DI JUAL tanah 350 m2 JL TNH MERDEKA GG GEBRAS NO 16 KP RAMBUTAN Jaktim murah HARGA MAU NAIK JADI RP 20 JT/m2 (lokasi dkt toll, mau di bangun Apartemen) Hub: sdr Rachmat Edy (Tlp) 08158034244, Wahyu Eko Buwono 089622855780
!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->
Saturday, February 1, 2014
Track the trail Stanley Greenberg - James Riady Behind Jokowi ( 3 )
Track the trail Stanley Greenberg - James Riady Behind Jokowi ( 3 )
ASATUNEWS - Perteman familiar James Riady , the Indonesian conglomerate , the son of Mochtar Riady ( former Managing Director of Bank BCA and founder of the Lippo Group ) and William Jefferson Clinton , aka Bill Clinton , starting from Sudono visit Salim ( Salim Antory father ) Mochtar Riady and to Little Rock City , the capital of the state of Arkansas , United States ( U.S. ) in 1984 .
Indonesian tycoon second visit to Little Rock City , Arkansas in 1984 it was called aimed to find a bank that can be purchased as a form of business expansion plan Salim Group / Bank BCA in the U.S. . According to the joint Congressional inquiry and the U.S. Senate , the reasons put forward two Indonesian tycoon was so absurd and unacceptable logic , because the Little Rock City is not one city or town finance business in the U.S. .
Congressional inquiry report and the U.S. Senate illicit donations scandal Lippo Group to a successful team President Bill Clinton ( Lippogate ) further explains the real reason of the arrival Sioe Liong Liem and Mochtar Riady City to Little Rock , Arkansas , USA is in order to carry out a special mission that is approaching Bill Clinton , who was already known - touted as the future leaders or presidential candidate in the future .
As James Riady , Mochtar Riady called closely linked to Chinese intelligence agencies fit various U.S. authorities the results of an investigation that uncovered illegal donations from the Lippo Group to Bill Clinton 's campaign team .
In 1986 , James Riady his father was assigned to manage Worthen Bank in Little Rock City , Arkansas with a special assignment personal approach to the Clinton family .
Bill Clinton was President of the United States 42 . He served two terms before the period of January 20, 1993 until January 20, 2000 . Before being elected president , Clinton for about 12 years was governor of Arkansas 40th and 42nd . His wife , Hillary Rodham Clinton , is a Senator from New York constituency .
In 1976 , Clinton was elected Arkansas Attorney General , and became governor of the state in 1978 . Having failed in his attempt to maintain that , he managed to get it back four years later , in 1986 , and was re-elected governor of Arkansas until 1990 until he managed to defeat President George Bush and independent candidate Ross Perot in the 1992 presidential election .
During 1986 - 1990 James Riady close ties to Bill and Hillary Clinton so successfully infiltrated the heart of U.S. power in the White House when Clinton was elected U.S. President in 1992 and was re-elected President in 1996 . James Riady his name famous throughout the world as a political donations scandal tainted money to Bill Clinton 's campaign team uncovered , just after Bill Clinton was sworn in as President of the United States for the second time (1996 ) . The scandal became known as the " Lippogate " .
The findings are very surprising Lippogate investigator on the American people have proven millions of dollars stolen money donated by the James Riady and friends - his friends , especially by John Huang ( former Vice President of Bank Lippo in the United States ) turned out to mostly come from China Resources Corporation ( CRC ) , a company incorporated in Hong Kong which is a Chinese -owned company under the guise Military Intelligence ( CMI ) . ( To be continued ) .
Melacak Jejak Stanley Greenberg - James Riady Dibalik Jokowi (3)
Melacak Jejak Stanley Greenberg - James Riady Dibalik Jokowi (3)
ASATUNEWS Perteman akrab James Riady, konglomerat Indonesia, putra Muchtar Riady (mantan Direktur Utama Bank BCA dan pendiri Lippo Grup) dengan William Jefferson Clinton alias Bill Clinton, dimulai dari kunjungan Sudono Salim (ayah Antory Salim) dan Muchtar Riady ke Little Rock City, Ibukota negara bagian Arkansas, Amerika serikat (AS) pada tahun 1984.
