!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Sunday, December 1, 2013

Yingluck Semakin Terpojok di Thailand





Yingluck Semakin Terpojok  di Thailand


Gejolak politik di Thailand memasuki masa genting. Pengunjuk rasa pada hari Minggu mengerubungi sebuah pusat komando polisi, sehingga Perdana Menteri (PM) Yingluck Shinawatra terpaksa meninggalkan tempat tersebut. Bagi Yingluck, peluang untuk lolos dari krisis ini semakin menipis.

Deputi Perdana Menteri Thailand, Pracha Promnok, dalam pidato televisi Minggu malam mendesak warga Bangkok agar tidak berada di jalanan antara pukul 10 malam hingga 5 pagi.

Sehari sebelumnya, bentrokan antara dua kelompok demonstran menewaskan setidaknya tiga korban. Sementara itu petugas keamanan menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan pendemo yang berusaha merangsek masuk kompleks gedung pemerintah pusat, Bangkok.

Suthep Thaugsuban, politikus veteran yang menggerakkan demo, sebelumnya telah mencanangkan hari Minggu itu sebagai “V-Day” alias hari kemenangan, dalam upayanya membersihkan Thailand dari pengaruh Thaksin Shinawatra, mantan PM yang juga kakak Yingluck. Ribuan warga bergerak mengikuti ajakan Suthep. Demonstran mengepung gedung pemerintahan serta sejumlah stasiun televisi.

Dalam sebuah orasi di hadapan pendukungnya, Suthep, 64 tahun, mengaku telah bertatap muka dengan Yingluck, 46 tahun, untuk menyampaikan tuntutannya. Suthep dan demonstran menuntut pemerintah mundur agar sebuah dewan yang akan ditunjuk bisa mengambil alih negara. Pejabat pemerintah juga menyatakan pertemuan antara keduanya telah terjadi, namun menolak membeberkan perinciannya.

Untuk saat ini, pemerintah Yingluck tampaknya masih terus bertahan. Demonstran masih belum bisa mengamankan beberapa lokasi kunci, terutama kompleks pemerintah pusat di Bangkok. Sejumlah bentrokan yang paling serius terjadi di tempat itu..

Meski demikian, demonstran berkerumun di halaman dan tempat parkir kompleks tersebut sambil terus membunyikan peluit, simbol bahwa waktu untuk pemerintahan Yingluck sudah habis. Yingluck kemudian terpaksa mundur keluar dari kompleks itu dan pindah ke lokasi yang tidak disebutkan.

 Kepindahan sang PM dari lokasi pusat pemerintahan menunjukkan krisis tampaknya masih akan terus bergulir.
Menurut warga, krisis ini sangat terkait dengan sepak terjang Thaksin. Sebagian warga memandang miliarder itu sebagai sosok yang dekat dengan rakyat miskin, berkat kebijakan seperti layanan kesehatan gratis dan akses kredit yang mudah.

 Sejak terguling dari kursi PM pada kudeta 2006, ia masih sangat popular, seperti terlihat dari gerakan akar rumput “Kaus Merah”. Yingluck menang telak dalam pemilu 2011 dengan mengusung kebijakan Thaksin.

Namun bagi pihak lain, pengaruh Thaksin yang masih sangat besar adalah pelanggaran terhadap hierarki politik di Thailand. Para demonstran yang tengah menguasai jalanan Bangkok menuduh Thaksin—dengan memanfaatkan adik dan massa pendukungnya—berupaya mengekang sistem politik demi kepentingannya sendiri.

“Kita harus menghentikan rezim Thaksin sekarang, sebelum terlambat,” kata Pairote Jaiboon, 47 tahun, salah satu demonstran yang mengepung kantor polisi di Bangkok utara pada Minggu. (WSJ)

No comments:

Post a Comment