![]() |
| Sumarti Ningsih |
Dua TKI Dibunuh bankir Inggris di Hong Kong
Tiap Bulan, Sumarti Kirim Sekitar Rp 3,5 Juta dari
Hongkong untuk Keluarga
CILACAP, KOMPAS.com - Sumarti Ningsih, warga negara
Indonesia (WNI) yang dibunuh di Hongkong, adalah tulang punggung keluarganya di
Cilacap Jawa Tengah. Ibunda Sumarti Ningsih, Suratmi (49), mengatakan, setiap
bulan, Sumarti selalu mengirimkan uang untuk keluarganya di Desa Gandrungmangu,
Cilacap.
Selain itu, lanjut Suratmi, putrinya itu juga sering
mengirimkan mainan dari Hongkong kepada anak semata wayangnya, MKA (5). Sebelum
dibunuh, Januari 2014 silam, Sumarti mengirimkan mobil-mobilan remote control
kepada anaknya tersebut. Hingga kini, MKA senang bermain mobil remote itu
bersama teman sebayanya di kampung.
"Sumarti terakhir kali membelikan mainan mobil
remote ini kepada anaknya pada awal tahun 2014 lalu. Mainan ini dikirim
langsung dari Hongkong," ujar Suratmi di kediamannya, Rabu (5/11/2014).
Setiap bulan, Sumarti biasanya mengirimkan sekitar Rp 2
juta hingga Rp 3,5 juta per bulan.
"Biasanya, Sumarti begitu telah kirim uang, dia
selalu mengabari saya. Bisa lewat telepon ataupun SMS," kata dia.
Selama kurang lebih 3,5 tahun bekerja di Hongkong,
Sumarti juga sempat membelikan 2 unit sepeda motor dan sebidang tanah kepada
keluarganya di Cilacap. Satu motor Honda Supra diberikan Sumarti kepada
adiknya, Muhamad Rohmat, untuk bersekolah, sedangkan motor Suzuki Smash yang
satu diberikan kepada ayahnya, Achmad Kaliman, untuk menjalankan aktivitasnya
sebagai petani.
Kemudian, Sumarti membelikan sebidang tanah kepada kedua
orang tuanya seluas 60 ubin. Tanah tersebut berada di Desa Kedungreja, tidak
jauh dari desa tempat tinggal kedua orang tuanya di Cilacap.
Menurut Sumarti, luas tanah yang dibelikan adalah 60 ubin
atau kira-kira sama dengan 210 meter persegi.
"Setelah memberikan tanah ini kepada keluarga pada
tahun 2013 lalu, Sumarti pernah bilang kepada saya, tanah ini untuk jaga-jaga
kebutuhan sekolah putra satu-satunya besar nanti," ujar dia seraya
menirukan pesan Sumarti pada saat itu.
Tabungan Rp 181 juta
Selain itu, Suratmi juga bercerita bahwa sebelum
berangkat ke Hongkong terakhir kali, anaknya sempat menitipkan buku tabungan
Bank BNI kepadanya.
"Awal bulan Agustus 2014 lalu, sebelum berangkat ke
Hongkong, Sumarti menitipkan buku rekening tabungan ini kepada saya. Dan bilang
kalau ada waktu luang, dia meminta saya untuk nge-print di Bank BNI, katanya
untuk mengetahui berapa uang yang tersimpan di dalamnya," ujar Suratmi.
Suratmi menjelaskan, rekening tabungan di Bank BNI itu
adalah tabungan milik Sumarti pribadi. Karena, saat itu Sumarti hanya bilang
menitipkan buku rekening tabungan supaya disimpan di rumah.
"Saya baru coba cek tabungan rekening di Bank BNI
Cilacap, bulan Oktober 2014 lalu, saya baru tahu kalau tabungan yang tersimpan
sebesar Rp 181 juta," kata dia.
Saat disinggung uang tabungan milik pribadi Sumarti,
sebesar Rp 181 juta, kata dia, uang itu rencananya akan digunakan untuk
merenovasi rumahnya di Cilacap.
"Ya memang, saat mau berangkat dulu, Sumarti pernah
bercerita kalau dia sudah mempunyai uang tabungan untuk merenovasi rumah ini.
Tapi saat itu saya bilang, jangan direnovasi dulu sebab dia belum memiliki
suami," papar dia.
Kerja di restoran
Selama bekerja di Hongkong, lanjut dia, Sumarti kerap
kali bercerita kepada keluarganya baik melalui HP ataupun saat pulang ke rumah,
jika kehidupan dia di Hongkong sangat biasa dan sederhana.
Kepada keluarga, Sumarti mengaku hidup hemat dan tidak
suka jalan-jalan yang nantinya akan menghabiskan uang dari hasil jerih payahnya
selama bekerja di sana.
"Saat berkomunikasi lewat HP, Sumarti selalu bilang,
saya di sini (Hongkong) bekerja di restoran dan hasil dari bekerja selalu
ditabung di Bank untuk simpanan kebutuhan disana (Cilacap)," jelas dia.
tim Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulawesi Tenggara telah
mengambil sampel deoxyribose nucleic acid (DNA) kedua orangtua Seneng Mujiasih
alias Jesse Lorena (28), warga negara Indonesia yang menjadi korban pembunuhan
di Hongkong.
