!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Thursday, November 20, 2014

Umur Cadangan Energi Indonesia semakin pamjang


Oil Drilling
Umur  Cadangan  Energi Indonesia semakin pamjang


Oleh : Muhammad Jusuf*

Harga minyak mentah di pasaran dunia Juni 2014 lalu masih sekitar US$ 100 per barel, kini 20 Nofwmber merosot jadi di bawah U$ 80 per barel (antara U$ 84- U$ 86 perbarel, atau merosot terus dalam tiga bulan terakhir.

Tapi, anehnya pemerintahan Joko Widodo – Muhammad Jusuf Kalla berani-beraninya justru menaikkan harga minyak solar dan bensin sehingga bisa memicu meroketnya inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat. Sehingga harga Sembilan bahan pokok dan biaya transportasi juga naik, inilah yang mengundang berbagai protest di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa.

Terlepas dari polemik naiknya harga BBM (solar dan bensin) itu mari kita lihat seberapa besar potensi cadangan dan ketanan energy Indonesia.

Lima belas tahun lalu para peneliti dan lembaga energy Internasional, sudah memperkirakan cadangan minyak bumi di Indonesia dengan tingkat konsumsi yang ada akan habis dalam waktu lima belas tahun.

Lima belas tahun lalu kemampuan produksi Indonesia bisa mencapai 1,5 jut barel per hari, separuhnya di konsumsi dalam negeri.
Kini, mengapa Indonesia masih bisa memproduksi minyak mentah, walaupun jumlahnya terus merosot hanya sekitar 1 juta barel per hari, yang sebagian besar di konsumsi dalam negeri.

Salah satu alasannya adalah ditemukannya teknologi eksploitasi minyak baru. Seperti kita ketahui dengan metode konvensional cadangan minyak bumi yang bisa kita sedot dari perut bumi paling banyak 15% dari cadangan yang ada.
Namun dengan teknologi enhanced oil recovery steam flood, dengan menyuntuikkan uap panas (steam flood) ke sumur minyak yang ada, cadangan minyak bum ibisa di eksploitasi lebih banyak 15% lagi seperti yang telah lama dilakukan PT Caltex Indonesia (Kini Cheron) di lapangan minyak duri, Riau.
Alasan kedua, inestasi baru dibidang eksploitasi minyak bumi terus dilakukan sehingga cadangan minyak baru, walaupun kecil, terus ditemukan.

Semula ketergantungan minyak bumi untuk konsumsi kendaraan dan pembangkit listrik di Indonesia cukup besar.

Namun, karena diversifikasi penggunaan energy untuk pembangkit listrik kini dilakukan dengan menggunakan energi batubara.
Hampir semua pembangkit listrik baru kini menggunakan energy batubara.
Semula penggunaan batubara untuk pembangkit listrik tidak popular , lantaran pencemaran udara yang ditimbulkannya. Kini dengan ditemukannya system penyaringan udara maka debu batubara bisa disaring, bahkan debu batubara bisa dimanfaatkan sebagai bahan pencanpu semen, sehingga energy batubara kembali popular di dunia.

Itu sebabnya Indonesia kini bukan saja menkonsumsi batu bara untuk pembangkit listriknya, tetapi juga mengekspornya ke berbagai Negara.

Tidak heran Indonesia adalah salah satu dari lima Negara di dunia yang lolos dari dampak krisis ekonomi dunia, selain Korea Selatan, Mexico, Turki dan Polandia.
Indonesia selamat dari dampak krisis ekonomi dunia berkat ekspor komoditas seperti batubara, timah dan Kelapa sawit.

US Geological Survey Oil and Gas Journal, 1995 – 2000 lalu dalam laporannya memperkirakan, cadangan minyak bumi Indonesia mulai menipis, yang kini diperkirakan  hanya tersedia untuk jangka waktu sekitar 15 tahun. Hitungan tersebut dengan asumsi tingkat konsumsi tinggi seperti sekarang, yang berada pada kisaran tingkat pertumbuhan konsumsi 5-6 persen setahun. Perkiraan itu  bisa lebih parah lagi kalau pola hidup dari  masyarakat Indonesia  yang sangat boros dalam penggunaan energi fosil ini masih dipertahankan. Sulit dibayangkan apa yang terjadi pada negeri ini jika mengalami kekurangan pasokan energy yang berkepanjangan.

