!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Thursday, May 22, 2014

Internasional soroti Jokowi dan Prabowo, pengalaman Keduanya

Jokowi dan JK
Prabowo . Hatta
Internasional soroti Jokowi dan Prabowo, pengalaman Keduanya

Masyarakat internasional saat ini menyoroti visi dan misi dua pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden Indonesia, yakni Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang baru diunggah ke situs Komisi Pemilihan Umum.

Dave McRae, peneliti senior di Asia Institute, Universitas Melbourne, Australia, mengaku mengamati visi dan misi kedua pasangan mengingat posisi Indonesia di mata dunia semakin penting.

“Meski pengaruh Indonesia di luar negeri masih ada batasan yang jelas, banyak negara berharap bahwa ke depan Indonesia kian berpengaruh. Jadi tentunya siapa yang bakal menjadi presiden dan apa kebijakannya akan terus diikuti oleh masyarakat luar negeri,” kata McRae.

McRae kemudian mengemukakan bagaimana persepsi khalayak internasional terhadap Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

“Selama ini Joko Widodo belum memegang jabatan di tingkat nasional. Jadi kami masih menunggu siapa menteri luar negerinya dan apa prioritas-prioritasnya jika terpilih. Namun, paling tidak jika dia berkunjung ke luar negeri tidak menimbulkan masalah. Sedangkan apabila Prabowo ke luar negeri, masih ada tanda tanya apakah dia bisa masuk ke semua negara karena latar belakangnya yang terkait dengan hak asasi manusia?”

Di kubu koalisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa telah mengungkapkan visi dan misi mengenai kebijakan luar negeri.

Prabowo-Hatta menyebutkan akan melaksanakan politik luar negeri bebas aktif, tegas dalam melindungi kepentingan nasional, menjaga keselamatan rakyat Indonesia di seluruh dunia, dan meningkatkan peran serta Indonesia dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia.

Adapun di kubu koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Eva Sundari selaku juru bicara PDIP menilai baik-buruknya penilaian khalayak internasional tidak banyak berpengaruh terhadap elektabilitas Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Pemilih kami paling signifikan di Pulau Jawa dan wilayah-wilayah padat penduduk lainnya. Setelah itu, baru luar negeri. Itu pun pusatnya berada di Malaysia kemudian Arab Saudi,” kata Eva.

Kampanye hitam pilpres pengaruhi pemilih

Kampanye hitam atau negatif melalui media sosial untuk menyudutkan kubu presiden Jokowi atau kubu Prabowo, diperkirakan akan terus mengalami kenaikan hingga pemilu presiden Juli nanti.

"Intensitasnya cenderung naik," kata pengamat media sosial, Wicaksono saat dihubungi BBC Indonesia, Kamis (22/05) siang.

Menu utama kampanye hitam itu, yang banyak dijumpai di media sosial Twitter dan Facebook, dibanjiri mulai isu rasial, agama, politik, hingga persoalan masa lalu pribadi Jokowi dan Prabowo.

"Sama besarnya dan frekuensinya sama seringnya dan dibuat berulang-ulang," kata Wicaksono.

Pelaku kampanye hitam ini, menurutnya, adalah dua kubu yang bersaing dalam pilpres, baik yang dilakukan tim pendukung resmi atau bukan.
"Jadi, mereka menggunakan semua cara, baik yang kasar dan tidak kasar," katanya.

Wicaksono menganalisa, sebagian masyarakat sadar dan tahu betul bahwa kampanye negatif belum bisa dipertanggungjawabkan, sehingga mereka tidak serta mereta menelannya.

"Kampanye negatif hanya kita lakukan di dalam sekedar merespon hal-hal yang kadang dilempar kandidat pasangan Pak Prabowo," kata Aria Bima.
Sampai sekitar pukul 17.00 WIB, BBC Indonesia belum dapat menghubungi kubu Prabowo Subianto melalui pimpinan Partai Gerindra.

Namun dalam berbagai kesempatan, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menyatakan, Prabowo mendapat banyak sekali serangan dalam kampanye hitam, yang menurutnya semuanya bersifat fitnah dan tidak berdasar fakta.

"Pada dasarnya serangan yang ditujukan tersebut merupakan bentuk kekhawatiran pihak-pihak tertentu atas terus meningkatnya elektabitas Gerindra," kata Fadli, seperti dikutip sejumlah media. BBC

No comments:

Post a Comment