![]() |
| Joko widodo dan Obama |
Indonesia di antara Cina dan AS
Presiden AS Barack Obama memuji peranan Indonesia di Asia
Tenggara.
Kehadiran Presiden Joko Widodo dalam forum Kerja Sama
Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Beijing, yang merupakan kiprah pertamanya dalam
sebuah forum internasional, mendapat sambutan dari berbagai pemimpin negara.
Namun, di tengah euforia tersebut, ada tantangan besar yang diemban Presiden
Jokowi.
Sejak tiba di ibu kota Cina, Beijing, pada Sabtu 8
November lalu, Presiden Jokowi telah menghadiri berbagai acara, termasuk
bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Dalam pertemuan itu, Obama mengaku Indonesia memainkan
peranan penting di kawasan Asia Tenggara.
“Sebagai pemimpin dalam Asean, Indonesia memainkan
peranan penting dalam kawasan ini, dan memimpin dalam berbagai hal termasuk
keamanan maritim,” kata Obama.
Namun, lepas dari poros maritim, isu lainnya yang
mengemuka dalam pertemuan APEC kali ini ialah poros perdagangan bebas.
Amerika Serikat tengah membentuk Trans-Pasific
Partnership yang melibatkan 12 negara yang antara lain meliputi Jepang,
Australia, Brunei, Cile, Malaysia, Vietnam, dan Singapura tanpa kehadiran Cina.
Di sisi lain, Cina sedang mencari sokongan untuk
mewujudkan Area Perdagangan Bebas Asia Pasifik atau FTAAP tanpa memasukkan
Amerika Serikat.
Berpihak
Fithra Faisal, staf pengajar perdagangan internasional
Universitas Indonesia, berpendapat Indonesia mungkin akan condong berpihak ke
Cina dan Jepang.
“Bisa kita lihat menteri-menteri dalam tim ekonomi
pemerintahan Presiden Joko Widodo sangat dekat dengan Jepang dan Cina. Meski
demikian, Indonesia tidak mesti mengikuti FTAAP atau TPP. Kita bisa memperkuat,
misalnya, ASEAN +3,” kata Fithra kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Sementara itu, analis lainnya memandang Indonesia harus
memainkan diplomasi yang cantik agar tidak tampak berpihak ke salah satu kubu.
“Indonesia harus bisa memainkan diplomasi yang cantik.
Indonesia tentu tidak mau merugikan kepentingan nasionalnya dengan
menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak yang lain mengingat
Indonesia bersahabat baik dengan keduanya. Dengan demikian, Indonesia harus
mencari jalan tengah. Lagipula, di kawasan Asia Pasifik, ada forum yang
melibatkan baik Cina maupun AS,” kata peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Ganewati Wuryandari.
Walau Trans-Pasific Partnership dan FTAAP masih belum
diterapkan, Indonesia akan menjalani perdagangan bebas di kawasan ASEAN dalam
wujud Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 mendatang. (BBC)

No comments:
Post a Comment