selain berasal dari minyak pohon jarak juga
berasal dari minyak kelapa sawit. Kini Indonesia merupakan produsen dan
eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia, karena komoditi ini tidak bisa
tumbuh di Negara lain kecuali di beberapa Negara tropis seperti Indonesia dan
Malaysia.
Produksi komoditas kelapa sawit Indonesia yang merupakan
bahan mentah minyak goreng (crude palm oil/CPO) rata-rata mencapai 23,5 juta
ton per tahun. Dari jumlah itu, 16,5 juta ton diekspor ke sejumlah negara di
dunia, terutama AS dan Eropa.
Sawit merupakan salah satu komoditas unggulan negara
karena jadi salah satu penyumbang devisa terbesar nonmigas.
Karena itu, pemerintah terus mendorong pertumbuhan
industri sawit nasional. Dalam hal kelapa sawit. Indonesia memiliki pesaing
kuat yaitu Malaysia. Meski secara volume Indonesia masih unggul dalam
produktivitas Indonesia kalah oleh Malaysia. “Saat ini, luas lahan di Indonesia
sekitar 7,9 juta hektare. Lahan seluas itu menghasilkan CPO 23,5 juta ton per
tahun. Malaysia yang luas lahannya 4 juta hektare mampu memproduksi CPO 18,5
juta ton per tahun,” ujarnya.
Melihat kondisi itu perlu upaya meningkatkan
produktivitas dengan penggunaan bibit berkualitas tinggi yang ditopang sistem
pemeliharaan dan pemupukan terpadu, serta perlu adanya akses menuju pabrik
pengolahan.
Pada tahun 2020 Indonesia mampu memproduksi 40 juta ton
CPO per tahun. apabila penggunaan bibit berkualitas tinggi ditopang sistem
pemeliharaan dan pemupukan terpadu.
Guna merealisasikan target itu, pada Rencana Kehutanan
Tingkat Nasional (RKTN) 2011-2030, pemerintah telah mengalokasikan kawasan
hutan yang pemanfaatannya bagi sektor perkebunan.
“Saat ini, luas Hutan Produksi Konversi (HPK) sekitar
17,94 hektare. Sekitar 4,06 juta hektare
di antaranya, dialokasikan pemerintah dalam RKTN 2011-2030 tentang kawasan
hutan yang pemanfaatannya bagi sektor non-kehutanan, seperti perkebunan,”
ujarnya.
"Biodiesel dan Bioetanol, kedua bahan bakar ini
dihasilkan dari berbagai tanaman yang ada di Indonesia. Dengan kemampuan
seperti itu, maka tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan energi biodiesel
ini.
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia berkembang dengan
pesat sejak awal tahun 80-an dan hingga akhir 2003 luas total perkebunan kelapa
sawit di Indonesia telah mencapai 4,9 juta hektar dengan produksi CPO (crude
palm oil) sebesar 10,68 juta ton.
Perkembangan perkebunan sawit ini, masih akan terus berlanjut dan diperkirakan
dalam lima tahun mendatang Indonesia akan menjadi produsen CPO terbesar di
dunia dengan total produksi sebesar 15 juta ton/tahun.
Salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat
dikembangkan di Indonesia - selain sebagian besar hasilnya masih dieskpor dalam
bentuk CPO, dan di dalam negeri diolah menjadi produk pangan, terutama minyak
goreng--adalah biodiesel, yang dapat digunakan sebagai "bahan bakar
alternatif", terutama untuk mesin diesel.
"Dengan semakin tingginya harga minyak bumi
akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia mulai mengembangkan biodiesel,
baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.
Biodiesel ini adalah bahan bakar cair yang diformulasikan
khusus untuk mesin diesel yang terbuat dari minyak nabati (bio-oil), tanpa
perlu memodifikasi mesin dieselnya.
"Untuk pemakaian Biodiesel ini, bisa pure biodiesel,
maupun sebagai bahan substitusi pada petrodiesel, dengan campuran antara 5
sampai 20%. Berbagai kendaraan, mulai dari truk, bus, traktor, hingga
mesin-mesin industri bisa menggunakan bahan bakar biodiesel ini.
Bahkan sebuah mobil Toyota Innova keluaran terbaru - dengan
mesin commond real-nya--bisa menggunakannya. Ia memberi contoh bahwa salah satu
mobil Toyota Innova milik para peneliti sudah mampu menempuh jarak 9.195 km
dengan menggunakan bahan bakar biodiesel.
*Senior freelance Journalist
yusuf.agusno@gmail.com

No comments:
Post a Comment