![]() |
| RS Esnawan Antariksa |
Perjalanan yang belum selesai (152)
(Bagian ke seratus lima puluh dua, Depok, Jawa Barat,
Indonesia, 16 Nonember 2014, 10.33 WIB)
Setelah satu bulan menggunakan doubelement di leher
semacam alat di leher untuk memudahkan jarum suntik melakukan cuci darah (hemo
dialysis) di Rumah Sakit milik Angkatan Udara Rumah Sakit dr Esnawan Antariksa,
Halim Perdana Kusuma, maka dokter penyakit dalam dr Widodo memberikan
rekomendasi agar saya dipasangkan semino ditangan agar proses cuci darah lebih
mudah dan nyaman.
Saya direkomendasikan pasang semino dengan dr Tomy doker
ahli bedah di di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang,
Jakarta, Timur.
Kemudian hari Kamis lalu diantar istri saya, saya
mendaftar ke Poli bedah UKI, untuk memasang Semino, lalu saya diterima dr
Agung, dan kata Dokter Agung saya akan ditindak oleh dr Stanley hari Jumat jam
1.00 siang.
Kemudian hari Kamis dr Joice datang ke kamar saya di
kelas III B yang member tahu saya bahwa operasi pasang semino ditunda hari
Sabtu siang jam 12,00 WIB oleh dr tomy, sesuai rekomendasi dr Widodo.
Walaupun saya peserta asuransi JPPS Kelas satu, tapi
karena kelas satu dan kelas dua penuh saya kebagian kelas III B.
Di satu ruangan, sebelah kanan saya ada seorang bapak
warga cawing, Jakarta Timur usia sekitar 80 tahun yang dirawat akibat stroke.
Di depan tempat tidur saya seorang Bapak Di Rawat, akibat
kecelakaan jalan raya, dia menggunakan sepeda motor ditabrak pengendara lain.
Di sebelah kiri saya seorang Bapak, usia 63 tahun, warga
depok, yang menanti ingin pasang doubblelement di leher untuk cuci darah.
Bapak warga depok ini sebenarnya sudah memasang semino di
tangan, namun rusak akibat kecerobohan perawat yang menusuk jahitan semino yang
belum siap digunakan, sehingga semino rusak, sehingga bapak ini harus melakukan
standar awal cuci darah memasang doublelement di leher.
Bapak ini bercerita dia menderita gagal ginjal, karena
operasi laser mengeluarkan batu di ginjal setahun lalu. Walaupun sudah
menghabiskan dana Rp 100 juta untuk operasi laser batu ginjal, tapi akibatnya
ginjalnya rusak dan kini dia harus cuci darah seminggu dua kali.
Pasien di depan tempat tidur saya , seorang Bapak , 57
tahun, ingin operasi Hernia, yang ditunggui istrinya, 42 tahun.
Ibu warga Bogor punya dua akak, pertama 3 tahun , kedua 1
½ tahun yang masih menyusui. Tidak heran sambil menunungui suaminya di ruangan,
dia mondar mandir ke luar ruangan untuk sesekali menyusui anaknya yang di
tunggui adik kandungnya di depan rumah sakit.
Namun tragisnya, Keluarha warga bogor ini belum memiliki
kartu asuransi Kesehatanan JPPS, sehingga harus membawa pulang suaminya karena
kekurangan dana biaya operasi.
Semula, kata Ibu yang suaminya selalu cekukan sudah dua
hari dua malam tanpa henti ini, rumah sakit meminta biaya opersi Rp 30 juta.
Namun Ibu ini menawar hingga Rumah sakit setuju pembayaran hanya Rp 7,5 juta.
Namun menjelang operasi biaya naik lagi menjadi Rp 14 juta, yang kata Rumah
Sakit terjadi salah informasi.
Karena tidak memiliki dana cukup, akhirnya Ibu ini
membatalkan operasi dan membawa pulang suami ke bogor, dalam keadaan masih
menderita sakit. Kami sekeluarga hanya bisa menyarankan pada ibu ini agar
segera diurus menftar menjadi peserta asuransi kesehatan JPPS.

No comments:
Post a Comment