Kunjungan kedua taipan Indonesia ke Little Rock City, Arkansas pada tahun 1984 itu disebut bertujuan untuk mencari sebuah bank yang dapat dibeli sebagai wujud rencana perluasan bisnis Salim Grup / Bank BCA di AS. Menurut laporan penyelidikan gabungan Kongres dan Senat AS, alasan yang dikemukakan kedua taipan Indonesia itu sangat absurd dan tidak dapat diterima logika, karena Little Rock City bukan merupakan salah satu kota keuangan atau kota bisnis di AS.
Laporan penyelidikan Kongres dan Senat AS terkait skandal sumbangan haram Grup Lippo untuk tim sukses Presiden Bill Clinton (Lippogate) lebih lanjut menjelaskan alasan sebenarnya dari kedatangan Liem Sioe Liong dan Muchtar Riady ke Little Rock City, Arkansas, AS adalah dalam rangka menjalankan misi khusus yakni mendekati Bill Clinton yang saat itu sudah disebut - sebut sebagai calon pemimpin masa depan atau calon presiden AS di masa mendatang.
Sebagaimana James Riady, Muchtar Riady disebut terkait erat dengan badan intelijen China sesuai berbagai hasil penyelidikan pihak berwenang AS yang membongkar sumbangan haram dari Grup Lippo kepada tim sukses Bill Clinton.
Pada tahun 1986, James Riady ditugaskan ayahnya untuk mengelola Worthen Bank di Little Rock City, Arkansas dengan tugas khusus melakukan pendekatan pribadi kepada Keluarga Clinton.
Bill Clinton adalah Presiden Amerika Serikat ke-42. Ia menjabat dua kali masa jabatan periode 20 Januari 1993 hingga 20 Januari 2000. Sebelum terpilih menjadi presiden, Clinton selama sekitar 12 tahun adalah Gubernur Arkansas yang ke-40 dan ke-42. Istrinya, Hillary Rodham Clinton, adalah Senator dari daerah pemilihan New York.
Pada 1976, Clinton terpilih sebagai Jaksa Agung Arkansas, dan menjadi gubernur pada negara bagian tersebut pada 1978. Setelah gagal dalam usahanya mempertahankan posisi tersebut, ia berhasil mendapatkannya kembali empat tahun kemudian, 1986 dan terpilih kembali menjadi Gubernur Arkansas sampai tahun 1990 hingga ia berhasil mengalahkan Presiden George Bush serta kandidat independen Ross Perot pada pemilihan presiden 1992.
Selama 1986 - 1990 James Riady menjalin hubungan erat dengan Bill dan Hillary Clinton sehingga berhasil menyusup ke jantung kekuasaan Amerika Serikat di Gedung Putih ketika Clinton terpilih menjadi Presiden AS pada tahun 1992 dan terpilih kembali menjadi Presiden pada tahun 1996. James Riady terkenal namanya ke seluruh dunia ketika skandal politik sumbangan uang haram ke tim sukses Bill Clinton terbongkar, hanya beberapa saat setelah Bill Clinton dilantik sebagai Presiden AS untuk kedua kalinya (1996). Skandal itu kemudian dikenal dengan nama "Lippogate".
Hasil temuan penyidik pada Lippogate sangat mengejutkan rakyat Amerika Serikat karena terbukti uang haram jutaan dollar AS yang disumbangkan oleh James Riady dan teman - temannya, terutama oleh John Huang (mantan Vice President Bank Lippo di Amerika Serikat) ternyata sebagian besar berasal dari China Resources Corporation (CRC), sebuah perusahaan berbadan hukum Hongkong yang merupakan perusahaan kedok milik China Military Intelligence (CMI). (Bersambung).
Again , the animal dies in Surabaya Zoo
Again , the animal dies in Surabaya Zoo
A dead animal back in Surabaya Zoo , East Java , which is known as a result of the death of a pet animal .