Pengambilan sampel tersebut dilakukan untuk menguji
kecocokan DNA Seneng dengan Mujiharjo dan Jumineng, kedua orangtuanya.
"Sesuai standar DVI dan Interpol, hari ini kami mengambil sampel DNA
pembanding," papar Ridho dari tim pemeriksa Dit Dokkes Polda Sultra, Rabu
(5/11/2014) di Polres Muna.
"Sampel DNA inti kan sudah diambil dari korban, maka
kami mengambil data sampel pembanding dari kedua orangtua korban," lanjut
Ridho. Ada dua sampel yang diambil, imbuh dia, yaitu sampel dari epitel muklosa
dan darah.
Ridho menjelaskan, sampel DNA pembanding ini nantinya
akan dibawa ke Pusdokkes Mabes Polri untuk dilakukan pemeriksaan dan dicocokkan
dengan sampel DNA Seneng. "Apabila hasilnya menunjukan kecocokan dengan
sampel DNA korban, maka bisa identifikasi bahwa yang bersangkutan memang benar
anak ayah dan ibu (ini)," ujar Ridho.
Hasil pengujian DNA tersebut, kata Ridho, akan tergantung
pada pemeriksaan bertahap yang dilakukan oleh Pusdokkes Mabes Polri. "Kami
rencanakan besok pagi (Kamis, 6/11/2014) sudah kirim secepatnya ke Pusdokkes
Mabes Polri."
Semula pengambilan sampel pembanding dari Mujiharjo dan
Juming akan dilakukan pada Jumat (7/11/2014), tetapi kemudian dipercepat.
Seperti diberitakan sebelumnya, Seneng diduga merupakan satu dari dua perempuan
yang menjadi korban pembunuhan di Hongkong. Adapun satu korban lain diduga adalah
Sumarti Ningsih, warga Cilacap, Jawa Tengah.
TKI Hongkong Berdoa Bersama untuk Sumarti dan Seneng
HONGKONG, KOMPAS.com - Sekitar 200 tenaga kerja Indonesia
(TKI) menggelar doa bersama di Hongkong, Minggu (9/11/2014), untuk dua teman
mereka, Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih, yang tewas di tangan seorang warga
negara Inggris.
Pada acara yang digelar di jatung kota Hongkong, Victoria
Park, para TKI membacakan pesan-pesan dari keluarga dan teman-teman korban.
Mereka juga mengumpulkan dana untuk dikirim ke keluarga Sumarti dan Seneng.
"Saya berharap pembunuhnya dihukum dan merasakan
penderitaan yang dialami sepupu saya," kata Jumiati, yang mengaku sepupu
Sumarti. Rekan-rekannya tampak berlinang air mata mendengar pernyataan itu.
"Saya sangat terpukul. Sampai sekarang, saya masih
tidak percaya salah satu korban adalah sepupu saya," tutur Jumiati kepada
wartawan, setelah acara usai.
WN Inggris, Rurik Jutting, didakwa membunuh kedua TKI.
Seperti diberitakan, jenazah keduanya ditemukan di apartemen Jutting. Satu di
antaranya bahkan sudah membusuk.
Baik Sumarti maupun Seneng diketahui berkerja sebagai
pembantu rumah tangga di Hongkong.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan, Konsulat
Jenderal RI di Hongkong akan terus mengawal proses persidangan kasus dugaan
pembunuhan dua warga negara Indonesia (WNI) di Hongkong. Ratna ingin memastikan
adanya perlindungan maksimal bagi hak warga negara Indonesia di luar negeri.
"Tim kami melakukan komunikasi dengan otoritas
setempat dan terus ke depan. Di persidangan nanti, tim Konjen RI di Hongkong
akan terus mengawal kasus ini sehingga tidak ada satu pun hak warga negara kita
yang terkurangi," kata Ratna di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa
(4/11/2014).
Menurut Ratna, persidangan kasus pembunuhan dua wanita
WNI tersebut akan kembali digelar pada 10 November mendatang. Persidangan 10
November nanti merupakan sidang yang kedua kalinya.
Dalam persidangan pertama, (3/11/2014), dibacakan surat
dakwaan terhadap bankir Inggris, Rurik Jutting, yang diduga membunuh dua WNI di
Hongkong tersebut. Ratna mengatakan, rekonstruksi atau reka ulang peristiwa
pembunuhan akan dilakukan pada 7 November nanti.
Ia juga menyatakan bahwa dua wanita yang terbunuh di
Hongkong adalah warga negara Indonesia. Keduanya adalah Jesse Lorena alias
Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih. Selain mengawal proses persidangan, tim
Kemenlu telah berkoordinasi dengan keluarga korban terkait proses pemulangan
jenazah.
Sebelumnya diberitakan, Jesse Lorena alias Seneng
Mujiasih dan Sumarti Ningsih, perempuan asal Cilacap, diduga dibunuh oleh
bankir Inggris, Rurik Jutting, di Hongkong. Jasad keduanya ditemukan di apartemen
milik pelaku, Sabtu (1/11/2014).

No comments:
Post a Comment