!-- Javascript Ad Tag: 6454 -->

Sunday, November 9, 2014

Dua TKI Dibunuh bankir Inggris di Hong Kong

Sumarti Ningsih
Dua TKI Dibunuh bankir Inggris di Hong Kong


Tiap Bulan, Sumarti Kirim Sekitar Rp 3,5 Juta dari Hongkong untuk Keluarga

CILACAP, KOMPAS.com - Sumarti Ningsih, warga negara Indonesia (WNI) yang dibunuh di Hongkong, adalah tulang punggung keluarganya di Cilacap Jawa Tengah. Ibunda Sumarti Ningsih, Suratmi (49), mengatakan, setiap bulan, Sumarti selalu mengirimkan uang untuk keluarganya di Desa Gandrungmangu, Cilacap.

Selain itu, lanjut Suratmi, putrinya itu juga sering mengirimkan mainan dari Hongkong kepada anak semata wayangnya, MKA (5). Sebelum dibunuh, Januari 2014 silam, Sumarti mengirimkan mobil-mobilan remote control kepada anaknya tersebut. Hingga kini, MKA senang bermain mobil remote itu bersama teman sebayanya di kampung.

"Sumarti terakhir kali membelikan mainan mobil remote ini kepada anaknya pada awal tahun 2014 lalu. Mainan ini dikirim langsung dari Hongkong," ujar Suratmi di kediamannya, Rabu (5/11/2014).

Setiap bulan, Sumarti biasanya mengirimkan sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta per bulan. 

"Biasanya, Sumarti begitu telah kirim uang, dia selalu mengabari saya. Bisa lewat telepon ataupun SMS," kata dia.

Selama kurang lebih 3,5 tahun bekerja di Hongkong, Sumarti juga sempat membelikan 2 unit sepeda motor dan sebidang tanah kepada keluarganya di Cilacap. Satu motor Honda Supra diberikan Sumarti kepada adiknya, Muhamad Rohmat, untuk bersekolah, sedangkan motor Suzuki Smash yang satu diberikan kepada ayahnya, Achmad Kaliman, untuk menjalankan aktivitasnya sebagai petani.

Kemudian, Sumarti membelikan sebidang tanah kepada kedua orang tuanya seluas 60 ubin. Tanah tersebut berada di Desa Kedungreja, tidak jauh dari desa tempat tinggal kedua orang tuanya di Cilacap.

Menurut Sumarti, luas tanah yang dibelikan adalah 60 ubin atau kira-kira sama dengan 210 meter persegi.

"Setelah memberikan tanah ini kepada keluarga pada tahun 2013 lalu, Sumarti pernah bilang kepada saya, tanah ini untuk jaga-jaga kebutuhan sekolah putra satu-satunya besar nanti," ujar dia seraya menirukan pesan Sumarti pada saat itu.

Tabungan Rp 181 juta

Selain itu, Suratmi juga bercerita bahwa sebelum berangkat ke Hongkong terakhir kali, anaknya sempat menitipkan buku tabungan Bank BNI kepadanya.

"Awal bulan Agustus 2014 lalu, sebelum berangkat ke Hongkong, Sumarti menitipkan buku rekening tabungan ini kepada saya. Dan bilang kalau ada waktu luang, dia meminta saya untuk nge-print di Bank BNI, katanya untuk mengetahui berapa uang yang tersimpan di dalamnya," ujar Suratmi.

Suratmi menjelaskan, rekening tabungan di Bank BNI itu adalah tabungan milik Sumarti pribadi. Karena, saat itu Sumarti hanya bilang menitipkan buku rekening tabungan supaya disimpan di rumah.

"Saya baru coba cek tabungan rekening di Bank BNI Cilacap, bulan Oktober 2014 lalu, saya baru tahu kalau tabungan yang tersimpan sebesar Rp 181 juta," kata dia.

Saat disinggung uang tabungan milik pribadi Sumarti, sebesar Rp 181 juta, kata dia, uang itu rencananya akan digunakan untuk merenovasi rumahnya di Cilacap.

"Ya memang, saat mau berangkat dulu, Sumarti pernah bercerita kalau dia sudah mempunyai uang tabungan untuk merenovasi rumah ini. Tapi saat itu saya bilang, jangan direnovasi dulu sebab dia belum memiliki suami," papar dia.

Kerja di restoran

Selama bekerja di Hongkong, lanjut dia, Sumarti kerap kali bercerita kepada keluarganya baik melalui HP ataupun saat pulang ke rumah, jika kehidupan dia di Hongkong sangat biasa dan sederhana.

Kepada keluarga, Sumarti mengaku hidup hemat dan tidak suka jalan-jalan yang nantinya akan menghabiskan uang dari hasil jerih payahnya selama bekerja di sana.

"Saat berkomunikasi lewat HP, Sumarti selalu bilang, saya di sini (Hongkong) bekerja di restoran dan hasil dari bekerja selalu ditabung di Bank untuk simpanan kebutuhan disana (Cilacap)," jelas dia.

tim Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulawesi Tenggara telah mengambil sampel deoxyribose nucleic acid (DNA) kedua orangtua Seneng Mujiasih alias Jesse Lorena (28), warga negara Indonesia yang menjadi korban pembunuhan di Hongkong.