US Geological Survey Oil and Gas Journal, 1995 – 2000, juga melaporkan  Amerika Serikat yang hanya bisa memproduksi dan menikmati minyak bumi kurang dari 1 dekade, termasuk Kanada, Inggris, Norwegia, Mesir, Argentina, Australia, dan Ekuador. Dalam kelompok ini menurut US Geological Survey Oil and Gas Journal, termasuk Indonesia. Sumber yang sama juga 
memperkirakan Negara-negaraseperti China, Negeria, Aljazair, Malaysia, Kolombia, Oman, India, Qatar, Angola, Rumania, Yaman, dan Brunei, masih bisa menikmati enegi fosil ini dalam 50 tahun mendatang. Disamping itu dilaporkan juga Negara-negara yang produksi minyak buminya bisa berkelanjutan sampai 100 tahun seperti : Saudi Arabia, Rusia, Meksiko, Libya, Brazil, Azerbeijan, dan Trinidad, Iran dan Venezuela. Dan ternyata ada beberapa Negara yang bisa berpesta pora melanjutkan produksi minyaknya untuk masa lebih dari 100 tahun kedepan seperti Irak, Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Turkmenistan, Tunisia, dan Uzbekistan.

Walapun cadangan minyak bumi masih terdapat di berbagai belahan wilayah dunia, tetapi tak mungkin sanggup mengimbangi tingkat ketergantungan kita yang sangat tinggi pada energi fosil tersebut. Setidaknya ada perkiraan batasan, sekali waktu minyak bumi tak bisa disedot lagi dari perut bumi.
 Dengan  melihat kondisi cadangan energi minyak bumi yang semakin menipis, prioritas utama yang harus dilakukan untuk menanggulanginya adalah  mengurangi konsumsi BBM. Setelah itu usaha untuk mengganti energi fosil dengan energi alternatif.Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Brazil, China, India dan beberapa negara Eropa sudah bersiap-siap untuk mengatasi pasca habisnya minyak bumi. Mereka sudah mulai memanfaatkan etanol dan biodiesel sebagai alternatif pengganti energi minyak bumi.

Memang perlunya energi alternatif untuk mengurangi penggunaan BBM sudah sangat mendesak. Indonesia juga telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah energi tersebut, seperti mengembangkan bahan bakar dari tumbuh-tumbuhan (biofuel) saat ini sedang menjadi bahan perhatian banyak kalangan. Biofuel adalah sejenis bahan bakar yang terbuat dari minyak nabati. 

Beberapa sumber bahan baku biofuel adalah sawit (palm), jarak (jatropha), sorgum, jagung, tebu dan singkong (casava). Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber-sumber alam nabati yang dibutuhkan sebagai bahan dasar biofuel tsb, tinggal permasalahan penyediaan tenaga ahlinya.
Disamping Biofuel energi nuklir salah satu alternatif yang cocok untuk Indonesia. Seperti diketahui Negara Perancis menggunakan energi nuklir untuk memenuhi 80 persen kebutuhan energinya.Sayangnya, pengembangan energi nuklir terkendala masalah teknologi dan sumber daya manusia sehingga perlu kerja sama dengan pihak asing.

Apa yang membuat nuklir kurang popular di Indonesia? Mungkin usaha pemerintah untuk mensosialisikan nuklir masih kurang. Nuklir hanya dipandang dari sisi negatifnya saja. Peran media massa sangat dibutuhkan dalam mensosialisasikan energi nuklir yang selama ini hanya di gambarkan sebagai alat pembunuh masal. Sangat diharapkan kita tidak terlambat untuk memutuskan penggunaan energi nuklir.

Jangan sampai pada saat kita sudah mulai bisa menerima kenyataan untuk mau tidak mau menerima penggunaan energi nuklir, kita sudah sangat jauh tertinggal dalam penyediaan tenaga ahlinya.

Indonesia cukup beruntung selain minyak bumi, kita juga punyak gas alam, walaupun Produksinya kini kian merosot. Bila 10 tahun lalu Indonesia adalah pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di didunia, kini merosot ke peringkat ke lima dilewati Qatar, Malaysia, Australia dan Brunei Darussalam.