This time the dead were a Komodo dragon and a three-year -old was found by a guard in the cage on Saturday ( 01 / 01 ) morning .
Suraji - time zoo keeper it will feed the dragons .
" I move the tail , but he [ the dragons ] does not respond and when I check his eyes already closed , " said guard cage Suraji as quoted by AFP news agency .
KBS spokesman Agus Supangkat said it will conduct an autopsy to find out the cause of death of these dragons .
He added that since July 2013 , as many as 105 pets have been killed in Indonesia's largest zoo it .
Komodo 's death is the fifth death at the zoo since early 2014 after only a day before ( 31 / 01 ) deer also died , said Supangkat .
African lion is 18 months old also died in early January .
Click zoo management has been taken over by the city of Surabaya , but the death of these animals did not stop.
Animal welfare groups continue to call for KBS closed , but Zuklifli Forestry Minister Hasan claimed that there was an attempt to close a number of parties and making KBS shopping center .
Komodo dragons are native to several Indonesian islands with protected habitat and is considered a vulnerable species .
Currently only a few thousand individuals dragons in the world . This large lizard can grow up to three meters and weigh up to 70kg . | BBC
Lagi, hewan mati di Kebun Binatang Surabaya
Lagi, hewan mati di Kebun Binatang Surabaya
Seekor satwa kembali mati di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, yang dikenal akibat kematian sejumlah satwa peliharaannya.
Kali ini yang tewas adalah seekor komodo berusia tiga tahun dan ditemukan oleh seorang penjaga di kandangnya pada Sabtu (01/01) pagi.
Suraji -penjaga kebun binatang- waktu itu akan memberi makan komodo tersebut.
"Saya gerakkan ekornya, tapi ia [komodo itu] tidak merespon dan ketika saya periksa matanya sudah tertutup," kata penjaga kandang Suraji seperti dikutip dari kantor berita AFP.
Juru bicara KBS Agus Supangkat mengatakan pihaknya akan melakukan otopsi untuk mencari tahu penyebab kematian komodo ini.
Ia menambahkan sejak Juli 2013, sebanyak 105 hewan peliharaan telah tewas di kebun binatang terbesar di Indonesia itu.
Kematian Komodo ini adalah kematian kelima di kebun binatang sejak awal 2014 setelah hanya sehari sebelumnya (31/01) seekor rusa juga mati, kata Supangkat.
Seekor singa Afrika berumur 18 bulan awal Januari juga mati.
Manajemen kebun binatang telah Klik diambil alih oleh pemerintah kota Surabaya, tetapi kematian hewan-hewan ini tidak juga berhenti.
Kelompok kesejahteraan hewan terus menyerukan agar KBS ditutup, namun Menteri Kehutanan Zuklifli Hasan mengklaim bahwa ada upaya sejumlah pihak untuk menutup KBS dan menjadikannya pusat perbelanjaan.
Komodo adalah hewan asli beberapa pulau Indonesia dengan habitat yang dilindungi dan dianggap sebagai spesies yang rentan.
Saat ini hanya tersisa beberapa ribu ekor komodo di dunia. Kadal besar ini dapat tumbuh hingga tiga meter dan mencapai berat 70kg.|BBC
Developing Master Foreign Investment in 2013
Developing Master Foreign Investment in 2013
Developing countries are the main destination of international investment by the corporation in 2013 , for two consecutive years . The trend is predicted to happen this year , though this time the developing countries have to face slower growth , political uncertainty , and turmoil in their financial markets . The data are released United Nations Conference ( UN ) on Trade and Development or UNCTAD , on Tuesday .
The increase in foreign direct investment ( FDI ) in developing countries is a reflection of their rapid rate of growth after the global financial crisis of 2008. However , the motor of global economic growth seems to gravitate back to the developed countries . Foreign investors are now turning to it . There are signals , foreign investors are increasingly worried about the political and economic problems facing some major developing countries .
However, the director of investment and effort UNCTAD , James Zhan , estimates FDI flows to developing countries this year is not reduced . However , the rate of growth may be slowing , he said . The Wall Street Journal , Zhan predicts developing countries will still dominate FDI flows this year .