Pengambilan sampel tersebut dilakukan untuk menguji kecocokan DNA Seneng dengan Mujiharjo dan Jumineng, kedua orangtuanya. "Sesuai standar DVI dan Interpol, hari ini kami mengambil sampel DNA pembanding," papar Ridho dari tim pemeriksa Dit Dokkes Polda Sultra, Rabu (5/11/2014) di Polres Muna.

"Sampel DNA inti kan sudah diambil dari korban, maka kami mengambil data sampel pembanding dari kedua orangtua korban," lanjut Ridho. Ada dua sampel yang diambil, imbuh dia, yaitu sampel dari epitel muklosa dan darah.

Ridho menjelaskan, sampel DNA pembanding ini nantinya akan dibawa ke Pusdokkes Mabes Polri untuk dilakukan pemeriksaan dan dicocokkan dengan sampel DNA Seneng. "Apabila hasilnya menunjukan kecocokan dengan sampel DNA korban, maka bisa identifikasi bahwa yang bersangkutan memang benar anak ayah dan ibu (ini)," ujar Ridho.

Hasil pengujian DNA tersebut, kata Ridho, akan tergantung pada pemeriksaan bertahap yang dilakukan oleh Pusdokkes Mabes Polri. "Kami rencanakan besok pagi (Kamis, 6/11/2014) sudah kirim secepatnya ke Pusdokkes Mabes Polri."

Semula pengambilan sampel pembanding dari Mujiharjo dan Juming akan dilakukan pada Jumat (7/11/2014), tetapi kemudian dipercepat. Seperti diberitakan sebelumnya, Seneng diduga merupakan satu dari dua perempuan yang menjadi korban pembunuhan di Hongkong. Adapun satu korban lain diduga adalah Sumarti Ningsih, warga Cilacap, Jawa Tengah.

TKI Hongkong Berdoa Bersama untuk Sumarti dan Seneng

HONGKONG, KOMPAS.com - Sekitar 200 tenaga kerja Indonesia (TKI) menggelar doa bersama di Hongkong, Minggu (9/11/2014), untuk dua teman mereka, Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih, yang tewas di tangan seorang warga negara Inggris.

Pada acara yang digelar di jatung kota Hongkong, Victoria Park, para TKI membacakan pesan-pesan dari keluarga dan teman-teman korban. Mereka juga mengumpulkan dana untuk dikirim ke keluarga Sumarti dan Seneng.

"Saya berharap pembunuhnya dihukum dan merasakan penderitaan yang dialami sepupu saya," kata Jumiati, yang mengaku sepupu Sumarti. Rekan-rekannya tampak berlinang air mata mendengar pernyataan itu.

"Saya sangat terpukul. Sampai sekarang, saya masih tidak percaya salah satu korban adalah sepupu saya," tutur Jumiati kepada wartawan, setelah acara usai.

WN Inggris, Rurik Jutting, didakwa membunuh kedua TKI. Seperti diberitakan, jenazah keduanya ditemukan di apartemen Jutting. Satu di antaranya bahkan sudah membusuk.

Baik Sumarti maupun Seneng diketahui berkerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan, Konsulat Jenderal RI di Hongkong akan terus mengawal proses persidangan kasus dugaan pembunuhan dua warga negara Indonesia (WNI) di Hongkong. Ratna ingin memastikan adanya perlindungan maksimal bagi hak warga negara Indonesia di luar negeri.

"Tim kami melakukan komunikasi dengan otoritas setempat dan terus ke depan. Di persidangan nanti, tim Konjen RI di Hongkong akan terus mengawal kasus ini sehingga tidak ada satu pun hak warga negara kita yang terkurangi," kata Ratna di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (4/11/2014).

Menurut Ratna, persidangan kasus pembunuhan dua wanita WNI tersebut akan kembali digelar pada 10 November mendatang. Persidangan 10 November nanti merupakan sidang yang kedua kalinya.

Dalam persidangan pertama, (3/11/2014), dibacakan surat dakwaan terhadap bankir Inggris, Rurik Jutting, yang diduga membunuh dua WNI di Hongkong tersebut. Ratna mengatakan, rekonstruksi atau reka ulang peristiwa pembunuhan akan dilakukan pada 7 November nanti.

Ia juga menyatakan bahwa dua wanita yang terbunuh di Hongkong adalah warga negara Indonesia. Keduanya adalah Jesse Lorena alias Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih. Selain mengawal proses persidangan, tim Kemenlu telah berkoordinasi dengan keluarga korban terkait proses pemulangan jenazah.


Sebelumnya diberitakan, Jesse Lorena alias Seneng Mujiasih dan Sumarti Ningsih, perempuan asal Cilacap, diduga dibunuh oleh bankir Inggris, Rurik Jutting, di Hongkong. Jasad keduanya ditemukan di apartemen milik pelaku, Sabtu (1/11/2014).

No comments:

Post a Comment