Cadangan gas alam andalan Indonesia di lapangan gas Arun, Lhok Seumawe, Aceh terus berkurang. Dari kapasitas kilang LNG di Arun yang dulu mencapi enam train, kini tinggal satu train yang beroperasi.

Begitu juga kilang gas alam cair di Bontang, Kalimantan Timur, dari enam train, kini tinggal dua train yang beoperasi.
Untung Indonesia menemukan cadangan gas baru di Tangguh, Papua, yang gas alam cairnya kini diekspor ke Cina.

Potensi gas di Indonesia, sebenarnya masih lumayan besar. Bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan potensi minyak mentah yang diperkirakan dalam 12 tahun lagi habis.

"Potensi gas di Indonesia mencapai 107,34 triliun kaki kubik, lokasinya merata di seluruh Indonesia, berbeda dengan potensi cadangan minyak yang semakin menipis.

Potensi (proven) gas di Indonesia tersebut, kemungkinan juga masih bisa berkembang. Masih ada potensi yang kemungkinan masih bisa dikembangkan lagi sebesar 52,29 triliun kaki kubik.

Melihat potensi gas itu pemerintah berusaha mengalihkan pemanfaatan energi dari minyak ke gas. "Apalagi, produksi gas Indonesia juga masih rendah sekitar 670 ribu kaki kubik per harinya.

Sementara potensi minyak di Indonesia mencapai 4,303.10 miliar barel, sedangkan potensi yang kemungkinan masih bisa dikembangkan mencapai 3,685,39 miliar barel.

Dengan kondisi itu, lanjutnya, pontesi minyak yang ada tersebut, dengan produksi minyak, sekarang ini sekitar 900 ribu barel per hari, diperkirakan dalam 12 tahun habis. Hanya saja, , perkiraan habisnya minyak tersebut, juga belum tentu kebenarannya, sebab kemungkinan masih ada temuan cadangan minyak baru.

"Dulu 10 tahun lalu ada perkiraan  minyak di Indonesia dalam 10 tahun habis. Kenyataan setelah 20 tahun masih ada dan ada perkiraan baru 12 tahun habis," paparnya.

 Besarnya cadangan migas di Indonesia itu, memang relatif sangat minim, dibandingkan dengan potensi cadangan migas yang ada di negara penghasil minyak di dunia, seperti Arab Saudi.

Sebaliknya, katanya, Indonesia relatif kaya dengan sumber daya alam, air, matahari, hutan, tapi tidak kaya dengan sumber migas, tapi juga kaya energy batubara.

Pada 2012, Indonesia mampu mengekspor batubara mencapai 330 juta ton dari total kapasitas produksi mencapai 400 juta. Sisanya, digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

Indonesia menjadi negara dengan jumlah produksi dan cadangan batubara terbesar di dunia, ekspor batubara Indonesia masih sebatas negara-negara di Asia seperti China, India, Korea Selatan, Jepang serta beberapa negara Asean seperti Laos, Thailand, Myanmar dan Filipina.

 “Rata-rata nilai ekspor batubara kita mencapai US$20 miliar per tahunnya. Batubara di dalam negeri sekitar 53% digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Sedangkan untuk kebutuhan industri dalam negeri hanya mencapai 47%. Tantangan perdagangan batubara nasional masih terbentur kualitas yang masih harus ditingkatkan. Pasalnya, China kini menerima batu bara dengan kualitas lebih tinggi dan rendah emisi. Meski begitu, kebutuhan ekspor batubara ke negara tradisional seperti China dan India serta beberapa negara Asean terus meningkat.

Cadangan batubara Indonesia diperkirakan mencapai 28 miliar ton yang sudah siap ditambang serta 156 miliar ton potensi batubara yang belum digali. Oleh karenanya, jika produksi batubara Indonesia tidak dikendalikan akan berdampak buruk pada industri dalam negeri. “Kalau produksi terlalu banyak, harga di pasaran akan anjlok. Jika seperti itu, ini akan memukul kita sendiri. Kalau harga jatuh negara enggak dapat apa-apa.

