!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Sunday, December 1, 2013

Kemunculan Kembali Sarang Teroris Indonesia



Kemunculan Kembali Sarang Teroris Indonesia

Dalam beberapa tahun, Sulawesi menjadi tempat berlindung dan lokasi pelatihan teroris Islam garis keras di tanah air. Pihak kepolisian mengatakan kaum militan itu kini aktif bergerak dari Poso ke Makassar.

Oktober lalu, polisi menewaskan seorang tersangka teroris dan menahan dua lainnya di provinsi Sulawesi Selatan karena dituding terlibat dalam serangan terhadap polisi dan pihak lain. Sebelumnya, polisi membekuk seorang tersangka teroris pada Juni dan menewaskan dua penebar teror serta menahan beberapa lainnya pada Januari. Menurut mereka, sejumlah teroris itu datang dari kamp pelatihan di Poso.

Kawasan tersebut juga menjadi penanda awal bahwa teroris di Indonesia, yang menjalankan operasi terbatas dengan target polisi dan perampokan bank, melangsungkan perubahan taktik.
Tahun lalu, gubernur Sulawesi Selatan menjadi politisi pertama yang menjadi target serangan langsung bom molotov saat ia menggelar kampanye di Makassar. Bom gagal meledak, tapi pesan bergaung: polisi dan warga asing tidak lagi menjadi satu-satunya target para teroris.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbai kepada Wall Street Journal, provinsi Sulawesi Selatan adalah “lokasi baru yang menjadi perhatian.” Ia menambahkan bahwa “Poso adalah tempat berlatih, tapi telah diendus oleh pasukan keamanan.” Karena itu, tempat pelatihan pun berpindah, ujarnya.

Salah satu indikasi adanya peningkatan aktivitas teroris di provinsi tersebut, BNPT tahun ini menyelenggarakan forum baru untuk menghentikan penyebaran gagasan-gagasan radikal di Makassar. Banyak program baru disusun dalam waktu dua tahun belakangan.

Sejumlah pakar menukas bahwa kenaikan aktvitas teroris di Sulawesi menjadi bukti bagi sejumlah hal: jejaring lama masih aktif, para teroris dipaksa untuk terus bergerak mencari ruang sembunyi, target masih belum jelas.

Terakhir kali aktivitas teroris jelas terekam di Makassar terjadi lebih dari satu dasawarsa lampau. Secara historis, kawasan itu menjadi salah satu kantong utama Darul Islam: kelompok militan yang terhubung secara regional dan memicu kemunculan Jemaah Islamiyah—bekerja sama dengan Al-Qaeda dan menjadi pihak di belakang beberapa serangan teroris terburuk di Indonesia, termasuk di antaranya Bom Bali I pada 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Aktivitas teroris “kembali mengemuka [di Sulawesi Selatan] setelah para teroris mendapatkan pelatihan di Jawa dan Poso,” ujar Muh Taufiqurrahman, pakar masalah terorisme dari Abdurrahman Wahid Center.

Pelbagai hal tersebut membuat Mbai menunjuk Makassar untuk menjadi lokasi pertemuan besar pertama dengan militer sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan perintah pada awal 2013 untuk memberi peran lebih besar kepada tentara dalam pemberantasan terorisme. Mbai mengepalai multiagensi pemberantasan teroris yang didominasi kepolisian.
Pihak militer mengatakan Sulawesi pada umumnya menjadi contoh tentang bagaimana militer berperan dalam pemberantasan terorisme.

“Telah terjadi banyak penangkapan teroris. Tapi, agaknya, hal itu tidak diimbangi oleh tindak penanggulangan” menyusul tingginya tingkat perekrutan, ujar Brigadir Jenderal Jaswandi, Kepala Staf Daerah Militer VII Wirabuana kepada Wall Street Journal di sela-sela pertemuan dengan Mbai.

Menurut Jaswandi, militer membangun rumah bagi rakyat miskin di sejumlah desa di Poso—daerah yang menjadi saksi bagaimana konflik komunal yang melibatkan umat Kristen dan Islam memicu puluhan ribu orang untuk mengungsi pada akhir dekade 1990an—dalam upaya meredam masuknya ideologi garis keras.

Dalam sebuah pernyataan, gubernur Sulawesi Selatan, yang menjadi korban penyerangan tahun lalu, mengakui adanya ancaman di provinsinya. Ia menghubungkan serangan tersebut dengan perekonomian yang bertumbuh lebih pesat dibandung pusat perdagangan tradisional di Jawa dalam beberapa tahun terakhir ini.

“Jika terjadi sebuah ledakan bom, maka itu akan menakuti para investor,” katanya dalam sebuah pernyataan. “Kita jangan sampai membiarkan aksi segelintir orang membahayakan kehidupan banyak orang lainnya.”

Di Sulawesi dan daerah lainnya, ekonomi merupakan faktor penting.

Petinggi-petinggi kelompok garis keras di Indonesia seringkali merupakan orang-orang yang menganut ekstremisme agama. Namun, kalangan bawah dari gerakan tersebut seringkali dibentuk oleh orang-orang yang mengalami rasa frustasi akibat kesenjangan ekonomi.

Bagi mereka, rasa frustasi tersebut terjadi di tengah ledakan ekonomi beberapa tahun terakhir yang telah mendorong sejumlah provinsi seperti di Jakarta untuk meningkatkan upah minimum lebih dari 40% dalam satu tahun.

Di pengadilan Jakarta Selatan pekan lalu, Achmad Taufiq, seorang berusia 24 tahun yang disidang atas tuduhan upaya pemboman terhadap Kedutaan Besar Myanmar awal tahun ini, memenuhi kriteria tersebut.

Jaksa penuntut umum berpandangan Achmad Taufiq terdorong oleh gerakan Darul Islam.

Mbai tidak melihat adanya perubahan besar dalam operasi kontra terorisme di Indonesia. Namun ia mendukung sebuah upaya yang mendapat dukungan Presiden SBY untuk melibatkan militer dalam perang melawan teroris.
Mbai mengatakan ia saat ini tengah mengejar 30 pemimpin teroris, dan pekerjaannya akan lebih mudah juga ia bisa mendapatkan dukungan dari para kelapa daerah, sampai ke tingkat desa.

“Banyak orang bingung apakah teroris itu jahat atau tidak, terutama pada tingkat akar rumput,” katanya, merujuk kepada betapa efektifnya teroris dalam menggunakan propaganda,
“Ketika mereka menggunakan Islam, orang-orang di tingkat akar rumput menjadi bingung. Mereka menggunakan Islam sebagai spanduk jihad.” (WSJ)



No comments:

Post a Comment