" Slowdown in growth is the greatest risk , while FDI flows to developed countries will recover slowly , " said Zhan .
Changing the flow of foreign capital from developed to developing countries since the 2008 financial crisis is drastic . The share of global FDI to developing countries such as Brazil , Russia , India , China , and South Africa rose nearly doubled since 2008. While the flow of capital to developed countries in 2013 recorded less than half of their total FDI in 2007 .
In 2013 , corporate FDI up 11 % to total $ 1.5 trillion , still lower than the highest pre - crisis FDI which amounted to about $ 2 trillion in 2007 . Foreign investment in developed countries rose 12 % to $ 576 billion or 39 % of total global FDI . Meanwhile , foreign investment in developing countries rose 6.2 % to a record high of $ 759 billion, ie 52 % of the total FDI . The rest of the foreign investment flowing into the " transition countries " such as Russia and other eastern European countries , so obviously UNCTAD .
UNCTAD estimates that global FDI flows rose to $ 1.6 trillion in 2014 and $ 1.8 trillion in 2015 . When compared to previous years , this time of uncertainty about the flow of FDI to developing countries whirls . South Africa , Turkey , Brazil , and India will hold elections this year , a source of anxiety for foreign companies regarding their investments .|ASWJ
Negara Berkembang Kuasai Investasi Asing 2013
Negara Berkembang Kuasai Investasi Asing 2013
Negara berkembang menjadi tujuan utama investasi internasional oleh korporasi pada 2013, untuk dua tahun berturut-turut. Tren tersebut diprediksi terulang tahun ini, meski negara berkembang saat ini harus menghadapi pertumbuhan yang melambat, ketidakpastian politik, dan gejolak dalam pasar finansial mereka. Datanya dirilis Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Perdagangan dan Pembangunan atau UNCTAD, Selasa kemarin.
Kenaikan investasi asing langsung (FDI) di negara berkembang merupakan cerminan laju pertumbuhan mereka yang pesat usai krisis finansial global 2008. Namun, motor pertumbuhan ekonomi global tampaknya kembali condong ke negara maju. Pemodal asing pun kini beralih ke sana. Terdapat sinyal, investor asing tahun ini kian cemas akan masalah politik dan ekonomi yang dihadapi beberapa negara berkembang besar.
Meski demikian, direktur investasi dan usaha UNCTAD, James Zhan, memperkirakan aliran FDI ke negara berkembang tahun ini tidak berkurang. Bagaimanapun, laju pertumbuhannya bisa saja melamban, ujarnya. Kepada The Wall Street Journal, Zhan memprediksi negara berkembang masih akan mendominasi aliran FDI tahun ini.
“Melambannya pertumbuhan adalah risiko yang paling besar, sementara aliran FDI ke negara maju akan pulih dengan perlahan,” kata Zhan.
Berubahnya aliran modal asing dari negara maju ke negara berkembang sejak krisis finansial 2008 memang drastis. Pangsa FDI global ke negara berkembang besar seperti Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan naik hampir dua kali lipat sejak 2008. Sementara itu aliran modal ke negara maju pada 2013 tercatat kurang dari setengah total FDI mereka pada 2007.
Pada 2013, FDI korporasi naik 11% menjadi total $1,5 triliun, masih lebih rendah dari FDI tertinggi pra-krisis yang sebesar sekitar $2 triliun pada 2007. Investasi asing di negara maju naik 12% menjadi $576 miliar atau 39% dari total FDI global. Sementara itu, modal asing di negara berkembang naik 6,2% ke rekor tertingginya yakni $759 miliar atau 52% dari total FDI. Sisa investasi asing mengalir ke “negara transisi” seperti Rusia dan negara Eropa timur lainnya, demikian jelas UNCTAD.