Salah satu energy masa depan Indonesia diantaranya adalah biodiesel.
Biodiesel selain berasal dari minyak pohon jarak juga berasal dari minyak kelapa sawit. Kini Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia, karena komoditi ini tidak bisa tumbuh di Negara lain kecuali di beberapa Negara tropis seperti Indonesia dan Malaysia.

Produksi komoditas kelapa sawit Indonesia yang merupakan bahan mentah minyak goreng (crude palm oil/CPO) rata-rata mencapai 23,5 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, 16,5 juta ton diekspor ke sejumlah negara di dunia, terutama AS dan Eropa.

Sawit merupakan salah satu komoditas unggulan negara karena jadi salah satu penyumbang devisa terbesar nonmigas.

Karena itu, pemerintah terus mendorong pertumbuhan industri sawit nasional. Dalam hal kelapa sawit. Indonesia memiliki pesaing kuat yaitu Malaysia. Meski secara volume Indonesia masih unggul dalam produktivitas Indonesia kalah oleh Malaysia. “Saat ini, luas lahan di Indonesia sekitar 7,9 juta hektare. Lahan seluas itu menghasilkan CPO 23,5 juta ton per tahun. Malaysia yang luas lahannya 4 juta hektare mampu memproduksi CPO 18,5 juta ton per tahun,” ujarnya.

Melihat kondisi itu perlu upaya meningkatkan produktivitas dengan penggunaan bibit berkualitas tinggi yang ditopang sistem pemeliharaan dan pemupukan terpadu, serta perlu adanya akses menuju pabrik pengolahan.

Pada tahun 2020 Indonesia mampu memproduksi 40 juta ton CPO per tahun. apabila penggunaan bibit berkualitas tinggi ditopang sistem pemeliharaan dan pemupukan terpadu.

Guna merealisasikan target itu, pada Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) 2011-2030, pemerintah telah mengalokasikan kawasan hutan yang pemanfaatannya bagi sektor perkebunan.

“Saat ini, luas Hutan Produksi Konversi (HPK) sekitar 17,94 hektare. Sekitar 4,06  juta hektare di antaranya, dialokasikan pemerintah dalam RKTN 2011-2030 tentang kawasan hutan yang pemanfaatannya bagi sektor non-kehutanan, seperti perkebunan,” ujarnya.

"Biodiesel dan Bioetanol, kedua bahan bakar ini dihasilkan dari berbagai tanaman yang ada di Indonesia. Dengan kemampuan seperti itu, maka tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan energi biodiesel ini.
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia berkembang dengan pesat sejak awal tahun 80-an dan hingga akhir 2003 luas total perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 4,9 juta hektar dengan produksi CPO (crude palm oil) sebesar 10,68 juta ton.

Perkembangan perkebunan sawit ini,  masih akan terus berlanjut dan diperkirakan dalam lima tahun mendatang Indonesia akan menjadi produsen CPO terbesar di dunia dengan total produksi sebesar 15 juta ton/tahun.
Salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia - selain sebagian besar hasilnya masih dieskpor dalam bentuk CPO, dan di dalam negeri diolah menjadi produk pangan, terutama minyak goreng--adalah biodiesel, yang dapat digunakan sebagai "bahan bakar alternatif", terutama untuk mesin diesel.

"Dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia mulai mengembangkan biodiesel, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.

Biodiesel ini adalah bahan bakar cair yang diformulasikan khusus untuk mesin diesel yang terbuat dari minyak nabati (bio-oil), tanpa perlu memodifikasi mesin dieselnya.

"Untuk pemakaian Biodiesel ini, bisa pure biodiesel, maupun sebagai bahan substitusi pada petrodiesel, dengan campuran antara 5 sampai 20%. Berbagai kendaraan, mulai dari truk, bus, traktor, hingga mesin-mesin industri bisa menggunakan bahan bakar biodiesel ini.

Bahkan sebuah mobil Toyota Innova keluaran terbaru - dengan mesin commond real-nya--bisa menggunakannya. Ia memberi contoh bahwa salah satu mobil Toyota Innova milik para peneliti sudah mampu menempuh jarak 9.195 km dengan menggunakan bahan bakar biodiesel.

*Senior freelance Journalist
yusuf.agusno@gmail.com



No comments:

Post a Comment