!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Tuesday, August 27, 2013

Pembuat makanan tempe dan tahu terancam bangkrut, karena Harga komoditas kedelai impor terus merangkak naik




Pabrik Tahu
Pembuat makanan tempe dan tahu terancam bangkrut, karena Harga komoditas kedelai impor terus merangkak naik

Harga komoditas kedelai impor terus merangkak naik karena ikut terpengaruh melemahnya kurs rupiah yang belakangan ini sedang terjadi. Harga eceran kedelai impor jenis superior sudah mencapai Rp.10.000 per kg, yang kedelai biasa Rp.9500

Salah satu pedagang di Pasar Legi Solo, Pardi, mengaku harga kedelai impor semakin hari makin tinggi. Dia mendapat pasokan kedelai impor dari Semarang.

Kedelai impor lebih mahal Rp500 per kg dibanding kedelai lokal. Yang membedakan adalah ukuran kedelai impor lebih besar. Harga kedelai lokal juga mengikuti kenaikan harga kedelai impor walau tidak begitu banyak.
 
"Kedelai lokal juga harganya tinggi Rp8.750 sampai Rp9.500 per kg nya. Namun saat ini stoknya juga terbatas karena belum musim panen," kata dia di Pasar Legi Solo, Sabtu (22/8/2013),

Apalagi para perajin tempe dan sari kedelai ini masih sangat bergantung pada kedelai impor. Petani lokal masih belum dapat mencukupi kebutuhan kedelai lokal bagi para pengusaha olahan kedelai ini.

Kondisi seperti ini juga  berdampak pada usaha tempe dan sari kedelai di Kota Bengawan. Sejumlah pedagang pun mulai mengantisipasi kenaikan harga kedelai impor tersebut.

Pemilik usaha pembuatan tempe, Sudarmi  mengatakan harga kedelai saat ini sudah Rp9.500 naik dari sebelumnya saat Lebaran, Rp7.500 per kilogram. “Kami dan perajin tempe lainnya jelas makin kesulitan," ujar Sudarmi.

Perajin tempe yang memulai usahanya sejak tahun 2000  ini merasa kesulitan bila dirinya juga ikut menaikkan harga jual tempe  akibatnya pembeli berkurang. "Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa lari, dan yang pasti omzetnya turun sampai 15 persen,"tandasnya.

"Karena tingginya harga kedelai impor, jumlah yang dibeli juga  dikurangi, kalau pakai kedelai Jawa (lokal) butirnya kecil, kedelai impor butirnya besar dan cepat empuk meski kualitas rasa lebih enak kedelai pakai kedelai lokal. Di samping itu harganya pun tidak berbeda jauh," jelasnya.

 Perajin tahu di Purwogondo, Kartasura protes keras dengan mahalnya harga bahan baku kedelai. Harga mengalami kenaikan tinggi dari sebelumnya hanya Rp 6.700 per kilogram menjadi Rp 8.700 per kilogram hingga Rp 9.000 per kilogram. Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran  tidak bisa berproduksi dan membuat usaha tutup.

"Sayakhawatir ke depan tahu dan tempe akan menjadi makanan mahal seperti daging sapi saat ini. Menginggat bahan untuk produksi berupa kedelai tidak mampu dibeli perajin karena mahal," ujar salah satu perajin tahu, Sukasno (40) warga Purwogondo RT 03 RW 01, Kartasura ditemui ditempat usahanya, Senin (26/08/2013).

Sukasno mengaku di Purwogondo, Kartasura dalam sejarahnya ada ratusan perajin tahu. Tapi seiring berjalanya waktu, jumlah perajin terus mengalami penurunan. Bahkan untuk saat ini jumlahnya tinggal belasan orang saja. Karena itu, kenaikan harga bahan baku produki untuk membuat tahu berupa kedelai membuat perajin protes keras. Sebab perajin menilai pemerintah tidak bisa melindungi masyarakat kecil khususnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Padahal, kata Sukasno perajin tahu Purwogondo Kartasura pernah melakukan protes keras dengan turun ke jalan. Aksi ini bahkan dilakukan dengan menutup akses ruas jalan di simpang tiga tugu Kartasura. "Dari dulu sampai sekarang keinginan perajin tahu disini sama harga kedelai murah dan mudah mendapatkannya agar produksi berjalan terus. Tapi nyatanya mana sama sekali tidak ada perhatian dari permintah pusat maupun daerah," lanjutnya.

No comments:

Post a Comment