UNCTAD memperkirakan aliran FDI global naik ke $1,6 triliun pada 2014 dan $1,8 triliun pada 2015. Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kali ini ketidakpastian soal aliran FDI akan berpusar di negara berkembang. Afrika Selatan, Turki, Brasil, dan India akan menggelar pemilu tahun ini, sumber kecemasan bagi perusahaan asing menyangkut investasi mereka.|ASWJ
Track the trail Stan Greenberg - James Riady Behind Jokowi ( 2 )
Track the trail Stan Greenberg - James Riady Behind Jokowi ( 2 )
ASATUNEWS - James Riady as the brains behind victory Jokowi Widodo or Jokowi allegedly invoked often have particular interests that pushed against Jokowi to be elected as president in the presidential election next July 9, 2014 .
As an Indonesian conglomerate , the Lippo Group and owner of First Media Group , James Riady making efforts Jokowi as President , it is not impossible even not a difficult thing . Its action on Bill Clinton 's campaign team in the U.S. presidential elections in 1992 and 1995 and in particular the relationship with the U.S. elite be very useful for large capital plan makes Jokowi magnitude as President.
Large plans ( Grand Scenario ) James Riady making Jokowi as President fully get help from his mentor , Antony Salim . Although not directly or openly , Antony Salim helped James Riady through Chairul hand , proxy ( power business ) Antony at Bank Mega and Trans Corporation . Through the help of Antony Salim , hundreds of volunteer organizations throughout Indonesia Jokowi formed and financed Chairul and or Trans Corp .
Antony is the son of the late Salim Liem Sioe Liong or Sudono Salim , Indonesia's richest tycoon who was known to be close to President Suharto's New Order era first . Undeniably, the success of the Salim Group became the largest conglomerate in Indonesia due to its proximity to President Suharto , who gives so much convenience and the concessions to Sudono Salim / Salim Group .
The relationship of President Suharto and stretchable when Sudono Sudono Salim Salim as the leader of the Indonesian conglomerate incorporated in the Noble Foundation Prasetya Suharto refused a request to contribute about 2.5 % of the net profit of the company -owned conglomerate that plans the funds donated will be used to finance and business development micro , small businesses , cooperatives and medium enterprises Indonesian aborigines are still far behind compared to the non- natives who dominate the Indonesian economy for decades .
Antony Salim is a mentor or supervisor James Riady . In Chinese tradition , Antony Salim is ' Toako ' for James Riady , Mochtar Riady as his father , former Managing Director of Bank BCA (owned by Salim Group ) were also recruited and trained by Sudono Salim ( father Antony Salim ) .
Antony Salim and James Riady pointed out as the initiator collects all Chinese Indonesian conglomerate to come together to make Jokowi as the next President , with all winning Jokowi raising funds , setting up a media network , utilizing the network of China International , asked Stanley Greenberg imaging strategy to infiltrate catapulted the popularity and electability Jokowi , and others - others . ( To be continued ) .
Melacak Jejak Stan Greenberg - James Riady Dibalik Jokowi (2)
Melacak Jejak Stan Greenberg - James Riady Dibalik Jokowi (2)
ASATUNEWS - James Riady sebagai otak di balik kemenangan Jokowi Widodo atau kerap dipanggil Jokowi ditenggarai memiliki kepentingan tertentu terhadap Jokowi yang didorongnya agar terpilih menjadi Presiden dalam pilpres 9 Juli 2014 mendatang.
Sebagai konglomerat Indonesia, pemilik Lippo Group dan First Media Group, upaya James Riady menjadikan Jokowi sebagai Presiden RI, bukan hal yang mustahil bahkan bukan hal yang sulit. Kiprahnya dalam tim sukses Bill Clinton pada Pilpres AS tahun 1992 dan 1995 dan hubungan khususnya dengan para elit AS menjadi modal besar sangat berguna bagi rencana besarnya menjadikan Jokowi sebagai Presiden RI.
Rencana besar (Grand Scenario) James Riady menjadikan Jokowi sebagai Presiden RI mendapatkan bantuan sepenuhnya dari mentornya, Antony Salim. Meski tidak secara langsung atau terbuka, Antony Salim membantu James Riady melalui tangan Chairul Tanjung, proxy (kuasa bisnis) Antony di Bank Mega dan Trans Corporation. Melalui bantuan Antony Salim, ratusan organisasi relawan Jokowi di seluruh Indonesia dibentuk dan dibiayai Chairul Tanjung dan atau Trans Corp.
Antony Salim adalah putra almarhum Liem Sioe Liong atau Sudono Salim, Taipan terkaya di Indonesia yang dikenal sangat dekat dengan Presiden Suharto pada masa orde baru dulu. Tidak dapat dipungkiri, keberhasilan Grup Salim menjadi konglomerasi terbesar di Indonesia dikarenakan kedekatannya dengan Presiden Suharto, yang memberikan begitu banyak kemudahan dan konsesi terhadap Sudono Salim / Salim Group.
Hubungan Presiden Suharto dan Sudono Salim merenggang ketika Sudono Salim sebagai pemimpin para konglomerat Indonesia yang tergabung dalam Yayasan Prasetya Mulia menolak permintaan Suharto untuk memberikan sumbangan sekitar 2.5% dari laba bersih perusahaan milik para konglomerat yang rencananya dana sumbangan itu akan digunakan sebagai sumber pembiayaan dan pembinaan usaha mikro, usaha kecil, koperasi dan usaha menengah kaum pribumi Indonesia yang masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kaum non pribumi yang mendominasi sektor ekonomi Indonesia selama puluhan tahun.
Antony Salim adalah mentor atau pembimbing James Riady. Dalam tradisi Cina, Antony Salim adalah 'Toako' bagi James Riady, sebagaimana ayahnya Muchtar Riady, mantan Direktur Utama Bank BCA (milik Salim Group) yang juga direkrut dan dibina oleh Sudono Salim (ayah Antony Salim).
Antony Salim dan James Riady disinyalir sebagai inisiator mengumpulkan seluruh konglomerat cina Indonesia untuk bersatu padu menjadikan Jokowi sebagai Presiden RI mendatang, dengan segala mengumpulkan dana pemenangan Jokowi, menyiapkan jaringan media, memanfaatkan jaringan China Internasional, meminta Stanley Greenberg menyusup strategi pencitraan untuk melambungkan popularitas dan elektabilitas Jokowi, dan lain - lain. (Bersambung).
Spending Big Oil Kings
Spending Big Oil Kings
Chevron, Exxon , Royal Dutch Shell and poured more than $ 120 billion in 2013 to increase their production of oil and gas . This expenditure is approximately equal to the cost to dispatch men to the moon .
But this spending is not aligned with the results of the three giants of the oil production . Their oil and gas production down , despite their total capital expenditure reached half a trillion dollars in the last five years . Each week the company is scheduled to announce their financial statements for 2013 . They predicted earnings lower than in 2012 , despite high oil prices .
One of the biggest problems : skyrocketing spending to finance a lot of " megaprojects " new . These projects include the mining of new oil and gas reserves to replace supplies from mature oil fields .
Oil mining plans on an artificial island in the Caspian Sea to cost $ 40 billion to a consortium of Exxon and Shell , up from the initial budget of $ 10 billion . The cost for a natural gas project in Australia called Gorgon , which is jointly owned by the three companies , jumped 45 % to $ 54 billion . According to some sources , Shell also issued at least $ 10 billion to a previously untested technologies : refinery ship . The company that builds natural gas refinery in a large vessel , so that Shell can search for gas in remote areas .
Exploration of new oil and gas mining is risky . Oil companies need to penetrate the ocean floor and go to the regions of Africa , Asia , and the Middle East is volatile . The mission is now more complicated and more expensive . Easily accessible oil fields have dried up long ago . The most productive field often dominated by state enterprises , such as in Saudi Arabia and Venezuela .
As a result , Chevron , Exxon , and Shell was forced to spend more . It endanger their profit margins are usually reliable . Exxon , for example , had to borrow and spend more money in order to patch up their capital expenditures . The Texas-based company had to dampen the volume of repurchase ( buyback ) of their shares .
According to Exxon , spending for new oil fields could reach about $ 41 billion last year , up 51 % from $ 27.1 billion in 2009 .
While risky strategy by going after big oil and gas fields , the oil giant behind three oil and gas shale trends in North America . Smaller companies and agile actually benefited , as successfully initiate shale gas extraction , aka take oil and gas from dense rock .
Oil industry analysts say the oil giant would have difficulty controlling their spending . However , the three large companies that have to maintain the volume of oil supplies mereka.Terlebih again , they should pursue oil exploration competitors in the race world . | ASWJ
Pengeluaran Besar Raja-Raja Minyak
Pengeluaran Besar Raja-Raja Minyak
Chevron, Exxon, dan Royal Dutch Shell menggelontorkan lebih dari $120 miliar pada 2013 untuk meningkatkan produksi minyak dan gas mereka. Pengeluaran ini kira-kira sama dengan ongkos untuk memberangkatkan manusia ke bulan.
Namun pengeluaran ini tidak selaras dengan hasil produksi tiga raksasa minyak itu. Produksi minyak dan gas mereka turun, meski total belanja modal mereka mencapai setengah triliun dolar dalam lima tahun terakhir. Masing-masing perusahaan minggu ini dijadwalkan mengumumkan laporan keuangan mereka untuk 2013. Laba mereka diprediksi turun dibandingkan 2012, meski harga minyak tinggi.
Salah satu masalah terbesarnya: pengeluaran meroket untuk membiayai banyak “megaproyek” anyar. Proyek-proyek ini mencakup penambangan cadangan migas baru guna menggantikan pasokan dari ladang minyak yang telah matang.
Rencana penambangan minyak di sebuah pulau buatan di Laut Kaspia memakan biaya $40 miliar bagi konsorsium Exxon dan Shell, naik dari anggaran awal $10 miliar. Ongkos untuk sebuah proyek gas alam di Australia bernama Gorgon, yang dimiliki bersama oleh ketiga perusahaan, melonjak 45% menjadi $54 miliar. Menurut beberapa sumber, Shell juga mengeluarkan sedikitnya $10 miliar untuk sebuah teknologi yang belum teruji sebelumnya: kapal kilang. Perusahaan itu membangun kilang gas alam di satu kapal besar, sehingga Shell dapat mencari gas di wilayah terpencil.
Eksplorasi tambang migas baru memang berisiko. Perusahaan minyak harus menembus dasar lautan dan pergi ke daerah Afrika, Asia, dan Timur Tengah yang bergejolak. Misi ini sekarang lebih rumit dan lebih mahal. Ladang minyak yang mudah dijangkau telah kering sejak lama. Ladang yang paling produktif kerap dikuasai oleh perusahaan negara, seperti di Arab Saudi dan Venezuela.
Akibatnya, Chevron, Exxon, dan Shell terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Ini membahayakan margin laba mereka yang biasanya dapat diandalkan. Exxon, contohnya, harus meminjam dan mengeluarkan uang lebih banyak demi menambal pengeluaran modal mereka. Perusahaan asal Texas ini pun harus meredam volume pembelian kembali (buyback) saham mereka.
Menurut Exxon, pengeluaran untuk ladang minyak baru bisa mencapai sekitar $41 miliar tahun lalu, naik 51% dari $27,1 milyar pada 2009.
Selagi menerapkan strategi berisiko dengan memburu ladang migas besar, tiga raksasa minyak tersebut ketinggalan tren minyak dan gas serpih di Amerika Utara. Perusahaan yang lebih kecil dan gesit justru diuntungkan, karena berhasil memprakarsai penambangan gas serpih, alias mengambil minyak dan gas dari batuan padat.
Pengamat industri minyak mengatakan raksasa minyak bakal kesulitan mengontrol pengeluaran mereka. Bagaimanapun, ketiga perusahaan besar itu harus mempertahankan volume pasokan minyak mereka.Terlebih lagi, mereka harus mengejar pesaingnya dalam lomba eksplorasi minyak dunia.|ASWJ
Subscribe to:
Posts (Atom)









